Esai Budaya

Kebanalan Patriotisme di Balik Pesawat Nirawak 

“Il est défendu de tuer; tout meurtrier est puni, à moins qu’il n’ait tué en grande compagnie, et au son des trompettes.”

Ode di atas menjadi kunci rahasia dikutuknya Kotak Pandora dan ambrolnya Kunstakammer lemari teror (Cabinets of Curiosities, terjemah bebas) Guillermo del Toro. Lebih parah dari keduanya, karena paling tidak orang tahu mana yang baik dan benar, kutipan ini adalah temuan pertama atas berhasilnya kebengisan di atas akal budi; pembunuhan perorangan pastilah haram, namun pembunuhan massal membuat pembunuhan itu sendiri dihalalkan. 

Kutipan tersebut milik Voltaire. Ia membeberkannya dalam karya Questions sur les miracles yang paling tidak begini artinya; karena pembunuhan haram, maka semua pembunuh wajib diganjar, kecuali kalau ia membunuh dalam jumlah besar dan menunggu hingga trompet ditiup.

Pembunuhan menjadi barang halal setelah pemerintah memasang lencana di dada seorang prajurit, menganugerahinya pangkat seorang pahlawan, lalu dar der dor turun ke medan perang. Semakin banyak ia membunuh, semakin ia melesak maju berada di posisi terdepan. Saat kalah atau menang nanti, sekembalinya ia, ia bakal menjadi orang berpangkat bertanda jasa. 

Saat ini, pembunuhan semakin licin di negara maju. Sekali lagi, saat ini. Maka, mari hengkang dari tradisi perang lama ketika Questions sur les miracles ditulis di abad 18. Karena perang saat ini bisa memberedel jeroan musuh hingga melenyapkannya jadi abu menyisakan sandal yang gosong, tanpa … membuat penyerang tersentuh dan tampak di mata musuh

Saya tidak menyadur gaya mata-mata atau pembunuh tersembunyi yang mengokang senjata sambil tengkurap dinaungi semak yang sudah diberaki landak dan musang. Bukan, bukan mereka. 

Pembunuh akhir-akhir ini adalah angkatan perang bersenjata yang sudah dilindungi, dibekali, dilatih, dan diagungkan negara. Angkatan bersenjata saat ini, tidak bakal bisa mati, tapi sasaran peledaklah yang bakal musnah. Penembak dan pengebom berada bermil-mil jauhnya, berjarak fisik lintas samudra dan benua. 

Meskipun kenyataan ini terdengar seperti teka-teki silang dalam bungkus makanan micin lima ratus rupiah, penting sekali untuk menggarisbawahi bahwa kenyataan ini bukan fiktif apalagi imajinatif. Bukan pula kenyataan ini disadurkan pada cara kerja bom nuklir dari jarak jauh. Proses perang saat ini sudah sangat berbeda, dan sudah waktunya diskursus macam Perang Baratayuda tutup buku dan gulung tikar. 

Isi Perut Pesawat Nirawak 

Kalau mobil tanpa sopir bukan lagi mimpi, dalam dekade terakhir negara-negara digdaya memproduksi pesawat nirawak pembawa bahan peledak. Pesawat ini dikendalikan tentara, perwira, atau mantan gamers andal dari balik layar.

Angkatan Udara Amerika Serikat dalam operasi kontijensi luar negeri kerap kepincut dengan produk MQ-9 Reaper (salah satunya, AS juga banyak menciptakan dan mengadopsi model lain). MQ-9 Reaper adalah pesawat nirawak (umum disebut UAV atau unmanned aerial vehicle serupa drone yang katanya lebih jitu dalam hal melumpuhkan dan menghancurkan sasaran daripada MQ-1 Predator (merek lain). 

Dengan panjang 11 meter dan tinggi 3,8 meter saja ia bisa membopong 2,223 kilogram rudal serta bermacam bom. Berdasarkan data terkini, harga MQ-9 Reaper mencapai 56,5 juta dolar AS atau sekitar 876 miliar rupiah, lebih murah dari jatah MBG. Sementara itu, sekitar 50 unit dioperasikan oleh Komando Operasi Khusus Angkatan Udara Amerika Serikat (AFSOC). Bukan tahun 2020-an, juga bukan konon apalagi hal baru, MQ-9 Reaper dibebaskan beroperasi pada Oktober 2007.

Figur 1: Kelas UAV drone yang sudah dijalankan di beberapa negara, pembagian kelas menunjukkan bermacam kapasitas, salah satunya adalah semakin tinggi kelas semakin mampu ia membawa beban berat. Kredit foto: Angkatan Laut Spanyol (Gettinger, 2019).
Figur 2: (Kiri) Skuadron ke-11 di Irak pada November 2018. (Kanan) Pesawat udara nirawak Alcotan milik Angkatan Laut, sebuah sistem uji coba dalam program Rapaz. Kredit foto: Angkatan Laut Spanyol (Gettinger, 2019).

Kebanalan Tiada Tanding

Akhir-akhir ini, para sosiolog tak kuasa menahan kengerian atas pesawat nirawak yang dipasarkan semudah transaksi mainan. Tapi, masalah ini sudah tidak mengecambah dalam ranah perputaran bisnis senjata. Tidak banyak riset yang mengungkap tragedi bunuh diri di kalangan angkatan perang. Padahal, mereka merupakan insan patriotik yang kaya raya. Tergambar dalam isi buku harian para pekerja di balik operasi pesawat nirawak serta praktik pemantauan target peledakan yang tidak etis. Esai ini akan menyinggung tentang itu dan sepenuhnya merujuk pada karya Rauch dan Ansari (2022) yang bertajuk Waging War from Remote Cubicles: How Workers Cope with Technologies That Disrupt the Meaning and Morality of Their Work

Virginia Woolf pernah mengenalkan pada para pembaca seorang perwira bernama Septimus Warren Smith dalam karyanya Mrs. Dalloway. Ia seorang veteran Perang Dunia I yang tiba-tiba (tidak ada hujan badai apalagi angin) lompat dari jendela dan ditemukan tewas seketika. Bukan kiranya lagi, veteran seperti Septimus juga mengingatkan pembaca pada tokoh-tokoh garapan John Steinbeck (Tortilla Flat terbit tahun 1935, Danny dan para bestie-nya), Borys putra Joseph Conrad sendiri yang sudah menjadi patokan simbolis imajiner korban trauma pasca-perang dalam seluruh karyanya. Kemudian H. P. Lovecraft dalam karyanya Dagon terbit tahun 1919 yang juga kebetulan nasibnya sama dengan Septimus, lompat dari jendela. Ditambah, ada selusin tokoh garapan Osamu Dazai (utamanya dalam karya The Setting Sun dan No Longer Human). Juga Edogawa Ranpo (dalam karyanya Kursi Manusia,  kumpulan cerpen terjemahan Kakatua) yang menggelontorkan isu trauma pasca-perang dengan sudut pandang di luar nalar para psikolog. 

Sepatutnya, analogi tersebut sedikit pincang karena baik Septimus, maupun tokoh-tokoh dalam karya Steinbeck, Conrad, Lovecraft, Dazai, dan Ranpo, semua tidak benar-benar pulang dengan selamat. Ada yang cacat, mengalami arketipe luka psikologis yang sama, dan mereka juga bernasib sama: bunuh diri. Sebaliknya, dalam kasus para pelaksana pesawat nirawak. Para veteran atau perwira ini tidak benar-benar pergi perang, terluka fisik, apalagi terdampar hingga ke pulau tak berpenghuni yang penuh setan. Lantas, bagaimana bisa para patriot ini berakhir dengan bunuh diri sebagaimana sehimpun tokoh-tokoh sastra di atas sedangkan mereka tak mengalami hal yang sama? 

Jawaban pertama tak boleh hengkang dari patriotisme yang disetubuhi. Saat ini, para pekerja pertahanan negara tidak benar-benar turun ke medan perang dan mengokang senjata. Sekali lagi, mereka duduk menghadap layar, memantau target, melaporkan target, lalu menyerang target setelah mendapatkan persetujuan pihak pemberi komando. Namun, cara kerja ini tidak matematis, sementara deteksi kecerdasan imitasi hanya memberi peringatan atas aktivitas berpola.

Sarimi dan Sukro selalu meninggalkan rumah pukul enam pagi dan terlihat memasukkan benda berat ke dalam bagasi mobil (padahal galon, misalnya). Keduanya menuju lokasi agak terpinggirkan di suatu kota untuk menurunkan beban tersebut (padahal ini ke rumah seorang rekan). Lalu, keduanya pulang pukul enam sore. Ini terjadi tanpa putus, setiap hari

Sarimi dan Sukro kemudian menjadi target dan mereka jadi jenazah abu. Reka adegan ini sama sekali bukan fantasi. Selengkapnya, kejadian ini berjejak digital di The New York Times, sepuluh warga sipil di Kabul, Afghanistan meninggal (kebanyakan anak-anak). Media sudah biasa mengabarkan relawan kemanusiaan dan warga sipil Gaza juga jadi target yang salah. 

Selain salah membidik target, banyak pula teknologi pemantau yang dibantu akal imitasi untuk mendeteksi keseharian seseorang. Misalnya, target Alpha adalah perempuan berkeluarga yang sering menyembunyikan bungkusan (isinya kelapa) untuk dibawa ke pasar. Ia adalah seorang janda dan semestinya tidak boleh keluar rumah kecuali menyuruh seorang wali, entah saudara laki-laki. Kehidupan Alpha sejak bangun pagi hingga ia terlelap, terus dipantau. Seorang petugas yang diamanahi target Alpha, kadang tahu bahwa objek mencurigakan itu adalah kelapa. Bahkan, tahu bahwa target Alpha adalah perempuan rentan yang harus menghidupi anaknya. 

Namun, ketika ia menjadi target penyerangan dan dicap berbahaya atau antek Taliban, ia pun hangus seperti korban tak bersalah lainnya. Fakta-fakta ini—baik yang telah diliput media maupun yang hanya menjadi catatan para pengamat—menunjukkan bahwa dunia kian dipenuhi kebusukan, hingga kehilangan seorang ibu bagi segelintir anak kini dianggap remeh. Menurut riset, para patriot terikat batin dengan target. Mereka merasa bersalah dan memutuskan mengakhiri hidup karena tak sanggup menanggung beban malu dan moral. 

Jawaban kedua, keadaan psikologis selalu tidak stabil karena para abdi negara ini kesulitan menempatkan diri dan kontribusi. Mereka tak lagi dihormati karena tidak turun langsung ke medan perang. Seusai tugas, mereka pulang seperti pekerja kantoran. Tiba di rumah sore hari, makan bersama keluarga, lalu bersantai—meski siangnya bisa saja menjatuhkan bom pada target yang keliru. Tanpa darah atau debu di seragam, mereka tampak rapi dan bersih, layaknya karyawan bank yang tak tersentuh medan konflik. Fungsi banal ini membuat pertahanan moral mereka runtuh. Dan meski cangkang mereka rapi, bersih, wangi, dan berwibawa, mereka toh memutuskan untuk bunuh diri. 

Para patriot yang tertekan dan sadar akan panggilan moral mulai mengurangi jumlah personel. Berdasarkan sejumlah riset, institusi pertahanan di Amerika Serikat kemudian melatih mantan gamers— tanpa latar belakang militer—untuk mengisi posisi tersebut, hanya berbekal kemampuan menembak dalam permainan menembak zombie.

Tak satu pun leksikon dalam kamus bahasa dunia mampu menggambarkan kebanalan semacam ini. Kurang dari satu dekade ke depan, kita bakal tahu (melalui fakta dan riset di atas) kalau di kemudian hari bukan hal aneh kalau Badan Intelijen Negara bisa menjadi sarang para pemain Mobile Legend

Referensi:

Gettinger, D. 2019. The Drone Data Book. Annandale-on-Hudson: Center for the Study of the Drone. 

Rauch, M., & Ansari, S. (2022). Waging War from Remote Cubicles: How Workers Cope with Technologies That Disrupt the Meaning and Morality of Their Work. Organization Science, 33(1), 83-104. https://doi.org/10.1287/orsc.2021.1555


Putriyana Asmarani adalah penulis cerpen dan esai.

Editor: Putri Tariza
Foto: Putri Tariza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *