Esai Budaya

Anak Macan

Saya tak tahu persis, mistifikasi terhadap putra tokoh agama yang berbunyi, “anak seekor macan kelak akan menjadi macan” bermula dari mana, kapan, dan siapa pencetusnya, sehingga ia diimani oleh hampir sebagian masyarakat pesantren pada umumnya. Sebagai orang yang tumbuh, atau setidaknya sempat bersinggungan dengan nalar kultural semacam ini, saya sendiri membayangkannnya serupa sebongkah gunung ekspektasi yang tahu-tahu ditibankan ke pundak orang seenak jidat. Sebetulnya saya tertegun melihat bagaimana sepatah peribahasa serampangan begitu dapat bermutasi menjadi doktrin teologis tak tergoyahkan.

Sulit untuk meyakini sebuah nalar kacau yang mendiktum bahwa anak seorang kiai, secara otomatis mewarisi seluruh kesalehan, karamah, dan otoritas moral si bapaknya, bahkan sebelum sempat dibuktikan isi tempurung pikirannya. Manusia waras mana pun, mestinya mampu mencium adanya asumsi esensialis begitu pekat pada diktum semacam itu. Bahwa kebaikan, kecerdasan, dan kesucian merupakan “Komoditas Genetik” yang mengalir murni ke dalam darah seseorang, menetap di dalam dirinya bagaikan cetakan pabrik yang mustahil menjadi cacat—mengabaikan bahwa pabrik pun, kerap mengalami cacat bahkan gagal produksi. Akan tetapi kita agaknya memang terlanjur terbiasa melihat manusia dalam warna biner, hitam-putih, dan mengunci karakter mereka ke dalam kotak-kotak permanen: “Bakat” atau “Nasab”, umpamanya.

Kesalahan mendasar dari cara pandang tersebut, saya kira terletak pada bagaimana ia menolak melihat bahwa seorang manusia, terlepas dari mani siapakah ia bermula, dan seberapa panjang silsilah tersambung, sejatinya adalah makhluk yang plastis, lentur, dan sangat rentan terhadap tarikan lingkungan sekelilingnya. Di samping itu, asumsi esensialis itu juga mengandaikan bahwa sebuah jurang tak terjembatani niscaya memisahkan orang baik dari orang jahat, dan jelas hal ini berpotensi menjadi sumber kenyamanan bagi pihak tertentu, tidak lain karena “Kejahatan” dam “Kebaikan”, akhirnya diesensialkan sebagai sebuah kodrat.

“Benih yang buruk, menghasilkan buah yang buruk”; “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”; atau persis kita sebut sebelumnya, “Anak macan, pastilah menjadi macan”, menunjukkan suatu kepercayaan bahwa karakter diyakini sebagai sebuah entitas, sebuah kualitas, yang melekat pada beberapa orang dan mustahil pada yang lain. Namun, ungkapan-ungkapan yang memisahan secara kaku antara “Sisi Baik Tanpa Cela” dan “Sisi Jahat yang Keji”, barangkali memang terjadi oleh karena kita sendiri gemar berpikir bahwa kejahatan hanya milik orang-orang dengan “benih yang buruk”, sementara orang-orang dari “benih yang baik” akan selalu menghasilkan buah yang ranum.Mitos Anak Macan dalam tradisi pesantren, kiranya juga mengadopsi logika biner ini secara mutlak. Si anak tokoh ditempatkan di puncak piramida moral, dianggap kebal terhadap dosa, dan diasumsikan memiliki suluh batin yang selalu menerangi langkahnya menuju kebenaran.

Masalahnya, keyakinan demikian itu menafikan kenyataan bahwa dunia ini ternyatalah dipenuhi batas-batas moral yang sejatinya rapuh, begitu samar lagi mudah ditembus belaka. Malaikat bisa menjadi iblis di ekosistem yang salah, sebagaimana “Anak Macan” bisa menjelma serigala paling rakus, juga rubah paling licik. Maka, jika komunitas masyarakat di sekeliling anak si tokoh mengisolasinya dalam keranjang “Kemuliaan Genetik”, mereka pada dasarnya memasang perangkap psikologis yang kelak akan amat berbahaya bagi dirinya.

Sejak kecil, anak si tokoh sering dibesarkan dalam lingkungan yang tak pernah memberinya kejujuran; sebuah umpan balik yang diperkatakan apa adanya. Demikianlah kata-katanya akan selalu dibenarkan, sebagaimana perilakunya yang menyimpang dan menyalahi norma dimaklumkan dengan keyakinan bahwa ada sejenis “sirr”, ada semacam “rahasia” yang belum dipahami orang awam, dan sebab itulah tempurung tangannya selalu diperebutkan untuk dikecupi. Walhasil, situasi harian sang anak pun dikonstruksi secara totaliter oleh lingkungan sekitarnya sendiri. Ia pun hidup dalam—meminjam istilah Philip Zimbardo—crucible: Cawan lebur psikologis yang terus-menerus membisikkan bahwa ia adalah pribadi istimewa, bahwa ia berada di atas hukum moral orang biasa. Dan apakah yang kemudian terjadi pada struktur kesadaran seorang manusia ketika ia tidak pernah mendengar kata “tidak” sepanjang hidupnya?

Bias egosentris dalam dirinya niscaya akan membengkak ke titik mengerikan. Bila ia telah sampai pada taraf ini, tak terelakkan lagi, ia akan mengembangkan perisai pelindung personal invulnerability: Sebentuk perasaan bahwa dirinya kebal terhadap segala macam kesalahan dan sanksi. Dalam kondisi demikian, batinnya tercemari oleh apa yang—disebut para pemikir Abad Pertengahan sebagai cupiditas: Kondisi spiritual di mana seseorang memiliki lubang hitam batin yang begitu dalam; ruang kosong egosentris yang membuat segala sesuatu di luar dirinya hanya dinilai sejauh mana hal itu bisa dieksploitasi untuk memuaskan hasratnya sendiri.

Ketika di kemudian hari seorang anak tokoh agama yang diasuh oleh mitos tersebut mulai menduduki kursi kuasa di pesantren, ia tidak hanya mewarisi sorban ayahnya; ia juga mewarisi sebuah sistem kekuasaan yang terlanjur mapan. Hendak diakui ataukah ditepis, sistem yang berlaku di pesantren pada dasarnya dibentuk oleh dominasi yang bersifat top-down—dalam taraf yang sering kelewat absolut. Silakan saja membantah argumen ini dengan pembelaan paling gigih sekalipun, tetapi fakta-kebanyakan akan dengan mudah menggugurkan bantahan itu. Mau diamini ataukah ditolak lantang-lantang, sistem komunikasi di pesantren juga hampir seluruhnya berjalan satu arah. Ia mengalir deras dari puncak hierarki ke bawah, sehingga nyaris tidak pernah ada ruang untuk evaluasi yang bergerak ke atas.

Saya kira kita semua sadar bahwa tradisi pesantren cenderung mendidik santri dalam doktrin kepatuhan mutlak, laiknya Drona kepada Ekalawya. Kepatuhan terhadap guru, dalam konteks spiritual, memanglah dipandang sebagai sebuah kebajikan. Namun demikian, kalaulah kepatuhan itu lantas ditranslasikan secara mentah ke dalam relasi sosial-struktural, dapat kita pastikan bahwa segera yang terjadi sesudahnya adalah sebentuk “Pengebirian Daya Kritis”. Santri pun jadi massa anonim semata. Ia kerap kehilangan agensi pribadi dan akhirnya dengan mudah menjadi korban dari penyalahgunaan wewenang. Sebagai contoh, tiap menjelang pemilu, tidak satu-dua pemilik pesantren—yang berafiliasi secara politik dengan pejabat tertentu—menggiring santri-santrinya bagaikan domba-domba tersesat untuk memilih salah satu paslon. Walhasil, ajang pemungutan suara sudah bukan lagi upaya mengelola harapan.

Jika kita misalnya merujuk pada definisi kejahatan yang sederhana secara psikologis, yaitu perilaku yang disengaja untuk membahayakan, merendahkan, mendehumanisasi, atau menghancurkan orang lain yang tidak bersalah, maka sistem yang membiarkan kesewenang-wenangan tumbuh subur atas nama “otoritas-spiritual” berbasis “keturunan” semacam itu adalah juga sebentuk produsen kejahatan sistemik. Tidak lain karena ia akhirnya mewujudkan adagium bahwa “kejahatan terjadi saat seseorang mengetahui apa yang lebih baik, tetapi malah memilih melakukan apa yang lebih buruk”—karena sebaliknya, ia tahu bahwa sistem akan senantiasa melindunginya.

Mari kembali ke pertanyaan awal: Mengapa mistifikasi Anak Macan ini begitu kuat diimani? Jawabannya barangkali terletak pada ketakutan kita sendiri untuk menghadapi kenyataan yang sebetulnya cair belaka. Tentu lebih mudah bagi masyarakat untuk memercayai bahwa kesalehan itu menetap dan diwariskan daripada menerima kenyataan pahit bahwa setiap individu harus berjuang memenangkan moralitasnya sendiri setiap hari. Memercayai bahwa anak kiai pasti baiknya, lebih memberi rasa aman—karena hanya dengan begitulah mereka merasa memiliki dian tak kunjung padam, yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Akan tetapi, kebiasaan berpikir instan sedemikiran rupa, tanpa disadari membuat kita enggan melihat ke bawah, ke arah lereng licin di bawah kaki kita sendiri, di mana situasi baru, yang asing, bisa mengubah siapa pun menjadi sosok yang tak kita kenali. Saya teringat tesis Elaine Pagels tentang bagaimana kita menciptakan sosok “Yang Lain” sebagai cermin ketakutan pribadi kita. Dalam konteks ini, mekanisme Pagels sebetulnya bekerja secara terbalik, meski dengan pola psikologis yang saya kira sama belaka. Kita menciptakan sosok “Gus”, atau “Si Anak Macan” sesungguhnya sebagai cermin dari idealisme spiritual kita yang mustahil tercapai. Kita menuntut mereka menjadi perwujudan malaikat di bumi yang sungguh bukanlah Sorga.

Tentulah tuntutan kolektif yang tak realistis semacam itu, lebih-lebih dibalut dengan fasilitas kekuasaan tanpa batas dan ketiadaan fungsi kontrol yang bekerja secara waras, akhirnya malah berbalik jadi patogen mematikan. Kita sendirilah yang rupa-rupanya sedang menciptakan kondisi-kondisi luar biasa yang merusak karakter si Anak Macan dari dalam. Kita sendirilah yang memaksa ia hidup dalam ruang di mana tahanan dan penjaga moral lebur dalam kepekatan realitas egosentris. Walhasil, manakala tanah berpijak lalu goyah dan berubah, dan aturan main dalam masyarakat kemudian bergeser, sosok yang selama ini kita anggap entah macan berjenis apa karena keagungan nasabnya itu, mengalami disorientasi moral maha dahsyat. Ini terjadi lantaran pengalaman hidupnya yang terbatas pada situasi-situasi akrab penuh sanjungan akhirnya hanya membuatnya gelagapan ketika harus berhadapan dengan godaan kekuasaan yang sesungguhnya. Ia tidak pernah melatih otot-otot moralnya untuk menolak keserakahan, umpamanya. Sebab sebaliknya, sepanjang hidup dia, keserakahannya selalu diinstitusionalkan sebagai hak istimewa.

Sebuah mitos, patut dicatat, adalah sebuah konstruksi sosial; sebuah struktur bahasa yang juga dapat dipergunakan untuk melegitimasi, katakanlah itu “feodalisme spiritual”. Mitos Anak Macan membebaskan sang anak dari kewajiban berproses, membebaskan masyarakat dari kewajiban berpikir kritis, serta membebaskan sistem dari kewajiban untuk bersikap adil. Menimbang angin topan segala penjuru yang belakangan mendera-menderu atap pesantren dengan amat dahsyat, jujur ada perasaan keranta-ranta. Saya kira selama kita masih merawat mistifikasi-mistifikasi semacam itu, menganggap bahwa karakter manusia ditentukan oleh cairan darah alih-alih oleh interaksi dinamis antara kesadaran individu dengan kekuatan situasi yang melingkupinya, misalnya, maka selama itu pula badai akan terus berlanjut—mungkin dengan pusaran lebih mengerikan kelak.

Barangkali sudah saatnya kita berhenti melihat ke arah silsilah dengan ketakjuban yang buta. Kita perlu mulai melihat ke bawah, melihat bagaimana sistem harian kita memperlakukan manusia, melihat lereng licin di mana anak-anak manusia—entah ia anak kiai, anak petani, anak presiden, atau anak siapa pun itu—sedang berjalan dengan sama tertatih-tatihnya. Pikiran manusia adalah tempatnya sendiri. Ia isa membuat Sorga dari Neraka, atau sebaliknya, Neraka dari Sorga. Saya kira, sudah saatnya juga masyarakat pesantren membuang jauh-jauh mitos yang membuai, yang membuat nyaris kita semua lupa bahwa di dalam diri setiap Anak Macan yang kita agungkan, juga terdapat seorang manusia biasa yang sewaktu-waktu bisa tergelincir ke dalam kegelapan paling pekat—sejauh keranjang tempat ia bertumbuh sudah lama tak bersih lagi. Kitakah bilah bambu, yang menyulam keranjang yang tak bersih itu?


Yohan Fikri adalah penulis dan kritikus sastra.

Editor: Asief Abdi
Foto: Asief Abdi (dari satu lukisan di sebuah loji tua)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *