Kritik Seni

Sastra Etika dan Sastra Estetika

Tahun 2025 kemarin, saya dan sembilan kawan-kawan dari seluruh Indonesia mengenyam pendidikan sastra di Museum Sastra Indonesia, Padang Panjang, dalam agenda Belajar Bersama Maestro (BBM) bentukan Kementerian Kebudayaan. Kami digembleng siang malam di bawah kurikulum Om Gus Tf Sakai (karena kami sepakat untuk memanggil beliau dengan sebutan om).

Di minggu pertama, kami hanya berkenalan, saling mengenal satu sama lain, yang kemudian beliau sebut sebagai latihan pengenalan karekter. Ini sangat penting jika ditransferkan nanti ke dalam penulisan fiksi, baik puisi atau prosa—bagaimana melihat karakter seseorang, menganalisis cara bicara, dan gerakan yang dia buat ketika sedang bicara. Di minggu kedua, saya mulai sadar praktik tersebut (tidak langsung dihadapkan kepada teks) merupakan bentuk paling krusial yang harus dimiliki tiap penulis—apalagi bagi kami yang baru memijak dunia sastra. Jadi, saya beri tulisan ini  judul “Sastra Etika dan Sastra Estetika”. Sebab, di sanalah akhirnya saya menemukan sumbu pengetahuan baru mengenai jagat sastra yang luas.

Dalam pandangan saya, dua kutub yang saya sebut dalam judul tulisan ini merupakan gabungan yang mustahil terpisah. Namun, dalam cakupan modern penulis seolah harus memilih salah satu—seperti coblosan saat pemilu. Karya-karya yang terbit dewasa ini lebih condong ke arah estetika belaka alih-alih memperjuangkan etika. Kejaran kuantitas jauh lebih diunggulkan daripada berlama-lama mengolah kualitas.

Teman saya, seorang penulis, baru-baru ini mengalami persimpangan dalam proses kreatifnya. Dia pikir bisa menulis banyak tanpa mesti mempertimbangkan etika dan wacana—tulisannya sangat laku di kalangan Gen Z, laris manis bak jualan es krim di musim kemarau. Akan tetapi, saat dia ingin memperdalam etika di dalam tulisannya, karya tersebut malah dicap dangkal, momok di dunia sastra, dan racikan sungsang seorang  peramu amatiran bertangan prematur.

Dia menjelaskan kalau seni—seperti dia kutip dari On Moral Fiction (1978) karya John Gardner—haruslah berupa pengajaran yang hadir untuk memberikan petunjuk bagi para pembaca. Masalahnya, idealisme macam itu melahirkan PR berupa ketimpangan wacana antara pembaca dan dirinya. Pembaca Gen Z dia sebut ogah-ogahandalam memahami secara mendalam serta hanya berpaku pada target bacaan. Pembacaan dangkal itu merupakan bentuk lain dari praktik bobrok modernisme yang mementingkan berapa banyak bacaan dalam setahun—untuk kemudian diunggah ke instagram demi predikat intelek. “Padahal,” lanjut dia, “Sastra harus sarat estetika dan wacana sehingga apa yang kuniatkan sampai ke kepala pembaca.”

Sampai di sini saya paham betul persoalan yang dia hadapi—yang tak lain hanyalah perkara uang dan tetek-bengeknya. Jika teman saya menulis dengan mengabaikan etika dan hanya berpegang pada tonggak estetika semata, tulisannya bakalan ringan dan amat disukai pembaca—bukunya dapat dinikmati di dalam pesawat, kereta, bus, di atas tempat tidur yang nyaman, bahkan di kamar mandi! Tidak akan ada kerutan di kening lantaran isinya hanya euforia relate yang terus mengalir tanpa perlu mempertanyakan sesuatu dalam teks—kecenderungan yang menandai matinya pembacaan kritis.

Di sisi lain, kalau karya yang dia hasilkan “berat” dan orang butuh keliling Kota Padang dulu untuk menyibak apa makna tulisannya, maka karya itu akan dianggap buruk, berat, dan hanya cocok untuk ajang sastra tingkat dewa. Persimpangan inilah yang kemudian membuatnya mengamini ujaran Martin Suryajaya bahwa sebenarnya sastra itu menghancurkan, dan filsafat itu membangun. Akan tetapi, saat membangun pasti ada sesuatu yang dihancurkan. Misalnya, membangun perumahan di pinggir kota secara tidak langsung juga menghancurkan ekosistem asli yang ada di sana. Paradoks ini kemudian menjadi simpul yang harus dimaklumi, bahwa antara filsafat dan sastra telah terpaut erat—tak dapat dipisahkan.

Lebih jauh, tidak ada pilihan estetik atau etik, yang perlu dilakukan hanyalah meneriakkan “persetan dengan semua itu!” dan terus menulis tanpa bergantung terhadap laju algoritma, tidak takut pada angka-angka, dan tidak mengemis like di media sosial. Jalur alternatif ini merupakan jalan terjal kepenulisan dan terbukti dengan berhentinya kawan saya itu menjadi seoang penulis prosa—dia beralih menulis artikel dan joki tugas kuliah, atau sesekali tetap menulis dengan bantuan kecerdasan buatan. Ah, dunia modern yang agung.

Di awal tahun ini, saya teringat akan malam-malam panjang kami di Museum Sastra, materi yang disuapkan, kenangan manis, dan debat perkara sastra harus begini, sastra harus begitu. Saya harus kembali kepada pengertian paling purba dari sastra: teks yang mengandung petunjuk. Jika teks tersebut mengandung petunjuk, berarti dia sudah berada di level pertama. Selanjutnya, ia berhak untuk diuji ke level kedua, sastra moral. Tingkatan ini santer pada masa Romantisisme, di mana sebuah karya harus mengedepankan wacana agung yang mengandung nilai moral. Namun, siapa yang bisa mengukur nilai moral antara Timur dan Barat?—yang di Barat diukur dengan naturalis-perspektif-momenopname (NPM) dan di Timur diberi garis merah dengan waktu-ruang-datar (RWD) yang berciri naratif? Sekali lagi, persetan dengan itu.

“Tidak mudah hidup di dunia bernama sastra ini, Bung,” ujar senior saya dulu di kampus. “Apalagi dengan politik-politiknya yang amburadul dan saling kotak-mengotakkan. Mungkin di dalam sastra harus dibuat satu genre lagi, namanya sastra saling bunuh.”

Malam saat saya menulis esai ini, saya sudah menghabiskan lima batang rokok dan bertanya-tanya apakah sebaiknya saya mengikuti jalan kawan saya tadi? Setidaknya menjadi penulis artikel menjanjikan secara finansial—saya juga tak perlu berkutat di ruang liminal tentang sastra dan politik-politiknya. Di satu sisi, saya menertawakan diri sendiri karena sudah kecipratan dunia sastra yang sialnya tidak bisa dikeringkan dengan matahari intelektual lain—harus matahari sastra itu sendiri.

 Malam-malam di Museum Sastra kini terasa begitu jauh, berdebatan seru kami saban malam hanya seolah gonggongan tanpa makna belaka saat dihadapkan pada kenyataan di lapangan. Begitu banyak permasalahan, begitu banyak politik, dan begitu banyak etika yang harus dijaga di dalam dunia bernama sastra ini. Apakah jalan yang saya pilih ini benar? Apakah tanggung jawab karena telah mengikuti program Belajar Bersama Maestro (BBM) harus terus dipikul di atas pundak? Apakah saya harus menulis sebuah karya sastra kemudian dihakimi di dalam sidang—seolah yang saya tulis berlarat-larat itu hanya bualan di kedai kopi dan seluruh mulut harus mengecamnya seperti hantu Jumbalai? Sekali lagi, persetan dengan semua itu! Saya tetap akan menjadi penulis.


Hasbunallah Haris merupakan alumnus sastra arab yang kini melanjutkan studi di sejarah peradaban Islam UIN Imam Bonjol Padang. Kini bergiat di Kutub Sastra dan gemar memancing.

Editor: Asief Abdi
Foto: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *