Kritik Seni

Semiotika Calon Jenazah

“Dongeng fantasi,” sebagaimana tokoh perempuan psikopat dan obsesif, Ko Moon-young, dalam Drama Korea It’s Okay to Not be Okay berujar, “adalah alat untuk merepresi realita.” Karya sastra yang tahan banting dan tetap timbul dari masa ke masa, adalah sastra yang mengembalikan dongeng fantasi ke barak. Namun betapa aduh biyung, mereka yang tergelintir gelombang ombak, hidupnya hanya maju untuk menghantam karang, dan mundur untuk menghantam karang lebih keras. Mereka menjalani kehidupan panjang untuk menghadapi kematian demi kematian. 

The Waves (Ombak), tak mungkin menjadi kata hiasan dalam semua karya Virginia Woolf. Kata ini selalu ada, seperti anak rajin yang selalu masuk kelas, seperti mimpi buruk orang kurang tidur, seperti rantai bayang-bayang yang merenggut lelap dari orang insomnia, seperti kata pertama yang dilontarkan orang mabuk, seperti kepiting yang hijrah dari sungai keruh. The Waves pertama kali diterbitkan oleh The Hogarth Press tahun 1931, edisi paling intim dengan Virginia Woolf ini kemudian diterbitkan oleh Penguin Random House pada 2004 (edisi yang dibahas dalam review buku esai ini), sebab semakin banyak karya ini beredar, semakin banyak pula perubahan dari redaktur ke redaktur. 

Maka, apa yang membuat kata ombak tak bisa lepas dari buaian penulisnya? Ombak pertama kali merasuki Katherine dalam karya Virginia Woolf yang pertama, The Night and Day tahun 1919. Katherine yang tengah berkubu dengan realita saat ini, perlahan dijajah masa lalu, masa lalu datang perlahan dari jauh lalu mendekat seperti dentuman ombak. To The Lighthouse ditulis pada tahun 1926, tahun di mana Virginia Woolf mulai goyah secara psikologis, karya ini padat dengan kata ombak. Ia kemudian bereksperimen, dari novel dan esai, setelah itu puisi. Bukan tampaknya, Virginia Woolf gagal memadatkan kata, puisi yang gandrung akan much in little baginya harus kandas. The Waves lahir dalam bentuk jabang mutan, persekongkolan antara puisi dan prosa yang sama-sama lalai akan fitrahnya.

Dalam The Waves, puisi yang keras kepala dan memaksa kalimat untuk mengerdil menjadi sekumpulan frasa, lalu sekumpulan frasa kata benda, hingga lebih remah menjadi kata benda saja, telah takluk di tangan Virginia Woolf. Puisi adalah kalimat kompleks, bahasa dari jiwa yang hidup namun terbelenggu di jembatan batas menuju kematian. Puisi adalah medium gemulai jiwa kerontang yang penuh pengharapan agar orang memahaminya, agar nalar mengampuni kebodohannya, agar nurani melunak atas kelalaian demi kelalaian. The Waves bukan novel, bagi saya, meskipun banyak peneliti memasukkannya dalam kategori prosa. Juga bukan puisi sebab karya ini menyangkal badaniah puisi, organ demi organ. 

The Waves memberi semesta pada sekawan tujuh: Bernard, Percival, Jinny, Louis, Neville, Rhoda, and Susan. Masing-masing berbicara dengan porsi tumpah-tumpah. Pertemuan demi percakapan. Perenungan demi kesadaran. Karya yang sesak akan solilokui. Tidak ada yang tidak beres dalam The Waves. Setiap tokoh membicarakan ombak dan pernah berada di pesisir. Perenungan satu tokoh ditimpa perenungan lainnya, dan seterusnya. Tidak urut. Karya ini seperti meja bundar di kafe tongkrongan, orang demi orang menimpali. Lalu ada pula masa di mana sekawan tujuh ini berada di tongkrongan betulan. The Waves tidak digerakkan oleh plot tapi suara demi suara. Maka tidak hanya membangkang atas kaidah puisi, tetapi The Waves juga merobohkan tiang-tiang prosa.

Dari awal membaca, sekawan tujuh tersebut rasa-rasanya adalah sekelompok jenazah yang dikubur dalam area kavling yang sama. Hingga halaman hampir berbunyi seratus, barulah saya sadar bahwa yang mati betulan adalah Percival. Nuansa yang sama juga saya dapatkan ketika membaca To The Lighthouse dan Mrs. Dalloway. Tanpa ada satu pun kata lepas nyawa dan perkabungan, kata demi kata yang dijamah Virginia Woolf selalu terasa seperti bisik-bisik dari liang lahad. 

Hipotesis saya semakin ranum, kira-kira apa yang ada dalam kompleksitas sintaksis dan semiotika ombak dalam The Waves sehingga tokoh yang sebetulnya hidup sedari awal terasa sangat wafat? Bagaimana bisa ia membuat pembaca mengheningkan cipta dengan cara mengafani bahasa?

Ombak memiliki ritme yang tak putus, menghantam hal yang sama, sebagaimana bumi ini berotasi. Silogisme kematian pasti ingkar atas pergerakan dan rotasi itu sendiri. Hampir di semua bagian awal, semua yang berkhotbah dalam The Waves, sedang berikrar bahwa mereka terlempar dari perputaran kehidupan:   

“Look, the loop of the figure is beginning to fill with time; it holds the world in it. I begin to draw a figure and the world is lopped in it, I myself am outside the loop; which I now join―so―and seal up, and make entire. The world is entire, and I am outside of it, crying, “Oh save me, from being blown for ever outside the loop of time!” (hal. 11).

“Among the tortures and devastations of life is this then―our friends are not able to finish their stories.” (hal. 23).

“Alone, I often fall into nothingness. I must push my foot stealthily lest I should fall off the edge of the world into nothingness. I have to bang my hand against some hard door to call myself back to the body.” (hal. 26).  

Kiranya, kutipan tersebut terlalu gamblang sehingga sintaks dan semiotika tak perlu kerja rodi demi melantangkan duka dan perkabungan. Namun, ada ritme lain yang tersalurkan dalam The Waves di mana kematian melepaskan diri dari unsur wingit. Sebab, meskipun Percival tewas sebagai prajurit yang berperang di negara jajahan, India, sekawan enam yang ditinggal mati justru lebih mati dari kematian itu sendiri. 

Ombak, ombak itu sendiri, memiliki kapasitas untuk meruntuhkan atribut kematian: batu nisan, lubang galian yang masih segar, bunga tabur, dan dahan-dahan kamboja. Ini menjadi kekhasan tersendiri dalam hampir semua karya Virginia Woolf. Dari semua pengindra yang berjejal membangun sensasi, alat pendengar adalah unsur pembangkit memori tentang bunyi ombak. Kemudian tokoh-tokoh tertentu ada yang terlempar ke masa lalu, tersadar bahwa dirinya lepas dari tali kehidupan, terlempar dari tubuh sendiri, lalu meneriaki tubuh yang diam seperti balok kayu. Kemudian juga ada yang mendambakan kematian paling nasionalis, seperti Percival, atau malah menyayangkan kematian patriotik yang terlantar dari tanah kelahiran. 

Mungkin, bunyi ombak bagi penulis menjadi pemicu utama atas pijakan kehidupan. Sebagaimana disebutkan oleh Gillian Beer dalam bagian pembuka, dalam buku harian Virginia Woolf tahun 1962, Virginia Woolf berseteru dengan waktu dan ombak, sebuah perjuangan hidup yang pada akhirnya tidak ia menangkan. 

Putriyana Asmarani adalah penulis cerpen dan esai.

Editor: Putri Tariza 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *