Kritik Seni

Waktu yang Lesap dalam Bahasa

SONETA DUA DENTANG

Dua dentang pukul
Pada tiang listrik
Adalah dua keluh
Dalam kekal

Doa, dini hari
Dan waktu yang tak mati
Mungkin tersembunyi
Di angka kelam dan besi tua

Ini. Atau barangkali ia tak ada;
Hanya jejak yang rawan
Pada jam,

Hanya jam yang musnah
Oleh sajak.
Hanya sajak

2003

Bagi sebagian khalayak, puisi-puisi Goenawan Mohamad (GM) adalah suara kemuraman yang pesimis, dengan kemerduan yang lirih sekaligus mengentak. GM juga lazim dipandang sebagai seorang peragu yang wagu. Ia semacam berupaya menjaga “misteri” agar tetap hidup, seolah-olah ada kekuatan yang hendak membunuhnya. Gesturnya jamak dilihat sebagai upaya melawan rezim positivistik, menggempurnya dengan merawan-rawankan segala sesuatu. Seolah-olah ada krisis representasi dan negativitas, ia memilih bermesra-mesraan dengan skeptisisme, dengan penundaan berlarat-larat tanpa suatu telos apa pun, yang temporer sekalipun.

“Soneta Dua Dentang” tampak sedang mencoba melekatkan kesan tak biasa terhadap hal yang sebenarnya lumrah, bahkan mungkin terlampau remeh sehingga sering kali luput dari perhatian. GM membahasakan kejadian dini hari, lalu menebar perenungan dengan terkaan-terkaan skeptis sehabis Dua dentang pukul / pada tiang listrik. Yang berdentang adalah tiang listrik. Perkakas modern yang dingin, fungsional, dan tampak banal, alih-alih lonceng atau sesuatu yang dentangnya terasa sakral.Benda biasa itu jadi sangat impresif oleh predikasi adalah dua keluh dalam kekal. Dua larik terakhir bait pertama menggeser status kebendaan tiang listrik ke jejaring makna yang sekaligus membuatnya bocor dari keseharian ke sesuatu yang lebih metafisik.

Dalam bait ini, kita juga bisa merasakan adanya ketegangan. dalam kekal menanggung beban makna yang berat, arkais, adiluhung. Namun, GM melekatkannya pada sesuatu yang wajar: dentang tiang listrik. Apakah ini hendak menyindir, dan mungkin menggambarkan, kecenderungan manusia terkait makna? Atau, memang demikiankah relasi makna dan realitas bagi manusia?

dua dentang pukul pada tiang listrik dan angka kelam dan besi tua secara retoris dijadikan objek permenungan. Pada waktu dan kondisi seperti ini, doa sering kali dipanjatkan dan merupakan masa kritis perputaran hari, penanda bahwa waktu tak pernah sepenuhnya berakhir lalu mati.

Hal-hal itu digambarkan sebelum skeptisisme muncul dan mengganggu keyakinan yang telah dibangun, bahwa angka kelam dan besi tua, dua dentang pukul pada tiang listrik, dua keluh dalam kekal, dan sebagainya, mungkin tak ada. Seolah-olah membayangkan refleks manusia untuk selalu curiga atas sesuatu, termasuk mencari-cari makna yang tersembunyi, absen, dan negatif pada suatu hal. Barangkali, “yang ada” hanyalah proses pemaknaan atau pengalaman atas waktu yang tak mati. Semacam siasat puisi terhadap naluri manusia untuk memetakan apa yang-tak-sepenuhnya-dapat-terpetakan.

Ada upaya untuk memutus untaian metafisik sebelumnya pada bait ketiga. Lihat bagaimana kata Ini dipatahkan dari bait sebelumnya, berdiri menjauh, diakhiri titik, pendek, menunjuk; seperti ratap lesu atau usaha pemungkas yang sia-sia menangkap realitas langsung, yang segera disambut Atau barangkali ia tak ada, bahwa bahasa tak pernah benar-benar menangkap “itu”.

Ia, setelah cermatan yang penuh ragu, hanya jejak yang rawan / Pada jam, atau potongan pengalaman yang rapuh di bawah gilasan waktu. Hanya jam, representasi rezim pengukuran, sistem linear, dan keteraturan, yang musnah oleh sajak yang bisa melipatnya, menahannya, mengulangnya. Setunggal dentang bisa menjadi kontemplasi panjang, sepenggal momen dini hari bisa terasa kekal, sebentang pengalaman rumit bisa merupa satu dua bait. Dalam sajak ini, kronologi dilucuti, musnah oleh atau ke dalam sajak.

Segalanya akhirnya menjadi Hanya sajak: apa yang sarat jejak, kepernahhadiran.

Namun, sajak pun retak. Itulah mengapa larik akhir puisi ini tak dibubuhi titik, padahal pungtuasi ini dipakai pada larik-larik sebelumnya sebagai ruang bagi makna untuk merembes, tak kedap-kukuh.

Kata soneta dalam tajuk pun bukan berarti puisi ini akan menggunakan bentuk formal soneta seperti Petrarchan atau Shakespearean, dengan baris-baris yang tertib tetapi secara laten memprokreasikan yang sebaliknya. GM menjumput ide argumentatif-reflektif di balik soneta sebagai modus berpikir puitik. Ini pintu masuk untuk bertungkus lumus dengan bentuk. Bentuk, menyitir esai Yohan Fikri, “Menyimpangkan Hujan yang Jatuh Tegak Lurus” di Kalam, bukanlah sesuatu yang hadir hanya sebagai hiasan emosional, tetapi strategi pengungkapan—sebuah cara tertentu untuk tidak mengatakan sesuatunya secara semenjana … pengalaman membaca itu sendiri, yakni “rasa tak-selesai” yang diproduksi oleh cara puisi tersebut bergerak … cara puisi berpikir.

Jadi, bertungkus lumus menyigi bentuk “Soneta Dua Dentang”, lebih dari sekadar mendapati bahwa pendayagunaan enjambemennya mengimplikasikan keterputusan, irama ketukan yang patah-patah, serta memetaforkan dentang itu sendiri. Perlu juga membongkar implikasi dari keputusan bentuk tersebut.  

Tajuk dalam puisi ini semacam permainan terhadap ekspektasi bentuk. Ketika soneta yang identik dengan keteraturan, justru mengemban sesuatu yang lolos dari sesuatu yang tertib dan menampakkan ironi formal. Tajuknya malah menyajikan sesuatu yang jomplang. Seakan-akan pengalaman manusia, termasuk membaca puisi, sudah selalu koyak tersula oleh tritunggal waktu-bahasa-kesadaran.


Santama menyukai sastra dan membincangkannya.

Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Ikrar Izzul Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *