penjara
Esai Budaya

Di Tangan Generasi FOMO

Jika dua dekade lalu Mark Bauerlein dalam buku The Dumbest Generation merasa perlu meniup peluit tanda bahaya bagi pemuda Amerika, hari ini, di Indonesia, peluit itu harusnya sudah menjelma sirene yang memekakkan telinga. Bauerlein mencatat sebuah fakta dari data National Assessment of Educational Progress yang membuatnya risau. Data itu menunjukkan: Lima puluh tujuh persen siswa sekolah menengah atas di Amerika berada di bawah standar dasar pengetahuan sejarah. Bayangkan, separuh lebih dari mereka gagal mengenali siapa sekutu Amerika di Perang Dunia II. Tidak sedikit dari mereka menyangka Uni Soviet adalah musuh alih-alih rekan koalisi.

Fakta demikian memang terkesan sepele, tidak jauh berbeda dengan seseorang yang tak tahu suatu daerah di kotanya sendiri. Tapi, tidak bagi Bauerlein. Ia meyakini bahwa hilangnya detail faktual sejarah adalah “malapetaka intelektual”. Pasalnya jelas, sejarah bukan sekadar tumpukan angka tahun yang berdebu. Sejarah adalah koordinat, navigasi. Tanpanya, seseorang mustahil membedah manuver politik masa kini secara kritis.

Kualitas ekosistem pendidikan di Amerika jelas jauh di atas Indonesia. Maka, merosotnya wawasan sejarah yang menjangkiti generasi muda kita rasa-rasanya lebih mendesak untuk diwaspadai. Di Amerika, ketidaktahuan sejarah membuat mereka kehilangan jati diri sebagai warga negara, sedangkan di Indonesia, ketidaktahuan serupa bisa berujung pada kerentanan terhadap politik identitas yang manipulatif dan narasi-narasi kebencian yang didaur ulang. Hal ini terjadi karena kita adalah bangsa yang memori kolektifnya masih menyimpan luka dan trauma yang belum dituntaskan.

Maka, tatkala remaja dan dewasa-muda kita hari ini tidak lagi tahu perbedaan antara fakta sejarah dengan propaganda digital—hanya karena informasi tersebut lewat di lini masa dengan musik yang memacu roh uler keket dalam diri mereka bangkit secara brutal—kita sedang membiarkan nalar publik disetir algoritma media sosial alih-alih dinavigasi kesadaran sejarah. Betapa ganjil, sebetulnya, menyaksikan generasi yang (konon) paling lihai mengoperasikan gawai, justru menjadi generasi yang paling gagap memahami narasi besar bangsa dan kemanusiaannya sendiri. Apa mau dikata, begitulah kenyataan yang harus kita telan di masa ketika for your page, FYP, menjadi kurator tunggal kebenaran dan pengetahuan.

Di tangan generasi fear of missing out atau FOMO, teknologi memang akan membuat siapa pun menjadi “pakar” dalam banyak hal selama lima menit. Namun, tak butuh menunggu hingga menit ketujuh, kapakaran mereka bisa sekonyong-konyong menguap tanpa bekas begitu tren-baru muncul. Saya melihat, ada semacam fenomena yang menggejala di hampir semua kalangan remaja dan dewasa-muda kita hari-hari ini, terutama menyangkut kepunahan daya ingat historis dan kedalaman intelektual yang dipertontonkan tepat di bawah hidung.

Anak-anak remaja kita lincah mengedit video, lihai menggunakan filter terbaru, atau menghafal jargon pergaulan digital mutakhir. Namun sebaliknya, ketika mereka dihadapkan pada pertanyaan seputar pengetahuan umum—yang karena sifat umumnya, pada zaman saya seusia mereka, mengetahui jenis wawasan tersebut adalah hal yang tak lantas menjadi tolok ukur kecerdasan seseorang—segalanya pun mendadak buram. Saya yang seorang pengajar, misalnya, belum lama ini dipaksa menepuk jidat berkali-kali lantaran mendapati tidak satu pun dari 32 siswa di kelas tahu mengapa Indonesia (pernah) dijuluki “Negara Agraris”. Di kelas yang berbeda, tak kurang dari 30 siswa hanya bergeming dan celingak-celinguk ketika saya tunjuk untuk menyebut nama jalan di mana kemerdekaan negaranya pernah diproklamirkan.

Dua pengalaman menohok itu sudah lebih dari cukup untuk menggiring saya melipir ke kedai kopi terdekat, duduk merenung seorang diri, sambil menyesap segelas robusta pahit. Dalam momen 50% murung, 25% bingung, dan selebihnya linglung itu, terlintas di kepala saya konten-konten video jalanan yang sering kali viral di jagat digital, di mana, misalnya, seorang remaja cengangas-cengenges tanpa rasa malu akan kebodohannya yang menyebut Garut sebagai nama kabupaten di Eropa. Terlintas juga di kepala saya wajah tolol anak presiden yang kebingungan menyebutkan nama-nama etnis di negaranya sendiri (yang sialnya, di kemudian hari, mukanya justru terpampang di dinding hampir semua sekolah kita) atau seorang pejabat yang tak mampu menyebutkan dengan sempurna kelima sila dasar “ideologi” negaranya.

Tidak ada hal lucu secuil pun dari para remaja yang tertawa terbahak-bahak saat tidak bisa menyebutkan nama menteri, tidak tahu letak geografis provinsi di seberang pulau, atau gagal mengenali pahlawan nasional yang wajahnya ada di lembaran uang saku mereka—sebagaimana tak ada yang lucu dari seorang anak presiden yang dengan enteng mengaku tidak punya kegemaran membaca, tepat pada saat acara yang mengundangnya justru bertajuk “Hari Buku”. Segalanya secara gamblang menyodori satu fakta fatal tentang pergeseran nilai yang mengerikan: ketidaktahuan. Kini, ketidaktahuan tak lagi dirasakan sebagai aib yang memalukan. Siapa pun boleh saja berdalih, “Apakah esok dunia akan kiamat hanya karena anak-anak kita tak mampu menjawab siapakah presiden kedua Indonesia?”

Well, dunia ini memang tidak akan kiamat hanya karena hampir satu generasi muda tak tahu bahwa presiden kedua Indonesia adalah mendiang Soeharto. Masalahnya, ketidaktahuan yang tampak sepele itu lebih dari sekadar hilangnya sebuah nama dari laci memori. Ketidaktahuan terhadap wawasan umum semacam itu akan menjadi bencana yang kelak berdampak pada lahirnya fenomena yang disebut Henry A. Giroux sebagai teachers as intellectuals dengan “buta huruf baru”; sesuatu yang akan menyebabkan runtuhnya struktur berpikir utuh sehingga berimpak juga pada substansi demokrasi secara menyeluruh. Bukan tidak mungkin jika dua dekade lagi, negara ini akan diisi generasi muda yang tidak hanya terisolasi dari sejarah—yang berarti juga terisolasi dari “dunia”—tetapi tercerabut dari akar-akarnya.

Sejarah, penting digarisbawahi, bukanlah tumpukan barang antik yang hanya pantas jadi pajangan ruang museum. Ia adalah rantai sebab-akibat. Ketika rantai itu putus, kita tidak lagi punya pijakan untuk memahami realitas hari ini. Jika seorang anak muda gen Z/Alpha tak tahu bahwa presiden kedua negaranya adalah pemimpin berlengan besi bernama Soeharto, istilah “Reformasi” yang mereka catat dari papan tulis pelajaran sejarah, atau mereka saksikan dari coretan vandal dinding jalanan, atau mereka tonton dari unggahan akun berita di Instagram, hanya akan menjadi kata tanpa makna.

Mereka tidak akan paham mengapa sentralisme kekuasaan demikian dibenci, mengapa korupsi-kolusi-nepotisme tidak bisa dimaafkan, dan mengapa kebebasan berpendapat yang mereka nikmati untuk mengunggah konten di TikTok hari ini adalah barang mewah yang dulu bisa menukar hidup seseorang dengan jeruji besi. Ketidaktahuan ini, persisnya, membuat mereka menjadi warga negara yang amnesia. Karena tanpa fakta-fakta dasar yang mesti mereka tahu, “berpikir kritis” yang sering didengung-dengungkan di ruang kelas hanya akan jadi nonsens. Bagaimana mungkin bisa melakukan bedah sosiologis yang tajam jika anatomi tubuh bangsanya saja tak ia hafal?

Pepatah Arab “syubbanul yaum, rijalul ghad” berlalu di sini. Disadari atau dibantah, merekalah cermin dari sebagian besar remaja dan dewasa-muda yang memanggul masa depan negara kita. Bukankah anak seorang presiden yang tak punya tradisi membaca itu kini bertengger sebagai wakil presiden?

Publik boleh saja menudingkan segala kefatalan yang sudah saya sebutkan di atas kepada guru sejarah. Namun, menunjuk hidung guru sebagai satu-satunya pesakitan dalam kasus yang bahkan tak eksklusif terjadi di Indonesia ini, jelas merupakan simplifikasi yang naif. Masalahnya jauh lebih “sistemik” sekaligus “eksistensial”. Kita sedang menghadapi apa yang ingin saya sebut “paradoks pengetahuan”; sebuah era di mana akses terhadap informasi membentang seluas segara awang-awung, dengan kapasitas anak-anak remaja dan dewasa-muda kita untuk menyelaminya justru menyusut drastis hingga sebatas kubangan babi.

Ekosistem pendidikan kita yang tampak mengidap “fatalisme” sekaligus “utopianisme teknologi” juga kian memperparah keremukan ini. Ada sejenis keyakinan ajaib—yang entah malaikat bejat mana yang membisikkannya—bahwa gawai adalah tongkat sihir yang akan membereskan semua kebobrokan literasi kita. Indikator dari fatalisme dan utopianisme teknologi itu tampak sangat benderang bila kita mengamati maraknya pelatihan atau seminar bertajuk “Optimalisasi AI untuk Pendidikan”—sering kali dengan judul lebih canggih—yang bertebaran di mana-mana.

Hari-hari ini, tidak para guru, tidak para dosen, tidak para siswa dan mahasiswa, seperti sedang berebut tiket masuk ke sebuah sekte yang menjanjikan “kepintaran tanpa usaha”. Menjadi pintar tanpa perlu menelan pahitnya belajar tentu adalah sebuah ilusi. Dan Syafi’i, jauh sebelum kita menyadari bahwa itu adalah ilusi, sudah menasihatkannya. Fatalisme dan utopianisme teknologi membuat seseorang merasa tidak perlu “tahu” karena segalanya toh bisa “di-generate”. Tak ayal jika otak mereka perlahan berubah menjadi sekadar terminal transit informasi yang numpang lewat; mengabaikan bahwa pengetahuan, tidak akan meresap secara osmosis ke dalam tempurung kepala siapa pun, bahkan bila ia mahir merangkai prompt paling canggih sekalipun.

Saya percaya, bila segala komedi ini diterus-teruskan, cepat atau lambat, akan menciptakan warga negara yang sangat rentan. Apa boleh buat, demokrasi yang sehat mempersyaratkan individu yang mampu membedakan “opini” dari “fakta” dan memiliki peta sejarah untuk menentukan arah kebijakan di masa depan. Tanpa itu, kita hanya memiliki kerumunan orang yang mudah digerakkan algoritma dan hoaks. Mereka memiliki gawai “pintar”, tapi tidak memiliki kompas intelektual untuk mengoperasikannya demi kemajuan peradaban. Pengetahuan, walhasil, hanya bersifat temporer—sesuatu yang cukup dicari di mesin peramban saat dibutuhkan, lalu segera dibuang dari ingatan.

Budaya visual hari ini telah memenangkan pertempuran melawan budaya tekstual. Puisi, filsafat, dan sejarah yang membutuhkan kerja keras otak untuk dicerna, kini kalah saing dengan video pendek yang menyajikan gratifikasi instan. Kita sedang memanen sebuah generasi yang paling banyak “melihat” dunia melalui layar. Ironisnya, merekalah angkatan yang paling sedikit “memahami” apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Jika terus membiarkan pergeseran nilai di mana “menjadi tidak tahu” dianggap sebagai kewajaran, bahkan sebagai keautentikan diri yang “lugu” dan “lucu”, pelan tapi pasti, kita sedang membunuh imajinasi tentang masa depan. Sebab, imajinasi tentang masa depan hanya bisa tumbuh dari tanah sejarah yang subur. Itulah mengapa, Paul Ricoeur menegaskan bahwa “proyek masa depan sejarah segera akan mengalami masalah, begitu ia melepaskan diri dari masa lalu sejarah.” Bangsa yang gawai-gawainya pintar tapi dihuni manusia yang pikirannya berhenti berkembang di usia 18 tahun karena menolak kerja keras intelektual, adalah bangsa yang sedang berjalan dengan mata tertutup menuju jurang diskualifikasi global. Dan itu jauh lebih pahit daripada segelas robusta tanpa gula yang sedang saya sesap!



Yohan Fikri adalah penyair dan kritikus sastra.

Editor: Royyan Julian
Foto: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *