Semasa hidup, saya yakin Hans Christian Andersen tak sekalipun membayangkan bahwa dongeng guritannya kelak akan jadi manual pengoperasian standar bagi pemerintahan suatu negara. Sesiapa yang pernah membaca The Emperor’s New Clothes mestinya tak asing dengan dua sosok penipu yang mengaku sebagai penjahit kain paling indah di dunia kepada kaisarnya. Kepada sang kaisar itu, keduanya ngibul bahwa kain paling indah jahitan mereka hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang cerdas dan kompeten dalam menjalankan jabatannya di kerajaan. Padahal, faktanya, kain tersebut gaib belaka.
Ternyatalah mitos yang diselubungkan pada kain itu menciptakan jebakan psikologis brilian lagi fatal dampak kolektifnya, wabil khusus, di lingkaran istana sang kaisar. Ketika sang kaisar dan para pejabatnya melihat meja kosong tanpa ada sehelai benang pun tergolek di atasnya, umpamanya, mereka bahkan tak berani mengakui kekosongan itu demi menjaga reputasi masing-masing. Ketakutan dianggap bodoh atau inkompeten sebab tidak mampu melihat wujud kain itu telah efektif mendesak semua orang untuk mengagumi “kain indah” yang level transparansinya sangat radikal tersebut. Bisa kita bayangkan, bagaimana ketegangan sekaligus ketololan bersinergi membangun semesta cerita di istana sang kaisar dalam dongeng Andersen. Bagaimana ketika semua orang melihat kulit sang kaisar yang berlemak dan pucat, malah berlagak berembuk perihal betapa halus sulaman benang emas yang sedang menempel di badan tambunnya.
The Emperor’s New Clothes, kita tahu, memang cuma dongeng. Akan tetapi, “dongeng”—sebagaimana karya sastra pada umumnya—kerap pula menjadi cermin kebobrokan sosial, lalu merefleksikannya secara lebih jernih dan akurat mengungguli survey statistik badan mana pun. Suatu karya sastra, tidak hanya mampu memotret kenyataan, tapi juga meruncingkan kenyataan tersebut. Alhasil, sebuah kenyataan ironis yang dalam kehidupan nyata tak banyak disadari, di dalam karya sastra dapat terasa lebih mengemuka.
Itulah mengapa dongeng Andersen lebih dari sekadar pengantar tidur bagi bocah-bocah di Denmark. Dongeng jenaka itu adalah satire yang membedah bagaimana sebuah peradaban bisa berjalan dengan normal di atas fondasi kebohongan kolektif. Paling tidak, dari apa yang dikisahkan Andersen, kita tahu ia hendak menunjukkan bahwa sebuah negara tidak butuh antek-antek asing untuk menjadi kacau balau, selagi di dalam pemerintahan negara tersebut masih terdapat jajaran pejabat yang dikaruniai bakat menjilat.
Namun, ironi dongeng Andersen itu, akan terasa lebih meruncing bila pembacanya hidup di negara feodal persis di Indonesia. Di negara seperti ini, praktik-praktik menjijikkan itu bahkan berevolusi menjadi serupa “Olimpiade”. Hanya saja, bila suatu olimpiade biasanya dihelat rutin pada musim tertentu, “Olimpiade Penjilat” ditaja setiap hari demi merayakan demokrasi hancur-lebur. Untuk menyaksikannya pun, kita tidak perlu repot. Sebab, nyaris setiap hari kita bisa menonton siaran langsung olimpiade itu via gawai masing-masing. Adapun pesertanya cukup beragam, dari mulai pejabat tinggi negara berbagai bidang, katakanlah itu Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Menteri Agama, dan Kepala Bidang Tata Ruang, hingga tokoh ormas dan agamawan-agamawan mbelgedes.
Misalkan saja kita pernah membaca The Prince karya Nicollo Machiavelli, ia sesungguhnya sudah menyarankan nasihat bijak perihal penyakit kronis di lingkaran kekuasaan penuh penjilat semacam itu. Bukan pula suatu kebetulan bila Machiavelli mencurahkan bahasan khusus mengenai cara menghindari para penjilat, sekurang-kurangnya pada dua sempal bagian risalahnya. Machiavelli saya kira tahu betul bahwa istana adalah sarang bagi orang-orang yang gemar meniupkan angin surga ke telinga penguasa, demi mengamankan posisi masing-masing.
Menurut sang pemikir dari Italia itu, seorang pemimpin yang bijak mestilah memberi ruang bagi orang-orang tertentu untuk mengatakan kebenaran yang pahit tanpa bayang rasa takut, serta ancaman dan tekanan (apalagi siraman air keras). Sebabnya jelas: Begitu semua orang merasa memiliki kewajiban untuk memuji secara serampangan, maka otoritas seorang pemimpin segera akan digerogoti dari dalam oleh rayap-rayap sanjungan itu.
Sayang seribu sayang, saran Machiavelli tak berarti apa pun di negara ini. Sang kaisar tampak lebih memilih membuangnya ke keranjang sampah sejarah. Tak ayal kalau hampir saban hari, netra kita dipaksa berlelehan air mata. Sementara itu, mulut mulia kita dibuat tak kuasa memaki karena berkali-kali disuguhi pertunjukan komedi bertajuk “Olimpiade Penjilat” yang kian ke belakang, kian absurd belaka adegan-adegannya.
Belum lama kemarin, misalnya, ketika program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilempar ke publik dengan segala ketidaksiapan infrastruktur dan logika skala prioritas, didukung karut-marut tata-laksananya, viral Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) melaporkan fakta mengada-ada. Menurut laporan salah satu peserta olimpiade konyol yang disampaikan langsung di hadapan Presiden itu, Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah menyediakan satu ekor lele utuh untuk setiap anak. Mendengar laporan tersebut, Presiden spontan berkelakar bahwa menu itu jauh lebih baik dibandingkan dengan menu saat ia masih aktif sebagai tentara. Padahal, kenyataan yang terjadi di lapangan justru mengatakan hal sebaliknya: Tidak ada satu ekor lele utuh sebagaimana didongengkan Kepala BGN, karena yang ada cumalah satu potongan tubuh dari satu ekor lele, yang dimutilasi untuk mengisi empat ompreng anak-anak.
Saya curiga, Kepala BGN sedang berusaha meyakinkan sang Kaisar, bahwa satu ekor lele bisa membelah diri demi memenuhi kuota ompreng setiap siswa. Jelas ini jadi sebuah mukjizat gizi yang melampaui hukum alam mana pun. Namun, kita juga mesti objektif. Pada satu kasus, misalnya, pernyataan Kepala BGN bisa dibilang benar. Satu ekor lele itu memang nyata tersedia secara utuh per satu anak. Sayangnya, ikan berkumis yang tampilannya tak good looking itu ternyata diberikan masih dalam kondisi mentah berlumur bumbu belaka.
Laporan yang mendarat di meja Presiden dengan angka dan narasi sungguh mencengangkan serupa kita temui juga pada peserta olimpiade yang lain. Apa yang lebih ajaib dari pernyataan Ketua Umum PBNU bahwa MBG tidak hanya menyehatkan fisik, tetapi juga meningkatkan semangat, daya juang, dan “kesaktian” para santri? Bro kira ini kisah silat Wiro Sableng? Sulit bagi saya untuk tidak terpingkal-pingkal saat membayangkan sebutir telur penyok dan segelas susu bacin mampu memberikan efek instan berupa ilmu kanuragan bagi para santri.
Jika narasi “kesaktian” itu benar adanya, mestinya kita tidak lagi membutuhkan anggaran alat utama sistem senjata (alutsista) berharga triliunan. Sebabnya jelas, cukup suplai lele mutilasi secara rutin, maka para santri akan memiliki daya hancur setara hulu ledak nuklir hanya dengan modal sendawa pascamakan siang. Well, untuk yang terakhir ini, jujur saja agak seram buat dibayangkan. Lihat juga bagaimana sang Ketua Umum PBNU, dengan retorika moralisnya, mengimbau supaya Presiden tidak buru-buru keluar dari Board of Peace (BoP).
Sama mengada-adanya dengan petinggi ormas ijo, yakni Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) yang diam-diam memiliki spesialisasi ganda sebagai “pakar teologi kuliner”. Betapa tidak, seorang menteri yang mengemban tugas untuk mengurus perkara agraria saja belum becus, tiba-tiba merasa perlu melakukan ekspansi jabatan sebagai penyedia jasa katering dalil. Dalam sebuah video yang marak beredar di jagat media sosial, dengan peci sedikit penceng dan raut ngantuk yang di-gusdur-gusdur-kan, Menteri ATR/BPN mendadak sibuk membongkar lembaran kitab suci hanya untuk mencari ayat yang bisa dipaksakan sebagai alas kaki kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hasilnya? Voila! Ujug-ujug, urusan distribusi telur rebus dan potongan lele mutilasi pun jadi punya landasan teologis-sakral yang dicomot dari salah satu surat Al-Qur’an. Di tangan para penjilat berbaju agamis, kebijakan negara yang serampangan pun dipoles menjadi kewajiban religius. Jika hari ini Anda mengkritik betapa tidak efisien anggaran untuk program berskala gigan tersebut, mungkin Anda tidak hanya dicap anak abah. Boleh jadi, Anda juga bakal dituduh menghambat rahmat dari langit. Termutakhir, ada pula sepasang oknum “gus-gusan”, yang sama-sama hobi memproduksi hiperbola. Jika yang pertama menyanjung Menteri ESDM sambil membandingkannya dengan Rasul Muhammad yang oleh pamannya sendiri kerap dihujat, yang kedua memuji kaisarnya dengan dongeng yang lebih jenaka daripada anggitan Andersen.
Sungguh ulah member pertama dari duo serigala itu bakal membikin repot para teolog dan sejarawan—Sebab, itu berarti mereka harus merevisi seluruh literatur kenabian hanya demi mengakomodasi nggedabrus tingkat dewa. Member yang kedua sama merepotkannya: Pria gondrong yang istikamah berkacamata hitam, bahkan di malam hari itu. Dua kapal Pertamina yang tak diizinkan melintasi Selat Hormuz ia sebut-sebut telah dibebaskan secara heroik oleh junjungannya. Hal itu diklaimnya telah menjadi sebab harga BBM urung melambung.
Kenyataannya, dongeng canggih itu berkebalikan dengan dua fakta telak, bahwa: (1) Dua Kapal Pertamina, hingga detik ngibul itu ia dongengkan pada jamaahnya, ternyata masih tidak diizinkan untuk melintas oleh Iran; dan (2) Harga BBM urung melonjak, sebab jalur diplomasi tidak memungkinkan, sehingga negara harus merogoh kocek hingga berdarah-darah demi menjaga stabilitas semu. Dengan kata lain, “nombok”. Artinya, sang pria gondrong berkacamata hitam telah menggeser narasi asli, hanya demi melambungkan nama junjungannya.
Betapa jika Machiavelli tahu komedi ini, ia akan menangis sesenggukan di atas pusaranya sendiri, seraya menyobek halaman demi halaman The Prince lalu menggulungnya menjadi tisu toilet. Tidak lain hanya agar ia punya alasan untuk menyeka air mata sekaligus membersihkan sisa-sisa “tai” politik yang tumpah ruah dari mulut para pejabat itu. Pasalnya jelas: Bagi sang pemikir Italia itu, menjilat adalah racun bagi stabilitas negara. Kalau seorang pemimpin hanya dikelilingi oleh para “Yes-Men”, bisa kita pastikan, si pemimpin tersebut sebetulnya sedang berjalan menuju jurang dengan mata terbebat, sambil dipandu oleh orang-orang yang terus meyakinkannya bahwa dia sedang terbang tinggi di atas awan. Masalahnya, ketika sang pemimpin tak sadar digiring terjungkal ke dasar jurang, rakyat pun terkena dampaknya. Harus saya akui, pepatah yang kerap dikutip sang kaisar bahwa “ikan busuk, sejak kepalanya” dalam hal ini relevan belaka.
Mari kita bergeser dari dongeng Andersen menuju novel karangan George Orwell. Jika Anda pernah membaca Animal Farm, novel sejarah-politik berbulu fabel karangan Orwell itu, para “Yes-Men” tersebut akan Anda temui alegorinya pada sosok babi bernama Squealer. Siapapun yang membaca Animal Farm saya kira tahu bahwa Squealer adalah tangan kanan Napoleon. Ia bertindak sebagai mesin propaganda yang tinugas memastikan setiap kegagalan Napoleon dibingkai jadi kemenangan strategis nan jenius. Sebagai mesin propaganda, Squealer dibekali bakat orator ulung, persuasif, sehingga kata-katanya mampu memanipulasi hewan lain dengan membolak-balikkan kebenaran demi membenarkan tindak tirani para babi, bahkan mengubah Tujuh Perintah untuk kepentingan Napoleon semata.
Sungguh jadi ironi tak terampuni lagi jika kita menyaksikan para tokoh Islam yang begitu menjaga kesucian diri dari najis, di panggung politik perilakunya kita temukan padanannya justru pada sosok Squealer: Seekor babi yang, kita semua tahu, jelas-jelas mereka haramkan hingga ke urusan piring dan sendok di dunia nyata. Apa boleh buat, segala pernyataan dari para “Squealer Baru” itu secara blak-blakan menunjukkan bahwa alih-alih bertindak sebagai penyeimbang atau pengingat etis bermuru’ah, malah menjadi sekadar humas pemerintah.
Dampaknya, setiap kali ada kebijakan kontroversial atau bahkan sangat konyol, yang keluar dari mulut mereka pun melulu pembenaran-pembenaran yang dipaksakan hingga urat leher tegang, ketimbang misalnya, kritik substantif berlandaskan nilai-nilai luhur keagamaan. Ketika sang kaisar memutuskan untuk membangun sesuatu yang tidak perlu di tengah krisis—pembangunan masif Koperasi Merah Putih di daerah-daerah, contohnya—para “Squealer Baru” itu segera sigap menyiapkan narasi bahwa keputusan junjungannya adalah simbol kemajuan bangsa yang setara dengan pembangunan Piramida. Meski kenyataannya, apa yang junjungannya bangun barangkali sekadar toko kelontong yang dipoles dengan cat merah-putih mentereng, yang boleh jadi, harga sebungkus mie instannya lebih mahal daripada harga diri para pejabat yang menggunting pita peresmiannya.
Pratik “jilat-menjilat” sedemikian rupa, mau dijalankan oleh siapa pun dan di sektor tingkat mana pun, dampaknya amatlah sistemik. Kebijakan yang salah akan terus dilanggengkan karena tidak ada yang bilang kepada sang kaisar bahwa ide itu sungguh buruk dan memalukan. Bahwa ide itu sungguh akan menghancurkan stabilitas negara. Sebagai akibatnya, sumber daya negara pun terbuang sia-sia hanya untuk membiayai proyek-proyek mercusuar; proyek-proyek yang hanya bagus di atas kertas presentasi. Di samping itu, praktik “jilat-menjilat” juga berpotensi mengikis-habis kepercayaan publik. Saya yakin, rakyat tidaklah buta. Mereka melihat “ketelanjangan” itu dengan mata kepala mereka sendiri. Toh tidak sedikit dari mereka yang merasakan harga sembako kian mencekik dan lapangan kerja kian menyusut.
Sementara itu, hukum dijalankan tebang pilih, para pengkritik melulu dituduh sebagai makar, antek asing; mereka yang dilanda musibah penyakit-kronis, tersaruk-saruk nasibnya karena keanggotaan BPJS tiba-tiba nonaktif. Di tengah realitas pahit semacam itu, pada saat yang sama, rakyat malah melihat para pejabat dan tokoh agama asyik bertukar liur dengan kaisar, seolah-olah Indonesia sedang berada di puncak kejayaan imperiumnya. Demikianlah bila diterus-teruskan, akan lahir yang namanya “sinisme massal”. Harus digarisbawahi, peradaban yang dibangun di atas sinisme, apalagi bertiras massal, sungguh merupakan peradaban yang amat rapuh.
Baiklah, kita kembali lagi ke dongeng Andersen. Dongeng itu pungkas begitu seorang anak kecil polos berteriak, “Tapi dia tidak memakai baju apa pun!”. Kesederhanaan dan kejujuran anak kecil itu lantas meruntuhkan seluruh struktur kebohongan yang dibangun para pejabat istana yang ketakutan. Sialnya, kejujuran semacam itu, hanya mungkin terjadi dalam dongeng Andersen, tidak di kabinet saat ini. Kita selalu melihat, ketika sang Kaisar sebagai pusat kekuasaan mengatakan dua tambah dua adalah lima, seluruh orkestra penjilat akan segera mencari pembenaran, mulai dari pembenaran secara matematis hingga teologis, demi mendukung hasil penjumlahan ngaco-nya. Padahal, kebebasan sejati adalah kebebasan untuk mengatakan bahwa dua tambah dua sama dengan empat. Bukan kebebasan tak ngotak yang mengatakan empat ekor lele untuk empat ompreng siswa guna menutupi kenyataan bahwa sebenarnya, yang disediakan cumalah empat potong tubuh seekor lele yang dibagi ke empat ompreng anak-anak sekolah.
Barangkali benar apa yang dikatakan publik: Sang Kaisar mengidap Narcissistic Personality Disorder (NPD). Namun, NPD ini dalam varian lebih lokal dan komunal: Narsisme Berjamaah. Gejala utamanya adalah ketidakmampuan membedakan antara prestasi nyata dengan halusinasi kolektif yang dipompakan oleh para pembisiknya. Sudah menjadi tabiat para penjilat di mana pun itu, mereka tak ubahnya kodok buduk hiperaktif yang hobi melakukan proses ampleksus pada kaki kursi kekuasaan. Layaknya amfibi yang suka menyumbat aliran drainase hingga menyebabkan banjir cileuncang, mereka gemar menciptakan sebuah gelembung yang memisahkan pemimpin dari kenyataan riil di lapangan.
Gelembung ini jelas bukan sembarang gelembung. Ia lahir dari sekresi lendir kental nan menjijikkan yang keluar dari pori-pori oportunisme; semacam biofilm tebal yang berfungsi sebagai filter agar hanya frekuensi pujian yang bisa menembus gendang telinga sang Kaisar. Well, negara besar ini, boleh jadi akan hancur karena serangan dari asing sebagaimana sering dicemaskan sang Kaisar. Namun, jauh sebelum itu terjadi, negara ini mungkin sudah lebih dulu karam dalam kolam-liur para penjilatnya sendiri.
Yohan Fikri adalah penulis dan kritikus sastra.
Editor: Asief Abdi
Foto: Asief Abdi


