Evolusi politik dan kedaulatan umat manusia sepanjang sejarah yang haram jadah pastinya bakal alot untuk dipetakan. Bayangkan ada umat nabi, Anatole France, yang dalam Hikayat Penguin, menguak aib tersebut dalam cerita receh kekanak-kanakan (fabel) lalu mencaci maki segala pedoman konstitusional yang alih-alih bikin masyarakat teratur, malah ambyar. Membaca karya France kiranya seperti membaca karya orang sabar yang kehilangan kesabarannya, sarkas membabi-buta. Ledakan amarah ini juga terasa seperti sudah lama sekali terpendam. Jadi, meskipun berkerangka konservatif seperti pola polybius anacyclosis (siklus evolusi politik), karya penuh intrik ini tidak menggantung. Sebaliknya, justru melegakan.
Sebelum terlalu jauh, sebab karya ini agaknya bakal membuat banyak calon pembaca berburuk sangka dan mewanti-wanti kalau pembaca karya ini hanya akan menjadi calon radikal dan anarkis, karya ini berpijak dan mendongkrak mata pembaca yang tertutup rapat atas satu realita: tatanan sosial yang ideal dan makmur justru lahir dari tangan para pembangkang. Maka, suatu negara, meskipun sudah bergelayut pada demokrasi, akan terus terjerumus pada lingkaran setan tanpa para pembangkang.
Hikayat Penguin, karya peraih nobel sastra pada tahun 1921 itu, perlu digarisbawahi, adalah karya sastra yang tidak sekadar nakal, eksentrik, dan terlarang di masanya. Karya ini juga memiliki kejituan matematis, ia bisa merumuskan seluruh dosa peradaban dalam sekali teguk, satu karya, tidak bervolume, kurang dari lima ratus halaman. Karya ringkas tapi padat ini agaknya bisa dipakai untuk mengejek Leo Tolstoy (Anna Karenina), karena Tolstoy butuh dua lembar, 1000-an kata hanya untuk menjabarkan kancing baju seorang pramusaji. Dalam kata lain, karya ini akan jadi idaman pembaca yang kerap ketiduran menghadapi penulis yang larut dalam kegemarannya mengoceh soal yang tidak penting.
Novel ini asyik karena bandel; semangat untuk mengkritisi tatanan termasuk basis-basis keagamaan dan kedaulatan. Misalnya, novel ini diawali dengan optimisme seekor penguin (rasa-rasanya memang seperti Animal Farm karya Orwel, minus karya ini tidak bermula di kandang seorang pemabuk). Penguin ini bernama Santo Mael dan agaknya dia terlalu Thomas Moore untuk ukuran seekor penguin—selain utopis, ia adalah unggas yang optimis. Santo Mael percaya bahwa suatu saat nanti, satwa monokrom seperti dirinya, akan lebih maju dari umat manusia. Semua berawal dari sebuah wahyu yang membuatnya bisa mengubah penguin menjadi manusia.
Tentunya tidak ada kecelakaan moral dari membikin makhluk hibrida penguin-manusia untuk memajukan sebuah zaman yang mundur. Pertama-tama, Santo Mael membaptis jemaah penguin pertama yang sudah jadi manusia. Setelah beragama, manusia hibrida (ini istilah dari saya) tersebut malah semakin purba, gaspol dengan nafsu ragawi. Generasi pertama itu juga cukup innalillahi, mereka menjadi komunitas yang kiranya bagi Tan Malaka mirip dengan orang Indonesia: apa-apa disangkutpautkan dengan hal mistis. Istilah zaman sekarang, “lulusan Gunung Kawi.”
Misalnya, pada suatu babak kehidupan, rakyat Alca diteror naga yang menelan hasil panen mereka, lengkap dengan gadis paling cantik yang ada di negeri itu. Padahal, lenyapnya isi lumbung padi dan menghilangnya perawan ayu itu, sebab ada korupsi dan propaganda. Setiap hari sang perawan dicari dan didoakan, sebenarnya, ia menerima upah dari oknum-oknum di balik naga imajiner tersebut. Tapi meskipun tidak ada naga betulan, imbas lokal dan nasional cukup dramatik: perekonomian mikro dan makro sengaja dibikin tersendat dan tercekik.
Warga ketakutan dan pihak gereja mengusulkan rembuk untuk memerangi naga. Lalu, terpampanglah sebuah panggung epik dari musyawarah tak berfaedah tersebut: Pihak gereja dan pemerintah membayar sepasang pelacur, yang laki-laki menyamar jadi naga, yang perempuan menyamar jadi perawan yang dikorbankan untuk naga supaya ia berhenti meneror warga. Pasangan tersebut adalah Kraken dan Orberose. Keduanya kemudian dibuat seolah lenyap dari muka bumi, padahal mereka terus menerima gaji buta. Lebih bombastis, Orberose yang dikorbankan (padahal tidak) kemudian diabadikan dan diangkat menjadi Santa Orberose, warga menyembahnya, memuja patungnya. Pemujaan ini bertahan hingga selamanya, sebagai penanda keras dari penulis: dosa pertama peradaban adalah mengangkat perempuan jalang menjadi Santa.
Seluruh novel ini kemudian dipadati dengan desakralisasi tatanan agama dan negara. Selain satire Santa Orberose, berjibun kecelakaan sistemik mendasari ideologi dan peralihan zaman purba ke tirani, tirani ke aristoktasi, aristokrasi ke oligarki, hingga oligarki ke demokrasi. Perlahan dan merata dari Zaman Batu hingga era modern. Setiap tahapan menuju kemanusiaan yang berlandaskan hukum dan norma, wajarnya, adalah refleksi dari tekad untuk masa depan yang lebih cerah. Itu berarti kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi bagi France, semua ini bukan anak tangga untuk menuju tingkat yang lebih maju, tapi lingkaran setan.
France mempunyai gaya kritik yang tidak sekadar menelanjangi. Ia mengajukan premis-premis dari fakta sejarah, produk budaya, dan dinamika kesenian. Ia tak gampang puas dengan menguliti satu sektor atau faktor, ia meraup dasar-dasar kemanusiaan dan secara gigantik serta menyeluruh mengkritisinya. Sehingga, novel ini adalah cermin dari kenyataan. Sebuah narasi yang kaya analogi dan metafora. Karena tokoh-tokoh besar dalam novel ini adalah refleksi dari kenyataan itu sendiri, novel ini lebih intim dan rekat daripada daging dan nadi.
Naga dan Santa Orberose, misalnya, memiliki konsentrasi kemiripan dengan Beowulf. Draco keturunan Orberose naik takhta mengeksekusi pelaku bidah, dukun, pagan, dan seterusnya. Keadaan ini menjadi saudara kembar tragedi bersejarah yang menumpas dukun perempuan abad 16. Marbodius yang pelesiran ke neraka ditemani Vergil sebagai pemandu wisata juga berbau sama dengan karya Dante, Divine Comedy.
Lahirnya filsuf pastoral dan rasional juga tak terasing dari sejarah Zaman Pencerahan di Barat. Muncul kelegaan, bagi saya, di bagian kuil Santa Orberose digulingkan, lalu Alca menjadi negara republik yang demokratis. Ini tentunya adalah kabar baik yang disodorkan pada pembaca yang sejak awal sudah dijejali distopia dan dekadensi.
Ternyata, republik yang baru malah jadi taman bermain bagi para pemodal lokal maupun asing yang tajir melintir. Yang kelaparan dalam novel ini justru adalah yang paling kenyang: investor, kapitalis, dan pejabat. Mereka lebih lapar dari kawula. Mereka pula yang meresmikan aturan negara dengan hajat menggendutkan pundi-pundi harta mereka sendiri dan melindunginya melalui kegencaran militerisme.
Republik yang semakin materialistis pada akhirnya menerbitkan oposisi anti republik. Sebentar kemudian, revolusi marak digaungkan. Lagi-lagi pembaca disorot kondisi monumental di mana ada suatu kondisi ideal bernegara yang cukup menjanjikan. Namun, lagi-lagi ada borok yang menjalar setelah keberhasilan revolusi.
Setelah revolusi, hasil dari ikhtiar membebaskan negeri dari kungkungan materialis malah jadi meja kenduri bagi organisasi nonprofit yang alih-alih memberi dampak atas sosial dan lingkungan, malah menguntungkan anggotanya. Dalam hal ini, banyak lembaga-lembaga berlabel sosial dan kemasyarakatan yang menguras dana iuran publik yang kemudian digunakan untuk kepentingan sendiri. Anarki muncul kemudian karena mosi tidak percaya menjalari tidak hanya kubu-kubu pemerintah, tapi juga instansi swasta. Mereka kemudian merusak fasilitas negara dan menggasak tatanan pemerintahan tanpa didasari dengan orientasi kemanusiaan tertentu. Daftar tragis evolusi tersebut, secara garis besar, sangat adiktif dalam artian pembaca digenangi intrik tak kasat mata yang menjangkiti babak sejarah.
Lantas, apakah novel ini menjadikan seorang nasionalis mengingkari darma mereka sebagai warga negara? Sebaliknya, novel ini menumbuhkan rasa nasionalisme yang lebih mapan dan kritis. Narasi ini megah sebab cinta tanah air berarti menggunakan daya nalar dan fakta sejarah untuk menyelamatkan kekacauan dari modus-modus berkepentingan.
Terdapat heroisme ganjil di bagian akhir novel yang menggerakkan pembaca untuk berpikir, apakah aksi tersebut bisa menjadi solusi paling mujarab untuk memperbaiki kemanusiaan yang kacau? Atau, apakah tindakan epik tersebut merefleksikan harapan penulis yang sukses membikin ranum novelnya dengan kegelapan nihil?
Harapan banyak tercapai dalam novel ini. Akan tetapi, keburukan juga tersulut lalu muncul dengan busana paling mutakhir. Novel ini khusyuk menusuk lara dan terbuka mengundang pelipur, meskipun kondisi ideal negara berdaulat terjadi dengan teramat sementara.
Putriyana Asmarani adalah penulis cerpen dan esai
Editor: Asief Abdi
Foto: Asief Abdi


