di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
—“Doa”, Chairil Anwar
Ada saat-saat di mana manusia merasa bahwa hidup tampak berlangsung dengan cara yang terlalu teratur untuk disebut sebagai hanya semacam kebetulan. Dan sebaliknya, terlalu sunyi untuk disebut sebagai kehendak Tuhan semata-mata. Pada saat yang sama, setiap orang agaknya selalu membutuhkan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Semacam wujud yang tak mesti bernama “Tuhan”, tapi kehadirannya terasa, seakan-akan menyelinap di antara ketidakmengertian. Suatu “misteri” yang boleh jadi tak memiliki nama pasti selain hanya “sesuatu” itu sendiri. Karenanya, ia juga tak menawarkan kepastian jawaban macam apa pun.
Namun, dengan wataknya yang misterius itulah “sesuatu” itu menerbitkan rasa takjub di benak, sekaligus keingintahuan di tempurung kepala manusia. Rasa takjub itu kemudian menjadi yang pertama-tama menuntun manusia menuju apa yang disebut cendekiawan Rudolf Otto sebagai realitas suci. Realitas suci—dalam definisi klasik yang ditawarkan Otto—ialah mysterium tremendum et fascinans, yaitu pengalaman yang melibatkan kesadaran mencengangkan sekaligus memukau akan kemisteriusan eksistensi itu sendiri. Bahwa ada sesuatu yang tidak dapat dijelaskan, kekuatan yang tak terjangkau kata-kata, tetapi mewujud dalam setiap entitas, bahkan dalam setiap inci kehidupan manusia secara keseluruhannya.
Baiklah, kita bergeser sejenak untuk menilik sekilas riwayat hidup Muhammad sang Rasul, pada masa-masa ketika ia masih belia—ketika tumbuh dalam asuhan komunitas Baduin. Gurun, pada masa-masa Muhammad berkemul alam ganas nan liar itu, pelan-pelan mengajarinya tangkas membaca arah angin, titi menghitung gemintang, juga menafsir jejak-jejak di atas hamparan pasir—kaki domba, telapak dubuk, atau mungkin seekor singa. Alam yang di satu pihak mengerikan sekaligus menakjubkan, pada masa-masa awal itu, telah menatah kesadaran Muhammad bahwa di hadapan keakbaran jagat yang tak kuasa ia kendalikan—tetapi disadari seakan-akan ada yang mengendalikannya—manusia hanyalah setitik debu.
Apakah saat itu Muhammad sedang berburu Tuhan? Apakah ia saat itu sedang melacak sidik jari dan tilas kaki-Nya yang samar sekaligus akbar? Tidak. Muhammad masihlah cikal seorang utusan, dan Islam pun belum dirisalahkan. Ia, pastinya tak sedang mencari Tuhan. Yang mungkin kita ketahui, Muhammad hanya sedang dilingkupi ketakjuban. Ketakjuban yang lalu menggiring keingintahuannya untuk memahami bagaimana setiap entitas di sekelilingnya dapat saling terhubung, dan sejumlah yang lain, meningkahi logika dan kewarasannya.
Muhammad belia, tentu saja, tak merumuskan apa yang ia rasakan ke dalam aksioma. Tapi, di antara sunyi dan kilau malam, ia mungkin telah mengenal sebentuk ketakziman nan lembut. Rasa bahwa yang gaib bukanlah sosok jauh di luar sana, melainkan sesuatu yang bergetar di dekatnya, berjelempahan di sekelilingnya, melingkupi tubuh manusianya, di hadapan sekaligus di dalam penglihatannya. Alam, pada saat-saat itu, telah menjadi madrasah pertama, dan dari sanalah sang Cikal Rasul belajar percaya. Tapi kepercayaan itu adalah kepercayaan yang urung dinamai—dan mungkin ia memang tak penting untuk dinamai.
Barangkali, rasa yang sedemikian rupa itulah yang juga membuat Baruch Spinoza menolak menekuk lututnya pada Tuhan yang berparas manusia, meski ia tetap hidup dalam kesalehan yang nyaris religius. Spinoza, kita tahu, diasingkan dari komunitasnya lantaran menolak bentuk iman yang diwariskan. Ia memandang bahwa segala sesuatu sebagai bagian dari satu substansi, satu keberadaan yang sama. Deus sive Natura, Tuhan atau Alam. Tidak ada yang berada di luar Tuhan, sebab yang disebut Tuhan bukanlah sosok pribadi yang mengatur, melainkan tatanan yang menghubungkan segala hal. Pengetahuan, alhasil, menjadi sebentuk iman yang tak tunduk pada kehendak, melainkan pada keteraturan, pada apa yang kita sebut sebagai hukum alam. Apakah Spinoza tidak memiliki iman?
Boleh jadi bukanlah Spinoza yang tak beriman, tetapi kitalah yang tak memahami bagaimana jalan keimanan yang ia tempuh. Mungkin kita memang terlalu sering mengira bahwa religiositas harus bermula dari Langit, dari yang transenden, yang tak terjangkau. Padahal, yang membuat manusia religius justru keterbatasan yang lekat secara asali pada dirinya. Kita mungkin tak tahu dari mana segala itu bermula. Kita mungkin juga tak mengerti mengapa kita dilahirkan di sini, dan untuk apa kita terus berputar di sumbu waktu yang sama. Namun, bertolak dari ketidaktahuan itulah lahir semacam takzim, berujud rasa gentar yang halus terhadap keberadaan. Dalam rasa gentar itu, pengetahuan dan iman saling baku dekap.
Sains, pengetahuan, ilmu, tidak pernah membunuh Tuhan. Ia hanya menyingkap tabir yang selama ini dianggap milik Tuhan. Yang lantas membuat tercekat, mungkin karena setelah tabir itu disingkap oleh tangan ilmu, kita menemukan bahwa di baliknya tak ada sosok. Yang ada di sana rupanya hanyalah keteraturan yang dingin, namun indah. Keindahan yang, lagi-lagi, melahirkan rasa takjub.
Albert Einstein, suatu kali menyebut dirinya religius tanpa beragama. Pada suatu kesempatan, fisikawan itu juga menegaskan bahwa ia beriman kepada Tuhan Spinoza. Kita tahu bahwa yang Einsten rujuk ialah hukum alam. Baik bagi Spinoza maupun Einstein, hukum alam ialah bentuk ketundukan tertinggi terhadap misteri (yang demikian ini juga kita temukan dalam istilah sufisme, tajalli. Laa maujuda illallah, kata seorang mursyid. Tiada yang maujud melainkan Allah). Mereka menolak Tuhan yang mengatur langkah manusia, tapi mengakui keselarasan yang tak mungkin tidak membuat siapa pun—yang mampu berpikir—berlutut dalam rasa takjub.
Manusia yang menekuni ilmu, entah ia seorang biolog atau fisikawan, pada akhirnya akan sampai pada bentuk iman tersebut, yaitu iman yang tak meminta keselamatan, tetapi menuntut pemahaman. Ilmu—dalam bentuknya yang paling jujur—menuntut keyakinan bahwa dunia dengan segala misterinya bisa dimengerti, lantaran setiap gejalanya meniscayakan suatu sebab, sebagaimana setiap sebab memiliki hukum, dan hukum-hukum itu bisa dijelaskan dengan ilmu yang dikuasai. Di titik itu, ilmu lalu menjadi bentuk spiritualitas paling murni, karena ia tidak lagi berpusat pada kehendak, melainkan pada kesadaran bahwa segala sesuatu memiliki struktur, bahkan pada ketidakterstrukturannya sekalipun.
Seorang penganut agama yang beriman pada Tuhan di balik tingkap langit adalah mereka yang punya alamat—arah untuk melayangkan keluh dan syukur. Apakah orang-orang serupa Spinoza dan Einstein tidak memilikinya? Punya. Orang-orang semacam itu bukan tak punya keyakinan. Tapi, keyakinan mereka adalah iman tak berparas. Keyakinan yang tak bertuju kepada sosok. Tuhan mereka bukanlah Tuhan Antropomorfis. Dia hidup di antara kesangsian, di laboratorium, di sela-sela percakapan dengan buku-buku, di tengah malam ketika bintang tampak seperti teka-teki persamaan yang menunggu dipecahkan. Di sana, iman tidak hilang bentuk, remuk. Ia hanya bergeser dari teologi menuju epistemologi.
Saya tak sedang mengatakan bahwa ilmu mengungguli iman yang diperkatakan ajaran agama. Tentu saja ilmu pun rapuh, sebagaimana agama pun tidak sebersih yang kita yakini. Ilmu rapuh, sebab lahir dari kesalahan, dan tumbuh—secara paradoks—justru dari keruntuhan kebenaran sebelumnya. Tapi, dalam keruntuhan itulah, ia menemukan vitalitasnya. Seorang ilmuwan percaya bukan karena ia tahu, melainkan karena ingin tahu. Ada iman yang halus di situ. Iman yang mungkin tak dimengerti mereka yang terlanjur dihinggapi kultus, yakni iman pada kemungkinan bahwa dunia bisa dijelaskan, meskipun penjelasan itu kelak akan dibatalkan oleh penjelasan yang datang di kemudian waktu.
Iman, yang tak bersandar pada sosok, adalah iman yang bertumpu pada rasa keterhubungan yang tak bisa diartikulasikan. Iman ini adalah iman yang percaya bahwa semesta tidak sia-sia, walau tanpa tujuan yang wataknya personal. Tuhan tak mati sebagaimana dikatakan Nietzsche. Sebab, (mungkin) yang mati bukanlah Tuhan, melainkan cara seseorang menyebutnya. Setiap kali seseorang menemukan penjelasan baru tentang dunia, ia sesungguhnya sedang menamai ulang yang Ilahi dalam bentuk yang lebih halus.
Apa yang disebut takdir pun, di titik itu, akhirnya turut terpiuh. Takdir—atau yang muradif dengannya—bukan lagi sebentang garis yang ditoreh oleh tangan tak kasat, melainkan hasil dari hukum-hukum yang terus bekerja di luar maksud dan kehendak. Hujan, misalnya, adalah peristiwa jatuhnya butiran air dari atmosfer ke permukaan bumi yang terjadi melalui tiga proses utama dalam siklus air, walaupun sebuah ayat bersikeras menyebut bahwa ia dideraikan tangan Tuhan sebagai karunia yang menumbuhkan dan menghidupkan. “Alam,” sebagaimana disebut Dawkins, “tidaklah berbelas-kasih dan juga tidak kejam.” Jagat raya, dengan begitu, tidak bekerja di bawah kendali niat, baik atau buruk, terpuji atau tercela, dalam wujud apa pun juga.
Namun, tetap saja, ada rasa takjub ketika kita menyadari bagaimana semesta menyusun dirinya sendiri. Planet-planet berputar tanpa digembalakan tongkat seorang nabi. Atom-atom bergerak tanpa dijaga makhluk cahaya yang sayapnya menelekung sepanjang ujung ke ujung dunia, dan keteraturan itu bertahan seolah-olah terdapat kesadaran yang mengikatnya. “Yang mistis bukanlah bagaimana dunia bekerja,” kata Wittgenstein, “melainkan kenyataan bahwa dunia ada.” Bukankah bagaimana soal dunia ini ada, akan lebih dari cukup untuk membuat seseorang beriman tanpa butuh sosok pencipta? Renungkan saja.
Meski demikian, keinginan untuk mencari “sesuatu” yang lebih besar dari dirinya sendiri itu, mungkin adalah bentuk paling dalam dari keinginan manusia untuk memahami dunia. Ketika manusia tak menemukannya di luar, ia mulai mencarinya di dalam, katakanlah dalam cara mereka berpikir atau bagaimana mereka berbahasa, juga struktur pengetahuan yang tak pernah selesai-selesai itu. Bagaimana jika iman sejati bukanlah keyakinan bahwa Tuhan ada, melainkan kesediaan untuk terus mencari, meski ia tahu tak akan pernah menemukan?
Apakah manusia akhirnya menemukan? Ya, mereka menemukan—meski belum sepenuhnya, dan seringkali yang mereka anggap sudah mereka pahami sebenarnya belum mereka pahami. Dengan kata lain, yang manusia temukan—berbekal dengan ilmu itu—barulah secercah. Adapun jika yang ia buru adalah Tuhan, simpulan dari pencariannya akan selalu tentatif, karena Dia adalah keberadaan itu sendiri. Bukti eksistensi-Nya, yakni eksistensi yang tak terlukiskan nan misterius itu, sebagaimana disebut fisikawan Menas Kafatos, “sedekat tarian partikel yang membentuk tubuh kita, dan sejauh wilayah terjauh kosmos.”
Kita mungkin sama tidak tahunya, apakah hidup ini memang memiliki arah, atau hanya kebetulan yang terlalu rumit. Akan tetapi, bahkan jika hidup hanyalah kebetulan, saya percaya, kita semua ingin memperlakukannya seolah ia punya makna. Seolah setiap pertemuan, kehilangan, atau rasa sakit, adalah bagian dari struktur besar yang tak bisa kita pahami sepenuhnya. Dengan cara itu, kita lalu merasa lebih dekat pada sesuatu. “Sesuatu” itu mungkin saja bukan Tuhan, tapi semacam kesadaran bahwa hidup ini lebih dari sekadar keserbakebetulan kimiawi semata-mata.
Saya ingin katakan bahwa siapa pun bisa menjadi religius tanpa agama. Tak ada yang berhak mempersalahkan itu, sebagaimana seseorang dapat beriman kepada semacam realitas suci, meski menolak untuk menyebutnya dengan kata Tuhan dalam berbagai namanya, karena yang membuat manusia beriman bukanlah sosok, melainkan dorongan batin untuk memercayai sesuatu yang melampaui dirinya sendiri. “Sesuatu” itu, misalnya, bisa berbentuk kebenaran ilmiah, keindahan puisi, atau ketertiban hukum-hukum alam semesta.
Pada akhirnya, semua iman barangkali ialah upaya untuk menenangkan diri di hadapan ketidakpastian. “Takdir tanpa Sang Pencipta” bukanlah nihilisme. Ia adalah bentuk penerimaan yang jernih, bahwa manusia hidup di dunia yang mungkin tanpa maksud, tapi tetap menakjubkan. Bahwa kita mencari tanpa tahu kepada siapa pertanyaan harus disodorkan, tetapi terus bertanya karena dalam bertanya manusia menemukan dirinya sendiri.
Mungkin, dalam spiritualisas pascateologi, menjadi manusia berarti belajar mencintai keterbatasan itu sendiri. Mencintai ketidakpastian yang tidak pernah menjanjikan jawaban. Dalam setiap upaya memahami, siapa pun sebenarnya sedang berdoa dengan cara yang lain. Doa yang tak dipanjatkan dengan lutut tertekuk di lantai mihrab, ataudi hadapan sebuah altar kudus, tapi dengan kesetiaan kepada yang tak diketahui. Yang tak akan pernah sepenuhnya dapat diketahui.
Yohan Fikri adalah penulis prosa dan puisi.
Editor: Asief Abdi
Foto: Asief Abdi



