Saya harus berterus terang, sering kali naluri pembaca saya lekas apatis terhadap fiksi yang diterbitkan di koran-koran Minggu. Saya menyaksikan adanya semacam pakta laten yang menuntut narasi domestik selalu berwatak utilitarian dan transparan, seolah-olah kedalaman harus disingkirkan demi keterbacaan yang instan. Bukankah ini penyusutan hakiki atas fungsi sastra? Bukankah seharusnya sastra menawarkan kontemplasi yang kompleks? Saya mulai meragukan potensi transenden fiksi di ruang publik.
Saya yakin, esensi sejati sastra muncul justru ketika ia enggan diakses secara verbal yang datar. Ia harus memilih idiom yang memberatkan, yang menuntut pembaca untuk melakukan dekonstruksi berulang-ulang.
Di tengah lanskap yang nirgema ini, cerpen “Ramuan Misterius Nyi Hindun” karya Chudori Sukra, tiba-tiba menangkap atensi saya. Saya melihat di dalamnya bukan sekadar narasi janda pemilik warung, melainkan sebuah episentrum ironi yang merobek kain moralitas. Ini adalah karya yang berani bertanya, “Bagaimana nasib eksistensi seorang perempuan ketika hakikat keberadaannya (ontologis) dibatasi oleh kode etik (kesalehan) yang purba?”
Di sana, saya menemukan sebuah simulakra yang menggoda, Nyi Hindun, seorang kapitalis mandiri dengan ekuitas material yang mumpuni, justru terpaksa mengambil jalur metafisik. Saya harus katakan, ini adalah pertaruhan tragis seorang subjek yang ditolak haknya untuk mengada melalui jalur konvensional. Ia memilih Ramuan Ontologi Terlarang, sebuah tindakan yang secara kosmis menantang dekret sosial.
Saya melihat Nyi Hindun sebagai arena pergulatan yang menyergap, antara otonomi ekonomi yang ia raih dengan keringat dan subordinasi struktural yang diwajibkan oleh tirani patriarki. Ini adalah konflik hakikat yang sunyi, dan saya tidak bisa membiarkannya berlalu tanpa membongkar setiap lapis terminologisnya.
Coba saya telaah lagi. Nyi Hindun bukan hanya entitas yang didefinisikan oleh enam puluh juta rupiah di buku tabungan, saya memandang dia sebagai subjek yang mengalami retardasi eksistensial. Ia sudah mengada melalui etos kerja yang solid, tetapi eksistensi transendennya sebagai perempuan yang didorong oleh libido masih harus meminta legitimasi dari konstruksi sosial yang dogmatis. Saya harus akui, ini adalah kemalangan yang dialami oleh subjek perempuan paruh baya dalam sistem yang sangat patriarkal.
Saya harus menyoroti ironi materialis ini, sungguh menggelitik, uang Nyi Hindun, yang seharusnya menjadi ritusnya menuju kebebasan, justru menjelma beban kontradiksi eksistensial. Uangnya tak mampu membeli perizinan diskursif untuk berhasrat. Nyi Hindun terperangkap dalam paradoks salehah, ia harus mempertahankan citra kebaikan, namun citra ini mengisolasi dorongan libidonya. Hasratnya untuk memberikan satai bandeng, sebuah ritus pemuliaan rasa, tertunda hanya karena takut dicap “lancung” atau “melampaui diktum-kewajaran”.
Inilah inti dari kritik feminisme yang saya baca, perjuangan Nyi Hindun adalah perjuangan untuk membebaskan diri dari semantik label yang picik. Saya melihat Nyi Hindun tanpa sadar menginternalisasi logika terbalik patriarki yang begitu mapan, nilai perempuan hanya valid jika ia bertindak sebagai suplemen bagi defisit laki-laki. Ritus uang Nyi Hindun, yang seharusnya menjadi tiketnya mengada sebagai subjek bebas, ternyata kalah di hadapan ritual kepatuhan pada dikotomi usia-kecantikan. Saya berani bertaruh, ia terjebak dalam kapitalisme hasrat, di mana komoditasnya (aset) tidak dapat ditransaksikan setara dengan komoditas Tohir (visualisasi dan potensi genetik).
Ketika jalur diskursif dan etik terblokir, Nyi Hindun, dalam fase eksperimentasinya, beralih pada sublimasi yang paling gelap: transaksi metafisik. Ia memilih bahasa mistik, sebuah idiolektus yang tak perlu dimediasi oleh akal sehat. Saya menilai, keputusan ini adalah pengakuan atas kegagalan akal sehat ketika berhadapan dengan dogma sosial.
Tindakan Nyi Hindun meramu obat dan mengganti baju adalah manipulasi teatrikal yang patut saya amati. Saya melihat ia tak lagi berupaya menjadi diri yang punya otonomi. Ia memilih menjadi artefak visual yang dimanipulasi dengan melakukan auto-objektifikasi demi memuaskan fetisisme pandangan laki-laki. Tujuannya adalah menjadi “cantik dan gemoy”, sebuah diksi yang menunjuk pada hasrat dangkal, hasrat yang tak lagi menuntut dialog transenden.
Penggunaan ramuan misterius yang diselundupkan adalah pelanggaran ontologis yang fatal, bukan main. Ini adalah perampasan kehendak bebas, sebuah langkah yang secara etis justru melucuti identitas “salehah” yang selama ini ia agungkan. Saya membacanya sebagai ritual keputusasaan, ia yakin bahwa modal fisik dan modal finansialnya tidak cukup, sehingga ia harus menggunakan kekuatan suprarasional untuk mengisi defisitnya di pasar hasrat yang eksklusif. Saya rasa, perjuangan Nyi Hindun berakhir pada titik yang absurd: menggunakan sarana nonetis karena sarana etis dilarang oleh struktur.
Puncak dari kegagalan perjuangan Nyi Hindun adalah ketika hasratnya termanifestasi secara mimesis pada kuda poni. Ramuan itu tidak memantik komunikasi transenden, tetapi biologis primitif, yang akhirnya menjadi katalis bencana.
Konsekuensi datang dalam wujud personifikasi otoritas patriarki, Pak Prabono. Kehadirannya adalah dekret sosial yang menjatuhkan hukuman. Ia tidak hanya marah atas kerusakan propertinya; ia melancarkan serangan ad hominem terhadap eksistensi transenden Nyi Hindun, “Kamu inilah biang keroknya, dasar perempuan tua bangka!” Otoritas politik dan kapital, yang diwakili oleh Pak Prabono, mengembalikan Nyi Hindun ke dalam paradigma kepatuhan.
Reaksi Nyi Hindun yang muntah-muntah, menanggalkan gaun teaterikalnya, dan membuang ramuan proyek hasratnya merupakan destruksi eksistensial yang menyakitkan. Ia dipaksa kembali pada “baju terusan yang biasa dikenakannya,” sebuah simbol regresif, kembalinya ia pada peran yang pasif, tanpa hasrat, dan tanpa ancaman bagi tatanan sosial yang baku. Saya menyimpulkan bahwa perjuangannya berakhir dengan kekalahan telak, di mana kode etik patriarki berhasil memadamkan upaya seorang perempuan untuk mengada menjadi subjek hasrat.
Ketika saya menarik benang merah dari dapur Nyi Hindun menuju realitas kontemporer, saya melihat bayangan kegagalan ini terefleksi dalam skala yang eksponensial di era hegemoni estetika digital. Di masa kini, perempuan, terutama yang matang dan mapan, tetap dibebani oleh tirani citra yang tak terlihat. Kegagalan Nyi Hindun untuk mendekati Tohir secara diskursif yang jujur dapat saya paralelkan dengan tekanan yang dialami perempuan karier untuk terus-menerus memvalidasi ontologi mereka melalui penampilan.
Saya berpendapat, ramuan mistis Nyi Hindun hari ini telah bertransformasi menjadi modal kultural yang dieksploitasi habis-habisan, operasi plastik, filter media sosial, atau anti-aging regimen yang mahal. Tujuannya tetap sama, melawan usia biologis agar ekuitas dan kapital yang dimiliki tidak mengalami defisit di hadapan pasar visual yang diatur oleh standar laki-laki. Bahkan, perempuan yang berhasil mencapai puncak karier pun, sering kali saya lihat masih merasa wajib untuk “cantik dan gemoy” demi menyeimbangkan kekuatan profesional mereka. Ini adalah bukti bahwa subordinasi struktural tidak hilang, ia hanya berganti medium dari dukun ke influencer.
Saya harus katakan bahwa cerpen ini adalah karya yang gelap. Ia bukan sekadar intermezzo, melainkan tuntutan kepada pembaca untuk melakukan dekonstruksi berulang-ulang. Saya melihat cerpen ini bicara lantang mengenai paradoks fatal seorang perempuan yang telah mencapai kemerdekaan ekonomi, tetapi hasratnya harus disalurkan melalui jalur mistik, sebab ritus salehah telah menghapus haknya untuk mengada sebagai subjek bebas, sebagaimana didefinisikan oleh Simone de Beauvoir. Cerpen ini adalah luka yang menganga, yang setiap kali saya baca ulang, akan terasa semakin perih, sungguh.
Saya percaya, di sinilah kekuatan Chudori Sukra, ia menggunakan narasi yang tampak remeh (warung nasi dan ramuan) untuk membongkar kode etik yang mengisolasi perempuan, terutama yang sudah mencapai kematangan finansial. Kritik yang saya buat ini adalah ajakan untuk menyadari bahwa perjuangan feminisme tidak selalu berada di ranah politik terbuka, tetapi juga di dapur sunyi seorang janda yang mencoba membeli cinta dengan modal yang keliru. Bagaimana masyarakat menekan hasrat perempuan paruh baya hingga ke titik di mana mereka harus menjadi munafik (tampak salehah di luar, manipulatif di dalam) demi mendapatkan validasi romantis.
Faoziah Mustofa adalah mahasiswi jurusan Pendidikan bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mataram. Penyunting dan penerbit buku Antologi NTB, aktif di komunitas Aksara Mentari.
Editor: Putri Tariza
Foto: Putri Tariza



