Esai Budaya

Sapaan sang Guru

Suatu hari, saya dan istri sedang berhadapan di bangku panjang sebuah warung pecel lele menanti pesanan tiba. Kami berganti-gantian mengatur posisi duduk agar bocah kecil kami nyaman dan tenteram di pangkuan. Sesekali mata menyapu sekeliling, memandangi pendar lampu jalanan malam hari, juru parkir yang kerepotan menyusun kendaraan yang tak seberapa, juga pelanggan yang datang silih berganti. Sekilas saya lihat di seberang, seorang perempuan muda duduk bersama kawannya. Wajah dia terasa begitu akrab. Kepala saya susah payah mengail ingatan.

Saat pulang, di atas motor, saya bertanya kepada istri. “Apa murid kita, ya?”

“Iya,” jawabnya.

“Wah, begitu cepat waktu berlalu. Sampai-sampai dia tak ingat lagi.”

“Ayah juga tadi tidak ingat.”

“Wajahnya familiar, tapi lupa namanya.”

“Ibu ingat. Dulu anak ibu, pernah beberapa kali konseling.”

Kami berdua berkhidmat di sekolah yang sama. Saya guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, istri guru Bimbingan Konseling.

“Apa dia pura-pura tidak tahu?”

“Sepertinya begitu,” kata istri saya menjelaskan bagaimana gerak-geriknya dan tatapan matanya berusaha menghindari pandangan. “Mungkin ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.”

Beberapa hari sebelumnya, kami berpapasan dengan tiga remaja perempuan mengenakan hoodie bonceng tiga naik motor matik. Dari jauh, si paling depan tampak cengengesan, yang di tengah dan belakang lekas-lekas menarik topi jaket menyembunyikan rambutnya dan menutup-nutupi wajahnya dengan telapak tangan. Sambil ketawa-ketiwi mereka berteriak menyapa, “Pak … Bu ….”

Ada yang malu-malu, tetapi tetap menyapa. Ketika murid di warung pecel lele itu memilih menjaga jarak, saya justru lebih lama memikirkannya.

Bertahun-tahun kemudian, saya masih terkenang-kenang dengan peristiwa tersebut. Situasi semacam itu sebenarnya lazim saja bagi saya sebagai seorang guru. Setelah hampir tujuh tahun mukim dan mengajar di kota rantau, di sekolah dengan rombongan belajar berlimpah, dengan tiga lokasi kampus, dengan tiap angkatan muridnya lebih dari lima ratus, berpapasan dengan wajah-wajah familiar di jalan, pasar, masjid, mal, atau warung makan adalah hal biasa. Ibaratnya di kota ini menghadapkan wajah ke barat atau timur akan ada kemungkinan bertemu satu dari ribuan murid itu.

Masalahnya, ingatan guru sering kali sangat payah. Saya lebih mudah mengingat wajah ketimbang nama. Biasanya yang tinggal dalam ingatan ialah siswa yang sangat aktif, paling pintar, paling malas, atau paling banyak masalah. Sementara mereka yang adem ayem, tidak terlalu menonjol, tetapi juga tidak pernah membuat repot, sering luput dari lampu sorot.

Jangan-jangan justru murid kategori “tengah” inilah yang kemudian merasa tidak punya kewajiban moral untuk menyapa. Sebab merasa tidak masuk radar. Barangkali mereka berpikir, guru pun mungkin tidak akan mengingat saya.

Namun, pengalaman mengajar memberi pelajaran lain yang tidak saya duga.

Seorang guru senior pernah berkata bahwa murid paling pintar justru yang sering canggung dan akhirnya buang muka ketika bertemu guru, sementara mereka yang dulu dianggap bermasalah malah lebih hangat menyapa. Saya sempat menganggap itu sekadar asumsi personal. Akan tetapi, perlahan saya melihat polanya sendiri.

Ketika alumni datang untuk cap tiga jari beberapa bulan setelah kelulusan, hanya segelintir siswa kategori pintar yang masuk ruang guru untuk menyapa. Sebaliknya, di ruang BK, istri saya justru menerima limpahan tamu tak terduga: para “buronan”, siswa yang dulu sering dicap badung, selalu bikin onar, hingga berkali-kali dipanggil orang tua. Mereka datang menyalami, bergurau memamerkan seragam baru sekolah menengah atas, bercanda tentang masa konseling, bahkan bercerita bahwa kini mereka mulai berubah. Ada seberkas rasa haru mendengar kisah pertaubatan semacam itu.

Saya teringat pula kisah seorang ibu guru yang berduka ketika suaminya wafat. Yang datang membantu justru anak-anak perwaliannya yang dulu nyaris dikeluarkan dari sekolah. Mereka datang memikul berdus-dus air mineral, membantu menyusun kursi-kursi plastik, mengurus banyak hal, seolah ingin membalas sesuatu yang dulu tidak pernah sanggup dilakukan.

“Kenapa bisa begitu, ya?” tanya saya pada istri.

“Karena ekspektasi kita terlalu tinggi pada sebagian anak,” katanya. “Dan anak-anak yang tidak menonjol di akademik itu kemungkinan besar lebih supel, punya kemampuan sangat bagus dalam bersosialisasi. Sedangkan kebalikannya, mereka yang menonjol di akademik, ternyata justru tidak luwes dalam melakukan interaksi sosial.”

Mungkin itu benar.

Siswa-siswa memang unik. Ada yang aktif bercakap lewat pesan teks, tetapi berubah pendiam ketika bertemu langsung. Ada yang pernah saya bantu mendaftar sekolah bonafide dan menuliskan rekomendasi beasiswa lalu lenyap begitu saja. Namun, tentu saja tidak semuanya. Ada pula yang tiba-tiba mengirim pesan dan surat elektronik panjang berisi ucapan terima kasih, bertahun-tahun setelah lulus.

Meski begitu, tetap saja peristiwa di warung pecel lele itu terus mengganggu pikiran saya. Ibarat kami pernah berbagi ruang yang sama selama setahun, dua tahun, atau bahkan tiga tahun, lalu pada suatu hari kami berjalan di trotoar, saling mendekat dan lewat begitu saja, seperti dua orang asing di jalan yang sama. Ah, sungguh menyakitkan serupa adegan akhir Byōsoku 5 Centimeter.

Tentu saja ada pertanyaan yang segera muncul, mengapa saya tidak menyapanya lebih dulu? Bukankah saya yang lebih tua? Bukankah saya yang lebih dulu mengenalinya?

Pertanyaan itu tidak salah. Bahkan barangkali lebih adil. Sebab sebuah salam dan sapa sebenarnya tidak memerlukan banyak syarat. Seorang guru bisa saja memanggil nama muridnya di jalan dan semuanya akan selesai dalam satu senyum singkat.

Akan tetapi, peristiwa kecil itu membuat saya memikirkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar salam yang tidak terucap.

Sekolah sesungguhnya merupakan ruang yang penuh aturan mengenai bagaimana seorang murid harus memperlakukan gurunya. Ada cara memberi salam, cara duduk di kelas, cara mengangkat tangan sebelum berbicara. Semua orang tahu bagaimana harus bersikap, tetapi begitu seorang murid meninggalkan sekolah, aturan-aturan itu tiba-tiba menghilang. Tidak ada lagi pedoman tata tertib yang menjelaskan bagaimana seorang mantan murid harus menyapa gurunya di pasar, di rumah makan, atau di trotoar sebuah jalan kota.

Sebagian murid datang dengan hangat. Mereka menyalami tangan dengan antusias, mengingatkan pada masa ketika mereka masih duduk di bangku kelas. Sebagian lagi menyapa dengan singkat, seperti orang yang baru saja mengenali wajah lama di tengah keramaian. Namun, ada juga yang memilih berjalan terus. Barangkali mereka lupa. Barangkali mereka sungkan. Atau barangkali mereka merasa bahwa masa sekolah adalah sesuatu yang telah lama berlalu dan usang.

Setelah memikirkan peristiwa itu beberapa waktu, saya mulai merasa pertanyaannya tidak sepenuhnya tertuju kepada murid itu. Mungkin juga kepada diri saya sendiri.

Seorang guru sering mengira bahwa muridlah yang harus mengingatnya, menyapanya, atau menghormatinya. Akan tetapi, jarang seorang guru bertanya, apakah saya cukup mengenal murid-murid saya sehingga mereka merasa nyaman menyapa saya di luar kelas? Atau jangan-jangan selama ini hubungan kami hanya hidup selama pelajaran berlangsung. Sebuah hubungan yang rapi di ruang kelas, tetapi rapuh begitu keluar dari gerbang sekolah.

Pertanyaan semacam ini membuat saya teringat pada tradisi keilmuan Islam klasik. Hubungan antara guru dan murid dirawat melalui sebuah sistem yang disebut sanad. Sanad adalah rantai riwayat manusia yang mentransmisikan ilmu dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam kitab hadis seperti Shahih al-Bukhari yang disusun oleh Muhammad bin Ismail al-Bukhari melalui kembara panjang ribuan kilometer, setiap hadis yang ditulis disertai dengan nama-nama perawi yang saling tersambung. Seorang murid meriwayatkan hadis dari gurunya, lalu menyebutkan nama gurunya itu sebagai wujud dari kualitas dan kredibilitas ilmu yang disampaikan.

Salah satu ulama besar yang berada dalam jaringan keilmuan itu ialah Muslim bin al-Hajjaj, penulis kitab Shahih Muslim. Ia dikenal sebagai murid yang sangat menghormati Imam al-Bukhari. Dalam sebuah kisah yang kerap dikutip para ulama, Imam Muslim yang sudah kesohor sebagai ulama besar pernah memohon agar dirinya diperbolehkan tidak hanya mencium tangan, tetapi juga kaki Imam Bukhari sebagai bentuk penghormatan yang begitu mendalam atas otoritas ilmu gurunya.

Kisah seperti itu sering dirujuk sebagai contoh mulia tentang adab murid kepada guru. Namun, sebenarnya ia menunjukkan sesuatu yang lebih mendasar. Relasi antara guru dan murid tidak berhenti saat pelajaran selesai. Hubungan itu justru menjadi bagian dari perjalanan ilmu itu sendiri.

Seorang murid sejatinya membawa nama gurunya ke mana pun ia pergi, seperti mata rantai yang menyambung pengetahuan demi pengetahuan, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dan begitulah sesungguhnya pendidikan. Seorang guru belajar dari gurunya, lalu ia mengajarkan apa yang ia terima kepada murid-muridnya. Murid-murid itu kemudian akan membawa ilmu itu ke tempat lain, membagikan kepada orang lain, pada waktu-waktu di masa yang lain.

Sayangnya, dalam pendidikan modern, hubungan semacam itu menjadi kabur. Seorang guru mengajar satu kelas selama satu tahun. Setelah itu, murid naik kelas, bertemu guru lain, dan hubungan itu perlahan pupus, di antara jadwal pelajaran dan guru yang berganti terus.

Sekolah tentu saja masih mengajarkan banyak hal. Ia memberi pengetahuan, membekali keterampilan, dan bahkan membukakan berbagai pintu kemungkinan hidup yang lebih baik. Namun, kadangkala saya bertanya-tanya: Apakah pendidikan hari ini masih membangun hubungan yang cukup kuat sehingga seorang murid merasa membawa sesuatu dari gurunya, bukan sekadar nilai dalam rapor dan ijazah, tetapi juga jejak ingatan akan manusia yang pernah membentuk hayatnya?

Mungkin yang berubah bukan hanya muridnya, melainkan juga cara kita memandang pendidikan. Dalam tradisi keilmuan masa silam, seorang guru biasanya dikenal tak hanya karena ilmunya, tetapi juga karena laku kehidupan luar biasa yang ia jalani. Murid menghormati guru bukan semata-mata karena posisinya di kelas, mereka melihat sesuatu yang layak dihormati dalam dirinya.

Hari ini, seorang guru kerap bekerja di tengah jadwal yang padat, mengejar 24 jam pelajaran dan bahkan terpaksa berdiri sampai 40 jam pelajaran di depan kelas, bergelut dan bergulat dengan kurikulum yang terus berubah, dan menghadapi kelas besar yang terlalu ramai untuk benar-benar mengenal setiap muridnya. Hubungan yang terbentuk acap kali lebih bersifat “fungsional” ketimbang “personal”.

Dalam situasi seperti ini, barangkali tidak mengherankan jika hubungan guru dan murid sering berhenti pada hari kelulusan.

Suatu hari kelak mungkin saya akan kembali berpapasan dengan murid yang sama. Mungkin saja ia akan berhenti dan menyalami saya atau boleh jadi malah berlalu saja seperti orang yang tidak pernah duduk di kelas yang saya ajar. Saya tidak benar-benar tahu. Tentu ada banyak sekali kemungkinan di hari depan.

Akan tetapi, peristiwa-peristiwa itu membuat saya merenungkan sesuatu yang lebih besar ketimbang selarik salam dan sapaan yang tidak terucap.

Dalam tradisi keilmuan klasik, manusia menjaga sanad layaknya merawat ingatan mengenai dari siapa mereka belajar. Hari ini, kita masih menjaga album kenangan angkatan, buku rapor, dan ijazah dengan baik. Namun, hubungan antara guru dan murid kadang terasa seperti rantai yang aus, bahkan terputus, tanpa pernah kita sadari kapan mata rantai itu mulai rantas.

Pendidikan hari ini memang berhasil membuat murid lulus. Akan tetapi, saya kadang bertanya-tanya, apakah ia juga berhasil membuat kita saling mengingat?


Wendy Fermana adalah pengajar dan pengarang.

Editor: Asief Abdi
Foto: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *