Lingkar Kala
Esai Budaya

Lingkar Kala

Tatkala ribuan kembang api menerangi langit malam pengujung Desember dan riuh terompet bergema di udara, saat itu pula doa dan harapan baru dipanjatkan. Orang-orang berpesta sampai pagi, menyambut sebuah awal yang baru. Sebab, pada momen itu yang berganti tak hanya angka di kalender, tapi juga alam semesta.

Berbagai negara di dunia merayakan malam pergantian tahun. Semasa sekolah, saya suka menonton siaran televisi perihal selebrasi tahun baru di berbagai negara—di kampung saya tidak ada agenda seperti itu. Berjuang menahan kantuk hingga tengah malam tak jadi soal. Dari layar kaca, saya mengagumi pola dan warna-warni kembang api yang menyala di langit kelam Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan negara-negara lain di dunia.

Akan tetapi, momen tahun baru tak cuma ramai dirayakan. Di negeri ini, ia juga acap dihujat. Beberapa kalangan mengharamkannya lantaran tak sesuai ajaran sang Nabi dan tahun baru di akhir penanggalan Masehi bukanlah hitungan kalender mereka—belum lagi selebrasi yang acap identik dengan hura-hura. Walau begitu, dalam tradisi mana pun, peringatan akan awal dan akhir waktu tetap dilakukan dan pesta digelar dalam wujudnya sendiri-sendiri.

Gulir roda zaman rupanya tak sepenuhnya membebaskan diri manusia modern dari kebiasaan kuno nenek moyang. Dari langit gelap Babilonia sampai angkasa gemerlap Britania Raya, orang-orang masih memperingati transisi satu periode masa sebagai akhir sekaligus mula yang baru—selamat tinggal kehidupan lama, selamat datang kehidupan baru.

Mircea Eliade, sejarawan agama dan mitos asal Rumania, memandang fenomena kultural macam itu sebagai upaya manusia meregenerasi waktu. Dalam Mitos, Gerak Kembali yang Abadi: Kosmos dan Sejarah, Eliade mencatat bahwa masyarakat kuno memandang waktu bukan sebagai garis lurus, melainkan lingkaran. Maka, sang kala bukanlah arus yang terus bergerak maju, melainkan satu siklus berulang ad infinitum.

Kendati banyak membahas soal ritus tahun baru kuno, sang sejarawan menekankan bahwa esensi serupa juga bersemayam dalam ritual-ritual pemurnian lain macam pengusiran setan, puasa, dan pengakuan dosa yang masih eksis sampai sekarang. Dalam praktik-praktik tersebut, waktu dikembalikan ke permulaan dan manusia tak hanya meninggalkan masa lampau, tapi juga menghapusnya dengan terus-menerus kembali ke in illo tempore, waktu primordial. Regenerasi waktu, bagi Eliade, juga merupakan pengulangan simbolik atas kosmogoni, penciptaan jagat raya.

Walau api suci telah lama padam dan manusia tak lagi menampilkan ritual drama pertempuran kuno sebagai simbol lahirnya semesta, ritus—atau sekadar tendensi—regenerasi waktu masih berkelindan dalam ingatan populer masyarakat. Bahkan, dalam komunitas paling sekuler sekalipun. Seolah-olah manusia ingin terus-terusan bisa memutar waktu. Pengulangan macam itu dapat terjadi kapan saja. Seperti Nina Simone lantunkan dalam lagunya yang legendaris, “Feeling Good”: It’s a new dawn, it’s a new day, it’s a new life.

Tiap cahaya baru di angkasa adalah permulaan baru, kira-kira begitu yang tersirat dalam lirik tersebut. Lagu populer Simone beresonansi dengan kitab suci. Konon, pada mulanya tak ada apa-apa. Lalu Tuhan bersabda, “Jadilah terang”—firman yang membuka tabir kosmogoni Alkitab. Dari setitik cahaya, alam semesta mulai dibelah dan ditata: siang dari malam, daratan dari lautan. Tanpa kita sadari, momen sakral tersebut masih direaktualisasi dalam kehidupan manusia modern sebagai usaha mengulang sang waktu demi awal yang baru. Salah satunya tampak dalam perayaan ulang tahun. Maka, mari datang sejenak ke pesta ulang tahun seseorang.

Dalam ruangan itu, si empunya pesta berdiri di poros lingkaran kerabat dan teman-temannya. Di tengah, sebatang lilin dinyalakan di atas kue tar. Setitik api di ruang temaram itu menjadi semacam cahaya primordial—sinar purba yang dipancarkan Tuhan in illo tempore. Dalam sekejap, waktu melebur; seseorang seakan-akan ditarik kembali ke momen mitis ketika dunia pertama dibentuk. Dan ketika lilin ditiup, berakhir pula satu lingkar perjalanan hidup. Setelahnya, remang menghilang dan terang kehidupan baru menyambut doa serta harapan yang menyertai usia berikutnya—seraya diiringi tepuk tangan.

Upaya regenerasi waktu juga tampak dalam kebiasaan kecil yang lain tanpa kita sadari. Potong rambut, misalnya. “New hair, new me,” kata orang Barat—merefleksikan perasaan terlahir kembali. Tak cuma demi penampilan, potong rambut kerap dilakukan seseorang usai melalui beban hidup yang berat—setelah putus dengan kekasih, misalnya. Begitu pula ritual cukur rambut dalam banyak tradisi agama yang masih dilakukan orang sampai saat ini punya logika yang sama.

Kehendak untuk mengulang putaran waktu juga hadir dalam ungkapan sehari-hari sebagai bentuk pembaruan spirit dan upaya. “Hidup sehat mulai besok,” contohnya, merupakan upaya mengatur ulang tekad—meski sering kali cuma omong kosong dan sekadar usaha reset mental yang gagal. Tanpa sadar, dalam keseharian kita sering berusaha menekan tombol restart dan memulai lagi hidup dari awal yang baru. Namun, pengulangan itu, betapa pun melegakan, tak pernah benar-benar terjadi.

Berbagai laku simbolik yang dilakukan umat manusia tidak bertujuan untuk kembali ke masa asali. Alih-alih, ritual regenerasi waktu dimaksudkan untuk menata ulang hidup dan menyapu kekacauan. Di Bali, pemeluk Hindu mengawali masa yang baru dengan keheningan, memulai lingkar masa yang baru tanpa menodainya dengan aktivitas-aktivitas duniawi yang banal demi hidup yang lebih harmonis. Umat Islam punya tradisi bermaaf-maafan di hari raya demi memperbaiki hubungan sosial yang retak—dan dengan itu pula, memperbarui tatanan masyarakat—sambil mengenakan baju baru sebagai isyarat diri yang baru. Pengalaman manusia akan waktu, yang ditera dari rotasi semesta, melahirkan konsep bahwa waktu bergerak sirkuler. Namun, jauh di lubuk hati, manusia tahu kalau sang mahakala terus bergerak maju secara linier. Meski begitu, kita masih sering berkhayal tentang garis waktu yang bisa disusuri kembali ke dua arah.

Begitulah orang punya khayalan perihal mesin waktu. Angan-angan menyusuri kembali lini masa juga sering muncul dalam nyanyian—andai kubisa memutar waktu. Film bertema penjelajahan waktujuga laris lantaran menampilkan imaji kolektif manusia akan waktu yang cair dan bisa dijelajahi sekenanya untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah lalu. Mulai Sore: Istri dari Masa Depan sampai sekuel Avengers: Endgame, tema tersebut tetap menarik untuk ditonton. Sejenak kita dibuat lupa bahwa waktu, dalam pengalaman manusia, seperti jalan searah yang, barangkali, juga punya pangkal dan ujung. Waktu lampau telah mati bersama sebagian besar materi dalam diri kita. Maka, klausa “aku yang dulu bukanlah yang sekarang” tidak hanya tepat secara temporal, tapi juga secara biologis.

Kita tidak bisa kembali ke masa lalu—kita tahu itu. Semua upaya yang dilakukan umat manusia, mulai dari ritual kuno sampai aktivitas simbolik hari ini, tak lain hanyalah cara anak Adam berdamai dengan kefanaan. Tak peduli sebanyak apa pun kita meniup lilin, detik demi detik berlalu meninggalkan momen demi momen di belakang dan apa yang terjadi di periode lampau turut memengaruhi masa kini. Lantaran waktu tak mengalir dua arah, manusialah yang mesti berbenah.

Sapardi mungkin benar, yang fana adalah waktu. Seperti manusia, ia punya awal dan akhir—toh dalam pengalaman kita, waktu selalu punya tenggat. Di dalam batas-batas tersebut kesungguhan kita diuji. Oleh karena itu, dalam resolusi yang dibuat di pangkal Januari, dalam doa pagi hari, dan dalam harapan tiap ulang tahun—juga dalam janji “hidup sehat mulai besok”—sudahkah kita bersungguh-sungguh?


Asief Abdi adalah naturalis yang menulis buku Hikayat Mitobotani (2025).

Editor: Royyan Julian
Foto: Sasti Gotama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *