Kritik Seni

Jagat Batin Mowgli

Jauh sebelum Tarzan lahir, seorang bocah sudah lebih dahulu hidup dan berbicara dengan binatang. Dialah Mowgli, seorang bocah yang tumbuh di hutan, diasuh serigala layaknya Remus dan Romulus. Sebagai anak rimba, ia betah bermain dan bertualang bersama kawan-kawan satwanya. Namun, ia tidak boleh lupa bahwa dirinya adalah manusia—spesies yang sama sekali berbeda dari seisi belantara. 

The Jungle Book (1894) adalah cerita populer karangan Rudyard Kipling, orang Inggris yang lahir di koloni negaranya di India. Ia mengalami masa kecil di India bersama saudari dan pengasuhnya. Akan tetapi, pada tahun keenam hidupnya, ia mesti hengkang dari India dan meninggalkan kedua orang tuanya—Kipling dikirim ke Inggris untuk bersekolah. Barangkali, saat itu pulalah benih keterbelahan tumbuh dalam jiwanya.

Dari sepotong riwayat hidup sang pengarang, kita bisa curiga kalau tokoh Mowgli mungkin lahir dari kegelisahan Kipling sendiri—seseorang yang berpijak pada dua dunia; yang hidup di satu semesta dengan bahasa dan hukum yang berbeda dengan negeri asalnya, dunia yang bukan dunianya. 

Sebagai karangan seorang yang berasal dari bangsa penjajah, mudah untuk menyangka kalau perkampungan manusia dalam cerita ini merupakan alegori pusat imperium, sedangkan hutan mewakili tanah jajahan. Akan tetapi, hutan The Jungle Book cukup berbeda—ia bahkan acap tampak lebih tertata ketimbang desa manusia yang penuh takhayul dan syak wasangka. 

Dalam imaji penjajah, kawasan taklukan lazim digambarkan sebagai ruang yang kacau balau. Dalam puisinya yang berjudul “The White Man’s Burden”, Kipling sendiri menggambarkan penduduk tanah jajahan sebagai “half devil and half child”. Sementara itu, hutan dalam narasi Kipling lain. Alih-alih barbar, ia punya tatanan, hierarki, dan hukum yang mencegah penghuninya melampaui batas: Hukum Rimba. 

Di titik inilah karakter binatang malah terasa lebih mirip masyarakat beradab. Sebab, Kipling tak hanya menanamkan moral pada tokoh-tokoh binatang yang ia bangun, tapi juga memindahkan struktur khas manusia dalam dunia mereka. Hewan-hewan itu melakukan pertemuan dan berunding—menjadikan hutan The Jungle Book cukup demokratis.

Namun, pembacaan semacam itu terlalu sederhana. Lebih-lebih, setiap karakter punya peran yang berbeda dalam sepak terjang Mowgli di hutan. The Jungle Book, kita tahu, merupakan riwayat muram seorang bocah yang dilanda krisis identitas. Di hutan, ia adalah liyan. Ia terlalu insani untuk berada di rimba, tapi terlalu liar untuk berada di antara manusia. Sepanjang cerita, nasib Mowgli terus terombang-ambing di antara dua semesta. 

Sebagai bocah yatim piatu di tengah hutan, pergolakan batin Mowgli barangkali bisa dibaca lewat hewan-hewan di sekelilingnya. Dalam pandangan macam itu, binatang pun bukan cuma tampil sebagai alegori masyarakat manusia, melainkan manifestasi gejolak sukma si tokoh utama. 

Mowgli yang diasuh kawanan serigala barangkali mewakili pengalaman personal sang penulis pada masa-masa awal hidupnya. Kipling mungkin pernah membaca kisah Remus dan Romulus. Akan tetapi, baik legenda kuno Romawi itu maupun cerita Kipling sepertinya dituntun dorongan yang lebih kuat dan purba: simbolisme maternal. Serigala atau anjing betina acap diasosiasikan dengan sosok ibu—melindungi dan menyusui anak-anaknya. 

Raksha, si ibu serigala, memenuhi kriteria itu. Maka, sosok ibu serigala bisa dibaca sebagai kerinduan Mowgli terhadap figur maternal—pengalaman yang mungkin lahir dari keterpisahan sang penulis dengan ibunya. Lebih-lebih, ketika Kipling kecil mendapat perlakuan buruk dari orang tua asuhnya di Inggris. 

Selain Raksha dan kawanannya, Mowgli punya dua sahabat, mentor, sekaligus pelindung: Baloo dan Bagheera. Kedua hewan itu senantiasa menyertai langkah si bocah, nyaris seperti bayang-bayang yang tak pernah hilang. Mereka mengajari Mowgli tentang aturan dan cara hidup di belantara.

Dari kebijaksanaan Baloo si beruang, Mowgli belajar tentang Hukum Rimba. Baloo juga mengajarinya beberapa kata sakti yang bisa digunakan tatkala berburu atau tengah terpojok. Saya kira, Baloo bisa ditafsir sebagai persona Mowgli. Sebab, semua ajarannya memungkinkan Mowgli diterima seisi hutan. Dalam psikologi Jungian, persona adalah topeng; wajah yang kita tunjukkan kepada dunia. Topeng tersebut memungkinkan seseorang berfungsi dalam masyarakat. 

Jika kita membaca Baloo sebagai persona, sebaliknya, Bagheera adalah shadow, sang bayang-bayang. Macan kumbang itu barangkali mewakili sisi gelap dalam jiwa Mowgli. Dugaan tersebut bukan tanpa alasan. Keduanya, Mowgli dan Bagheera, berbagi luka yang sama—ditinggalkan induknya dan pernah terasing dari ruang alaminya.

Dalam psikologi analitik, shadow merupakan belahan batin yang kelam, sisi diri yang tak ingin kita tunjukkan pada dunia—seperti bekas tali kekang yang tersembunyi di leher sang macan. Namun, upaya untuk menekannya sia-sia belaka. Bayang-bayang memang meringkuk jauh di dalam psike, tapi sering kali merangkak ke permukaan tanpa kita sadari.

Sebagai shadow, Bagheera adalah suara yang mengingatkan kita bahwa Mowgli tak sepenuhnya milik rimba. “Bahkan aku tak sanggup menatap matamu,” katanya suatu ketika—mengisyaratkan jurang yang membentang antara manusia dengan binatang. Dalam dunia satwa, tatapan lazim diartikan sebagai tantangan. Lebih dari itu, ia juga membawa kabar yang pahit bahwa Mowgli tak bisa selamanya hidup dalam ilusi idealnya—sebuah dorongan menuju kebebasan yang sunyi. “Dan sebagaimana aku kembali ke rimbaku, begitu pula engkau akhirnya harus kembali ke para manusia itu …” sang macan mewanti-wanti.

Dalam kerangka pikir tersebut, kita bisa curiga bahwa Baloo dan Bagheera tak lain adalah dua belahan diri Mowgli sendiri. Topeng dan bayang-bayang laksana yin dan yang, dualitas yang saling melengkapi. Keseimbangan keduanya adalah kunci jiwa yang stabil. 

Akan tetapi, Mowgli cenderung lebih akrab dengan Bagheera. The Jungle Book, walau populer sebagai cerita anak, punya atmosfer kelam—tentang seorang anak yang bergulat dengan identitas sejati. Kedekatan Mowgli dan Bagheera barangkali mengisyaratkan dualitas psike si bocah yang berat sebelah. Lebih-lebih, sebentuk rasa takut mengintai dan memburunya.

Teror tersebut hadir dalam wujud seekor harimau. Shere Khan, dialah ketakutan eksistensial itu. Ia mengincar Mowgli sejak bayi dan terus mengintai si bocah, mencari-cari kesempatan untuk menerkamnya sewaktu-waktu. Akan tetapi, Mowgli tahu kalau dirinya tak bisa lepas dari ancaman Shere Khan. Oleh karena itu, hanya ada satu cara bagi anak itu untuk lepas dari incaran sang harimau: membunuhnya.

Perseteruan Mowgli dan Shere Khan mungkin merupakan pertarungan seorang anak manusia dengan ketakutannya sendiri—kengerian untuk memilih identitas yang pasti. “Tidak ada satu anak manusia pun yang bisa berlari bersama penghuni rimba,” harimau itu menegaskan. Maka, membunuh harimau bisa kita tafsir sebagai tahap inisiasi seorang anak manusia ke tahap yang lebih dewasa—di mana ia sudah mampu membunuh rasa takut dan menegaskan siapa dirinya.

Layaknya figur pahlawan kuno yang membunuh monster laut dari rahim purba, Mowgli pun mesti menaklukkan Shere Khan. Pertarungan tersebut bukan cuma soal hidup dan mati, melainkan satu syarat kelahiran kembali seorang anak ke tahap yang lebih dewasa. Namun, seperti kita semua tahu, menjadi dewasa tidaklah gampang. Ia tak hanya dirintangi rasa takut, melainkan ditarik oleh dua daya antagonis yang bekerja dalam sunyi: kegaduhan ego dan ketertiban purba yang menahannya.

Salah satu bagian paling menegangkan dalam The Jungle Book, yakni tatkala Mowgli diculik gerombolan Bandar Log. Komplotan monyet itu digambarkan sebagai binatang yang gaduh dan tak tahu aturan. Dari kacamata Jungian, ia bisa dibaca sebagai alegori ego yang liar dan narsis. Jiwa Mowgli sempat terseret olehnya. Untungnya, sebuah daya yang lain—yang lebih tua dan kuat—berhasil menyelamatkannya dari kekacauan itu.

Dialah Kaa, seekor piton batu tua dengan kekuatan yang tak bisa ditawar. Sang ular membebaskan Mowgli dari para Bandar Log. Kita bisa menduga kalau Kaa mungkin merupakan insting purba yang bekerja jauh dari kesadaran; kekuatan yang tenang, tapi sanggup menertibkan ego ketika ia terlalu liar. Keduanya berdiri berseberangan—yang satu liar dan tak terkendali, sedangkan yang lain tenang tapi tidak terelakkan. Individuasi, dalam psikologi Jung, bisa dicapai tatkala ego berhenti menjadi pusat mutlak dan mengakui struktur psike yang lebih luas.

Maka, bukan kebetulan kalau kisah Mowgli tak cuma disukai anak-anak, tapi juga orang dewasa. Kisah itu masyhur dari zaman ke zaman. Ia menyuguhkan imaji petualangan dan kompleksitas pergolakan batin seorang anak manusia. Jangan-jangan, sejak awal, The Jungle Book memang tak dirancang sebagai fabel anak. Malah, ia adalah kisah dengan pesan terselubung—sebuah isyarat bagi pembaca untuk tumbuh dewasa bersama Mowgli.


Asief Abdi adalah seorang naturalis dan penulis buku Hikayat Mitobotani (2025).

Editor: Royyan Julian
Foto: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *