Novel Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, yang terbit pertama kali pada Agustus 2015 oleh Kompas, merupakan pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Dengan 245 halaman, novel ini mengajak pembaca menyelami perjalanan emosional yang hangat dan menyentuh. Pembaca akan disuguhi kisah yang sering terlihat, namun sedikit yang ambil bagian untuk peduli.
Sudut pandang dalam novel ini adalah sudut pandang orang pertama, seorang gadis kecil berusia enam tahun. Ava atau Salva adalah tokoh utama dalam novel tersebut yang akan bercerita kepada kita tentang perjalanannya dalam menerima kenyataan pahit sebagai anak yang sering mendapatkan perlakuan kasar oleh ayahnya. Pengalaman tak menyenangkan membuat Ava lebih cepat dewasa. Maksudnya, Ava dapat memahami percakapan orang dewasa yang ada disekitarnya. Ia sering bertanya tentang apapun ia dengar, terkadang ia mengartikan sendiri dengan kamus bahasa Indonesia yang selalu ia bawa.
Pada awalnya, kehidupan Ava berjalan seperti biasa walau harus menghadapi perlakuan kasar ayahnya. Ava memiliki seorang kakek yang senantiasa membantunya. Namun, semenjak kematian kakeknya, kehidupan Ava berubah secara keseluruhan. Ava harus pindah ke sebuah rusun yang kumuh dan lembab. Namanya Rusun Nero. Di awal Ava pindah ke rusun tersebut, ia tidak sengaja bertemu dengan P, seorang pengamen jalanan yang usianya tidak jauh berbeda dari Ava. Pertemuan antara Ava dan P merupakan awal dari perjalanan emosional dan traumatis bagi pembaca. Ava dan P memiliki kesamaan, yaitu orang tua mereka tidak harmonis dan P sering mendapatkan pukulan dari ayahnya.
Sebagai seseorang yang berinteraksi langsung dengan anak-anak seusia mereka, saya menyadari bahwa Ava dan P adalah representasi dari anak-anak yang tidak beruntung. Mereka memiliki orang tua yang tidak harmonis. Mereka juga mengalami perlakuan kasar dari orang tua. Ava, misalnya, kerap mendengar ayahnya memaki ibunya—bahkan sesekali dirinya—dengan kata-kata yang belum sepenuhnya ia paham. Hal itu membuat Ava berpikir bahwa papa itu jahat. Sebaiknya tidak perlu ada papa di dunia ini. P juga merasakan hal yang serupa. Bahkan, P jauh lebih rumit. Ia menerima pukulan keras dari ayahnya. Dan yang paling menyedihkan, P tidak memiliki nama seperti anak-anak pada umumnya. Namanya hanya P. Ayahnya enggan memberikannya nama.
Ketika membaca novel ini, saya mengerti sedikit tentang perasaan bagaimana cara anak-anak memandang dunia. Sering kali hal kecil dan sederhana dapat berarti besar bagi mereka, seperti ketika Mama, sosok yang baik bagi Ava, lupa memberi Ava makan selama seharian. Hal itu melukai Ava, walau ia berusaha tetap berpikir positif. Selayaknya anak-anak, P memberikan penjelasan yang masuk akal pada Ava bahwa kalau mama peduli, mama tidak akan lupa. Ava menolak mentah-mentah pernyataan yang disampaikan P, walau hatinya terluka. Bahkan Ava memastikan rasa sayang ibunya padanya kepada Mas Alri, “Mama sayang aku kan? Meskipun mama suka lupa kalau aku di rumah sendirian waktu dia pergi main dengan teman-temannya, dia sayang aku kan?”
Nasib serupa dirasakan P, saat mengetahui tentang sosok ayahnya yang sebenarnya. Membuat P sulit percaya bahwa orang-orang mencintainya atau tidak. P mempertanyakan cinta orang-orang disekitar, mengapa tidak menolongnya dari dulu? P mengungkapkannya saat berbicara dengan Ava “… papa juga peduli, tapi cuma cukup peduli untuk nggak membiarkan aku mati. Nggak cukup peduli untuk membuat aku bahagia. Mas Alri peduli, tapi nggak cukup peduli untuk mencoba hidup sama aku, apapun resikonya. Kak Suri juga begitu.” Penulis mampu memberikan kesan terhadap pembaca bahwa mereka benar-benar sedang mendengarkan gadis kecil bercerita.
Penulis berhasil mengajak pembaca menelusuri perasaan dari tokoh-tokoh yang ada pada novel. Bukan hanya perasaan Ava dan P, tetapi juga perasaan tokoh-tokoh lain, seperti mama, papa, Kak Suri dan Mas Alri. Seperti saat Ava dan P bertemu dengan Mas Alri dan mama khawatir terhadap keberadaan Ava, begitu juga Kak Suri. Ava berkata, “Aku bisa mendengar suara Kak Suri memekik-mekik, dan sepertinya menangis. Percis seperti Mama ketika aku menelponnya.” Dari kalimat ini pembaca dapat menyimpulkan siapa sebenarnya Kak Suri bagi P.
Dan perasaan dari setiap tokoh dijelaskan sedikit-sedikit dari percakapan Ava dan P yang sedang bertukar cerita. Atau ketika Ava berbincang dengan mereka. Ketika Ava dan Mas Alri berbicara, Mas Alri berkata, “Karena belajar jadi mama yang baik itu sulit, Ava. Jadi mama, jadi papa… dua-duanya susah.” Mas Alri juga meredam kekecewaan, mungkin bagi dirinya yang gagal atau kesalahannya dulu. Jadi pembaca memiliki ruang untuk memahami rasa dari kata demi kata yang terangkai dalam kisah tersebut. Praduga dari pembaca membuat novel ini memiliki emosi yang komplit dan luas. Hal ini cukup menarik untuk didiskusikan sesama pembaca novel Di Tanah Lada.
Selain itu, saya memandang novel ini mengisyaratkan bahwa keputusan-keputusan yang diambil oleh orang dewasa berpengaruh besar bagi kehidupan anak-anak. Orang dewasa memiliki peran atas kebaikan atau keburukan yang terjadi pada mereka. Betapa keputusan, ego, dan kebodohan kita dapat menghancurkan dunia mereka yang seharusnya penuh cinta dan tawa. Seperti Ibu Ava yang memilih menikah dengan papa Ava yang jahat dan orang tua P yang tidak memiliki keberanian untuk mengakui P sebagai anaknya. Ava dan P harus berjuang melawan kerasnya dunia karena kesalah orang tua mereka, padahal mereka belum mengerti apa pun. Orang dewasa mengatakan itu takdir, tetapi kita selalu punya pilihan sebelum takdir itu datang. Penulis seolah ingin menyampaikan pesan tersebut kepada pembaca secara tidak langsung. Ketika membaca novel ini, pembaca tanpa sadar akan memahami hal itu.
Penggambaran dari karakter aku dalam novel ini benar-benar detail. Ava sering bercerita secara tidak runtut dikarenakan ia yang masih anak-anak. Ava sering meracau, beralih cerita ke cerita lain, padahal cerita sebelumnya belum selesai ia jelaskan. Lalu Ava juga sering mengambil kesimpulan sederhana yang lucu dan menggemaskan. Seperti saat ava memilih kata “terima kasih” daripada “makasih”. Ia berkata, “Papa kadang-kadang bilang makasi. Papa nggak baik jadi itu bukan kata yg baik.” Dan saat Ava mulai lelah berpikir tentang hal-hal yang terjadi, ia memilih tidur, Ava percaya, dengan tidur ia akan lupa dengan perihal yang sedang Ava pikirkan. Dengan kondisi Ava tidur maka cerita terhenti dan pembaca mengartikan sendiri tentang apa terjadi. Penggambaran karakter Ava yang detail membuat novel ini terasa hidup, seolah-olah diceritakan langsung dari sudut pandang anak-anak.
Hal lain yang membuat novel ini berbeda adalah penulis menyampaikan kritik namun dengan sebuah karya yang unik. Penulis mengkritik etika sosial, hal itu terdapat di pembukaan novel ketika Ava dan P bertemu untuk pertama kali. Orang-orang tidak peduli dengan wajah Ava yang kebingungan untuk makan sendiri, tapi P peduli. P menegur Ava lalu membantunya untuk makan. P seorang anak usia 10 tahun hatinya tergerak untuk menolong sedangkan orang lain menutup mata akan hal itu. Selain itu, saat P dipukul, penduduk rusun seolah tidak mendengarkan suara pukulan atau teriakan dari kamar P. Mereka hanya mengurus hidup sendiri-sendiri. Namun di sisi lain, saya menyadari bahwa ketidakpedulian hadir karena kehidupan mereka saja sudah sulit. Ternyata, kesulitan dalam hidup dapat menumbuhkan ketidakpedulian.
Penulis menyampaikan kritik lain secara terang-terangan mengenai tidak adanya apresiasi untuk minat Ava terhadap bahasa Indonesia. Ava senang belajar bahasa Indonesia dan pandai merangkai cerita. Ava juga senang mencari tahu kata-kata yang baru ia dengar. Itu membuat Ava senang membaca kamus dan membawanya kemana saja. Namun, orang-orang di sekitar Ava tidak mengapresiasi itu, mereka merasa belajar bahasa asing jauh lebih bermanfaat daripada bahasa Indonesia. Dalam cerita Ava, ia menuliskan “Dan, aku jadi sedih. Karena hanya kakek Kia yang memujiku kalau aku pintar bahasa Indonesia. Orang lain tidak peduli. Mereka pikir yang pintar hanya yang berbahasa inggris.” Hal itu menyakiti Ava. Namun, ini bukan hanya tentang minat pada bahasa Indonesia. Apa pun minat yang sedang tumbuh dalam diri anak, biarkan ia tumbuh lalu rawat dengan penuh cinta dan apresiasi. Jangan membunuh apa yang ada dalam diri anak tersebut. Sebagai orang dewasa tugas kita mengarahkan mereka.
Beberapa adegan di novel ini terlalu sulit dipahami, dan kata-kata yang tidak perlu dibahas. Mungkin karena penulis ingin menguatkan peran aku dalam novel ini sehingga ia harus memadupadankan cerita dengan karakter anak-anak yang suka meracau. Hal ini menyebabkan beberapa adegan kisah dari novel ini memerlukan fokus untuk menangkap maknanya. Dan novel ini bisa memiliki akhir yang lebih baik, tetapi penulis memberikan plot yang terkesan terburu-buru. Jika penulis ingin menghadirkan akhir yang berkesan dan membekas melalui kejutan yang tak terduga, hal tersebut tentu boleh saja. Namun, alur sebaiknya dibangun secara perlahan dan tidak terburu-buru. Selain itu, bagian akhir cerita juga perlu disampaikan dengan lebih jelas agar mudah dipahami oleh pembaca.
Dengan penyajian kisah yang sangat menarik serta banyak pesan moral yang secara tersirat disampaikan penulis, novel ini layak dibaca oleh semua kalangan usia. Mulai dari remaja, orang dewasa, hingga orang tua. Dengan membaca novel ini, akan membuka pikiran kita tentang tanggung jawab menjadi orang dewasa untuk memberikan kehidupan yang baik bagi anak-anak. Ava dan P adalah korban dari ego serta ketakutan orang tua dalam mengambil keputusan. Diharapkan, melalui pembacaan novel ini, pembaca dapat menumbuhkan rasa kepedulian terhadap anak-anak. Karena sedikit saja rasa peduli itu hadir, dunia mereka akan jadi lebih baik. Perilaku anak-anak yang buruk adalah bagian dari tanggung jawab orang dewasa untuk memberikan contoh moral yang baik.
Novel ini dapat menjadi jembatan yang menghubungkan orang dewasa dengan jiwa anak-anak, serta membangkitkan empati agar manusia lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Sepanjang 2025, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengungkapkan telah menerima laporan sebanyak 11.850 kasus kekerasan pada anak-anak. Kasus ini akan terus meningkat jika kita masih tidak peduli. Dengan mengangkat tema kekerasan pada anak, penulis mengharapkan manusia mulai menyadari pentingnya kebahagian pada anak-anak. Lalu, tidak ada lagi Ava dan P di kehidupan selanjutnya. Ketidakhadiran orang tua dalam hidup mereka, membuat mereka nekat mengambil Keputusan-keputusan tak terduga karena mereka merasa, apa pun yang terjadi pada mereka tidak akan ada yang peduli.
Membaca novel ini membuka perasaan bahwa anak-anak diri kita masih ada dan tidak pernah hilang. Novel ini memberikan kita ruang kepada kita mengenal perasaan saat kita masih menjadi anak-anak. Hal-hal menyakitkan yang mungkin tanpa sadar dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita atau kejadian yang menyakitkan. Seiring berjalannya waktu perlahan kita melupakan itu, tetapi bukan berarti perasaan itu hilang. Novel ini menjadi perantara agar kita dapat memahami dunia anak-anak yang tidak sesederhana yang terlihat. Mereka merasakan yang kita rasakan dan mengingat semua kejadian dalam hidup mereka secara diam-diam. Mengenal hidup mereka membuat kita lebih hati-hati saat bersama mereka. Jangan sampai kita meminta mereka memahami kita dengan membunuh jiwa anak-anak dalam diri mereka.
Silvina Sari Hasibuan adalah seorang Shadow Teacher di Sekolah Azzakiyah Islamic Leadership. Silvi, panggilan akrabnya, senang membaca fiksi & nonfiksi.
Editor: Putri Tariza
Foto: Putri Tariza


