Menulis catatan untuk kumpulan puisi Catatan Kaki Pembangunan (Penerbit Pelangi Sastra, 2026) karya Ririe Rengganis jadi satu hal yang menantang, sebab hampir separuh tebal bukunya telah memuat catatan komprehensif Tengsoe Tjahjono. Tentu saja, keputusan untuk memuat epilog yang nyaris setebal karya intinya mesti dibaca sebagai satu kesatuan. Membaca puisinya pun berarti membaca catatan itu. Lalu, yang hendak saya bagikan dalam tulisan ini ialah tidak lebih dari sebentuk laporan baca atas segenap elemen dalam Catatan Kaki Pembangunan (CKP). Kiranya cukup bilamana tulisan ini dapat mengambil posisi memperkaya antologi karya Rengganis tersebut.
Hal yang jamak diketahui dari sebuah catatan kaki ialah pelengkap atas suatu tulisan. Posisinya di bawah dan ukurannya yang kecil sangat mungkin terabaikan dan dianggap tidak terlalu penting. Dengan begitu, judul Catatan Kaki Pembangunan mungkin terkesan rendah diri. Namun, pilihan judul ini saya baca sebagai strategi puitik CKP. Persis karena isu yang dibawanya kerap terabaikan dan dianggap tidak terlalu penting.
Membicarakan pemosisian, saya melihat keselarasan dalam kata pengantar CKP, “Puisi-puisi dalam buku ini berpihak. Keberpihakan dipilih karena netralitas sering menjadi cara paling halus untuk berdiri bersama kekuasaan.” Nuansa yang hadir pada judul lekas bertransformasi ke dalam sebentuk ketegasan untuk menentukan posisi, yang juga merembes tampil dalam ilustrasi-ilustrasi CKP.
Saya akan memulainya dari sampul. Ilustrasi garapan Kreativa Grafis tersebut mengambil nuansa monokrom yang memberikan kesan biner, tegangan hitam dan putih. Lebih jauh, ilustrasi sampul menunjang judul buku dengan menampilkan rusa yang terkapar, pohon yang ditebang, lanskap retak, dan persona manusia berkepala rumah dengan aksen tekstur kulit pohon. Persona ini adalah yang paling dominan muncul–bahkan konsisten hadir di halaman pembuka dan penutup. Bagi saya, intensitas tersebut membuka ruang pembacaan lebih. Boleh jadi, ilustrasi ini hadir sebagai upaya menampilkan relasi manusia dengan alam. Coba kita bayangkan persona manusia berkepala rumah dengan aksen kulit pohon itu kita pisahkan. Katakanlah kepalanya dicopot. Nuansa yang akan segera muncul adalah horor. Sekaligus reflektif, bahwa horor itu adalah realita yang tak lagi bisa kita sangsi.
Horor yang saya maksudkan di sini bermula dari puisi-puisi dalam CKP yang terbagi dalam lima bagian. “Rimba”, sebagaimana judulnya, membentangkan persoalan ekologis seputar lanskap hutan. “Luka” menggali secara subtil daya rusak industri keruk (tambang). “Retak” mendentangkan suara sumir demonstran yang lesap di bawah kuasa rezim. “Sunyi” mengelaborasi ihwal yang garib diperhitungkan pemangku kebijakan atas keputusan penggusuran, entah yang tampak maupun yang tidak. Terakhir, “Ingat” memosisikan alam sebagai subjek aktif yang berbicara, bahkan menggugat. Kelima bagian tersebut telah didaras secara komprehensif dan koheren oleh Tengsoe Tjahjono lengkap dengan peranti teoretiknya. Catatan epilog tersebut menebalkan konteks teks-teks puisi dalam CKP. Namun, catatan Tengsoe tidak lantas menutup diskursus atas puisi-puisi Rengganis. Bagaimanapun, CKP adalah merupakan puisi yangselalu memiliki ruang pembacaan terbuka.
Seluruh puisi CKP yang mengadopsi bentuk Puisi Tiga Bait (PUTIBA)–sebuah bentuk puisi yang digagas oleh Tengsoe Tjahjono–membuat pembacaan atas tiap puisi berangsur dalam tempo yang nyaris sama. Meski demikian, ruang interpretasinya tetap terbuka. Dalam catatan berjudul “Ekonomi Kematian dan Logika Dominasi dalam Puisi-Puisi Ririe Rengganis”, Tengsoe Tjahjono mendedahkan interpretasi rigid seputar gelagat “pembangunan” dalam CKP yang menegang di antara kemajuan dan kematian secara dominatif. Jalin kelindan antara puisi-puisi Rengganis dan epilog Tengsoe mengelaborasi lebih lanjut hal ihwal keterasingan. Dalam Economic & Philosophic Manuscripts of 1844, Marx mendefinisikan alam sebagai bagian tubuh manusia. Dengan kata lain, kondisi-kondisi alam adalah material yang menunjang eksistensi manusia itu sendiri. Di sinilah CKP mendaras aras alienasi alam-manusia.
Secara umum, keterpisahan manusia dengan alam beroperasi dalam dua lapis. Katakanlah penggusuran, pada tataran yang paling banal. Dalam puisi-puisi Rengganis, presedennya tampil sebagai tegangan. Hampir seluruh puisi dalam CKP dipungkas dengan kontradiksi yang mengopresi (negara) dan yang teropresi (alam dan manusia). Misal, dalam “Hutan yang Divonis Tanpa Sidang”, “…negara menyebutnya sah. Hutan dinyatakan kalah.” atau dalam “Bumi yang Dipaksa Menganga”, “…negara menyebutnya peluang. Warga menyebutnya kehilangan.” Dalam pembacaan lebih lanjut, kontradiksi tersebut menandai perbedaan nilai. Tendensinya dapat diteroka melalui model relasi yang berlangsung. Ambil contoh, masyarakat adat dengan peranti pengetahuan lokalnya selalu bergerak dalam relasi metabolistik dengan alam. Sedangkan, corak relasi industri kiwari, dalam hal ini industri keruk (ekstraktivisme), berorientasi akumulatif dan memandang alam sebagai komoditas dan manusia sebagai tenaga produksi. Sehingga, model relasi yang lahir ialah transaksional semata. Hal ini selaras dengan yang dituliskan Tengsoe dalam epilog sebagai apa yang disebut Vandana Shiva sebagai ekonomi kematian. Pada relasi ini pula alam dan manusia sama-sama dinilai hanya dari kemampuannya untuk menghasilkan kapital, serta dalam satu tarikan napas yang sama, dicerabut dari kemenyatuannya.
Persepsi alienatif yang memisahkan manusia dan alam ini turut berkontribusi dalam moda produksi ekstraktivisme. Dalam Kapital Vol.1, Marx menulis bahwa sumber orisinal dari kekayaan adalah tanah (alam) dan pekerja (manusia). Maka, mengalienasi keduanya adalah cara paling taktis untuk mengekstraksi kapital secara akumulatif.
Mulai dari yang indrawi hingga yang abstrak, manusia dan alam diposisikan sebagai dua entitas yang berbeda. Di sinilah puisi-puisi Rengganis bekerja tidak hanya sebagai gugatan, tetapi lebih jauh sebagai wacana tandingan. Mula-mula wacana tersebut distimulasi melalui ilustrasi sampul dan diteruskan secara konsisten melalui majas-majas personifikasi. Misalnya dalam “Air yang Belajar Diam”, majas personifikasi memosisikan alam sebagai subjek aktif, “Air itu dulu bernyanyi di antara batu.” Personifikasi semacam ini membuat alam setidaknya memiliki posisi tawar. Puisi-puisi lainnya dalam bagian “Ingat” turut mempersonifikasi alam tak ubahnya manusia. Persis persona manusia berkepala rumah dengan aksen kulit pohon pada sampul. Sebagai satu kesatuan yang resisten.
Sebagai pamungkas, koherensi CKP melalui seperangkat pilihan kreatif, mulai dari ilustrasi, peranti puitik, hingga catatan epilog bertalun sebagai satu suara yang bulat. Penyeragaman bentuk ke dalam PUTIBA pun, meski berpotensi repetitif dan memiliki ruang stimulus yang terbatas, tampil tidak lain sebagai sesuatu yang bulat. Barangkali CKP juga menghendaki puisi untuk tidak berlama-lama dalam imaji yang melenakan dan mendayu-dayu di tengah kondisi sosial-ekologis yang carut marut. Puisi, dan juga sastra secara umum, bersama dengan segala kekayaan estetis yang terus berkembang sejurus zaman, mesti sesegera mungkin dikembalikan ke haribaan ibunya, dalam arti ruang yang memprakarsai kelahirannya: realitas material. Lagipula, apa yang lebih jujur daripada itu?
Muhammad Jibril menyelesaikan studi sastra di Universitas Airlangga. Kini memenuhi fitrahnya sebagai seorang pekerja.
Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Ikrar Izzul Haq


