Bu Guru Choi Ji-seon (Song Si-an) meraih tali kuning yang menggantung sebagai hiasan di langit-langit ruang kelas Sekolah Dasar Hyeonjung. Satu kakinya kini telah bertumpu di sandaran punggung bangku abu-abu. Tangannya menggenggam tali itu. Wajah muramnya yang tegang dipenuhi kilasan-kilasan kejadian lampau. Kita barangkali sudah dapat menerka adegan apa yang akan terjadi. Namun, ada yang menjaga nyala kehidupan itu. Im Han-rim (Jin Ki-joo) memegang tangan sang ibu guru muda. Ia mengingatkan dan menuntunnya mengikuti tes psikologi yang digelar untuk semua guru pada hari itu.
Di buku catatan hariannya, Bu Guru Choi bertanya, “Apakah ini baru akan berakhir jika aku mati?” Pertanyaan itu merupakan akumulasi kelelahan fisik, mental, dan emosional yang tiada henti.
Bagaimana seorang guru muda yang semula ceria dan bersemangat mengajar dapat sampai pada titik itu? Semuanya bermula dari satu relasi yang tampaknya sederhana: hubungan seorang guru dengan orang tua murid.
Pada hari pertama sekolah, muridnya, Kim U-jin, tampak malu ketika sesi perkenalan. Seusai kelas Bu Lee Ji-young (Park Ji-yeon) bercakap-cakap dengan Bu Guru Choi dan bertanya apakah ia dapat menghubungi jika memiliki pertanyaan tentang perkembangan anaknya. Dengan ragu, Bu Guru Choi menjawab bahwa ia dapat dihubungi melalui Talk Mate pukul 08.00 sampai 18.00. Batas itu sebenarnya sudah cukup jelas, tetapi batas yang dibuat seorang guru ternyata tidak selalu cukup untuk melindungi dirinya.
Bu Guru Choi segera mendapat pesan pertama. Jangan terlalu keras saat bicara dengan U-jin. Bu Guru Choi menuliskan permohonan itu di sticky notes dan menempelkan di buku catatan hariannya sebagai pengingat.
Ternyata, pesan-pesan itu terus berdatangan. Saat ia membaca buku jelang tidur malam, ponselnya tiba-tiba berdering. Jawaban U-jin yang salah jangan dicoret garis miring. Pakai simbol lain. Ketika Bu Guru Choi sedang nongki-nongki dengan bestie-nya, layar menyala. Jangan! Tak boleh! Stop! Jangan pakai ungkapan melarang seperti itu.
Jika dia bertengkar dengan temannya, kau harus membela anakku. Pesan itu masuk tatkala ia baru saja keluar dari stasiun kereta.
Bahkan, manakala ia tengah pesta minum-minum merayakan jelang pernikahan sahabatnya, pesan tak pantas masuk. Bu Lee mulai mengkritik cara berpakaian si guru. Pesan yang membuatnya jijik dan terhina.
Tidak berhenti sampai situ, Bu Lee makin menjadi-jadi dengan menulis komentar di berbagai unggahan Instagram Bu Choi. Kenapa mengunggah hal memalukan yang bisa dilihat anak-anak? Ini memancing rasa penasaran seksual anak. Komentar dengan nada menghakimi. Kau selalu keluyuran. Tak memikiran murid? Lalu, tuduhan sepihak dengan perintah memaksa yang condong ke arah pelecehan verbal. Gaji dari pajak kami dihabiskan untuk hura-hura. Gunakan waktumu untuk menyiapkan pelajaran. Seakan-akan guru tak boleh punya kehidupan lain.
Begitulah kisah episode kelima serial Teach You a Lesson (Chamgyoyuk), drama Korea Selatan yang menampilkan kisah seorang guru burnout yang nyaris mengakhiri hidupnya. Tekanan bertubi-tubi dari pesan dan telepon orang tua yang tiada henti membuatnya di ambang kehilangan akal.
Saya tak hendak mengatakan bahwa semua orang tua toksik seperti Bu Lee. Justru sebaliknya, hubungan orang tua dan guru merupakan bagian penting dari pendidikan. Orang tua adalah mitra. Masalahnya bukan apakah orang tua boleh bertanya, menyampaikan keberatan, atau mengetahui perkembangan anaknya, melainkan bagaimana hubungan itu dikelola sehingga tetap menjadi hubungan profesional, bukan hubungan pribadi tanpa batas.
Sebab, tugas guru tidak hanya mengajar. Di balik jam-jam pembelajaran terdapat persiapan, penilaian, administrasi, pengelolaan kelas, pemenuhan kebutuhan belajar siswa, pengembangan profesional, dan pekerjaan membina relasi yang sering kali tidak terlihat. Setiap hari guru berhadapan dengan manusia: anak-anak dengan usia, karakter, pengalaman, dan cara berpikir berbeda. Guru harus menyesuaikan bahasa, pendekatan, bahkan cara berpikir agar pesan pendidikan dapat diterima.
Pekerjaan membina relasi itu tidak berhenti di ruang kelas. Apa yang dilakukan guru terhadap siswa sering kali memiliki konsekuensi bagi hubungan dengan orang tua. Saya pernah sampai di tahap frustrasi menghadapi kebiasaan siswa menyalin pekerjaan rumah temannya. Suatu hari, ketika menemukan tugas dengan jawaban yang diksi, koma, dan titiknya persis sama, saya mencoba strategi “kebalikan”. Alih-alih langsung menghukum siswa yang menyontek, saya memberikan skor 99 kepada penyontek dan skor 0 kepada siswa yang jawabannya disalin.
Tentulah mereka terkaget-kaget. Tak menyangka. Siswa yang menyontek merasa amat bersalah, sedangkan siswa yang tugasnya disalin merasa dirugikan. Strategi itu saya gunakan bukan untuk mengukur kemampuan akademik, melainkan sebagai intervensi formatif agar mereka merasakan ketidakadilan yang muncul dari perbuatannya sendiri. Saya ingin mereka memahami bahwa menyontek bukan sekadar persoalan nilai, melainkan tindakan yang dapat merugikan orang lain. Pendidikan bukan hanya soal angka. Ada kejujuran dan tanggung jawab yang juga harus dipelajari.
Malam harinya, saya menerima pesan dari orang tua yang mempertanyakan mengapa anaknya murung dan memperoleh nilai kecil. Saya kemudian harus menjelaskan bahwa strategi tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran. Penilaian itu saya tempatkan sebagai bagian dari proses formatif, bukan penentu hasil akhir siswa. Yang lebih penting, saya ingin siswa memahami dampak tindakannya terhadap orang lain.
Di situlah saya menyadari sesuatu. Apa yang bagi guru merupakan bagian dari proses mendidik, bagi orang tua bisa saja menjadi tindakan yang perlu dipertanyakan. Guru tidak hanya harus mengambil keputusan pedagogik, tetapi juga harus menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut, mendengarkan keberatan, meyakinkan, dan membangun pemahaman dengan orang tua yang memiliki latar belakang serta perspektif berbeda.
Oleh karena itu, ketika berbicara mengenai beban kerja guru, kita tidak cukup menghitung berapa jam guru berdiri di depan kelas. Ada pekerjaan emosional, sosial, dan komunikasi yang tidak selalu terlihat, tetapi nyata menguras energi. Guru mengajar manusia. Maka, ia juga harus mengelola relasi dengan manusia. Relasi tersebut tidak hanya dengan siswa, tetapi juga dengan orang tua.
Organisation for Economic Co-operation and Development dalam rilis Teaching and Learning International Survey 2024 menempatkan komunikasi dengan orang tua atau wali sebagai salah satu tuntutan pekerjaan guru. Sekitar 42 persen guru melaporkan bahwa menangani kekhawatiran orang tua merupakan sumber stres. Data itu juga menunjukkan bahwa tambahan waktu untuk komunikasi dengan orang tua berkorelasi dengan penurunan tingkat kesejahteraan dan kebahagian guru. Artinya, komunikasi dengan orang tua bukan sekadar pekerjaan kecil yang bisa dianggap selesai di sela-sela mengajar.
Masalahnya bukan hanya jumlah orang tua terlalu banyak, melainkan ketika seluruh hubungan itu harus dikelola melalui nomor pribadi guru. Bayangkan, satu guru mengajar 35–40 siswa. Jika setiap siswa memiliki dua orang tua, akan ada 70–80 orang dewasa yang dapat meminta penjelasan. Jika seorang guru mata pelajaran mengajar lima, sepuluh, atau dua belas kelas, jumlah relasi itu berlipat ganda. Pertanyaannya pun bisa macam-macam. “Mengapa nilai anak saya 79?” Lalu, “Mengapa tugasnya banyak?” Bisa jadi, “Mengapa anak saya ditegur?” Mungkin pula, “Mengapa anak saya dikelompokkan dengan si Fulan?” Atau, “Mengapa teman anak saya mendapat nilai lebih tinggi?”
Jika semua pertanyaan itu masuk langsung ke WhatsApp pribadi guru, waktu dan energi guru akan habis di luar jam sekolah. Guru bukan lagi hanya mengajar. Ia menjadi pemberi penjelasan, penerima keluhan, mediator, bahkan kadang-kadang tempat orang tua melampiaskan kekecewaan. Di titik inilah perkara hubungan orang tua dan guru berubah menjadi persoalan rancangan sistem pendidikan.
Oleh karena itu, sekolah perlu membangun sistem hubungan dengan orang tua. Guru tidak semestinya menjadi satu-satunya pintu yang harus diketuk untuk setiap persoalan siswa. Informasi rutin seperti jadwal, tugas, kalender akademik, pengumuman, dan informasi umum semestinya ditangani oleh sistem sekolah melalui portal, aplikasi, atau kanal resmi. Tidak semua informasi harus masuk melalui percakapan pribadi guru.
Persoalan pembelajaran individual tentu tetap menjadi ruang guru. Orang tua berhak mengetahui perkembangan belajar anaknya. Namun, komunikasi profesional harus memiliki waktu dan mekanisme. Sekolah dapat menyediakan jam konsultasi tertentu pada hari tertentu. Misalnya, orang tua bisa telekonferensi atau mengunjungi guru pada Rabu dan Kamis pukul 14.00 sampai dengan 16.00 untuk membahas progres belajar anaknya. Dengan demikian, guru tetap dapat berkomunikasi secara dekat dengan orang tua tanpa harus merasa wajib berjaga sepanjang siang dan malam. Guru toh juga berhak memiliki waktu ketika tidak sedang menjadi guru.
Sementara itu, persoalan konflik dan hal-hal sensitif harus menjadi tanggung jawab institusi. Tuduhan ketidakadilan, konflik antarsiswa, persoalan disiplin serius, keberatan terhadap kebijakan sekolah, atau konflik antarorang tua tidak seharusnya selalu berhenti di meja guru. Kita sebenarnya sudah memiliki struktur: guru, wali kelas, guru bimbingan konseling, wakil kepala sekolah, hingga kepala sekolah.
Namun, keberadaan struktur belum selalu berarti berfungsinya mekanisme. Dalam praktiknya, persoalan sering kali tetap diserahkan kepada guru. Maka, yang dibutuhkan bukan sekadar menambah struktur baru, melainkan memastikan setiap bagian menjalankan fungsi dan kewenangannya. Guru bukan tameng institusi. Guru adalah bagian dari institusi. Ketika persoalan terus-menerus diserahkan kepada individu, sekolah sedang memindahkan beban sistem kepada orang per orang.
Sejak awal tahun, sekolah harus menjelaskan kapan guru bisa dihubungi, melalui kanal apa, berapa lama respons, persoalan apa yang ditangani guru, persoalan apa yang ditangani wali kelas atau guru bimbingan konseling, bagaimana mekanisme keberatan terhadap nilai, dan apa saja yang sebenarnya bisa diselesaikan cukup di PTSP. Dengan demikian, batas profesional ditetapkan sebelum konflik muncul.
Persoalan ini pada akhirnya berkaitan dengan status profesional guru. Bayangkanlah dokter. Pasien dapat berkonsultasi dengan dokter, tetapi hubungan itu berlangsung dalam sebuah sistem. Ada jadwal, administrasi, rekam medis, petugas pendukung, dan mekanisme penanganan keluhan. Tidak semua persoalan harus diselesaikan melalui pesan pribadi kepada dokter setiap malam. Guru semestinya juga memiliki sistem semacam itu.
Ini bukan berarti guru tidak boleh dihubungi orang tua. Bukan pula berarti orang tua harus dijauhkan dari sekolah. Justru orang tua adalah mitra pendidikan. Yang perlu diubah bukan kedekatan hubungan, melainkan mengubah bentuknya menjadi parent partnership, “kemitraan orang tua”. Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa batas, melainkan hubungan yang memiliki batas agar kedua pihak dapat menjalankan perannya dengan baik.
Salah satu caranya adalah sekolah rutin menyelenggarakan Konferensi Tiga Arah yang mempertemukan siswa, orang tua, dan guru. Pertemuan tidak hanya dilakukan ketika siswa bermasalah. Siswa juga diberi ruang untuk menjelaskan proses belajarnya sendiri. “Ini target saya. Ini yang masih sulit. Ini hasil pekerjaan saya. Ini rencana saya berikutnya.” Dengan cara itu, anak tidak hanya menjadi objek pembicaraan antara guru dan orang tua, tetapi menjadi subjek yang bertanggung jawab atas proses belajarnya.
Guru pun tidak menjadi satu-satunya orang yang harus menjelaskan seluruh perkembangan anak. Orang tua memperoleh gambaran yang lebih utuh, siswa belajar bertanggung jawab, dan guru dapat menjalankan perannya sebagai pendamping profesional. Di sinilah hubungan sekolah dan orang tua seharusnya dibangun, bukan berdasarkan siapa yang paling cepat menjawab pesan, melainkan berdasarkan bagaimana bekerja untuk perkembangan siswa.
Oleh karena itu, kita juga perlu berhenti mengukur kualitas guru dari seberapa cepat ia membalas pesan orang tua. Guru yang membalas WhatsApp dalam lima menit tidak otomatis lebih baik daripada guru yang membalas beberapa jam kemudian. Profesionalisme guru semestinya diukur dari kualitas pembelajaran, perkembangan siswa, kemampuan mendiagnosis kesulitan belajar, kualitas asesmen, hubungan dengan siswa, dan kontribusinya kepada rekan kerja dan organisasi profesi.
Jika sistem membuat guru merasa harus online 24 jam untuk membuktikan profesionalismenya, kita justru sedang menggerus profesi itu sendiri. Guru membutuhkan waktu untuk berpikir, membaca, menyiapkan pembelajaran, menilai pekerjaan siswa, berdiskusi dengan kolega, hidup dengan keluarga, dan beristirahat. Guru yang selalu tersedia belum tentu guru yang bekerja dengan baik. Bisa jadi ia hanya guru yang tidak pernah diberi kesempatan untuk berhenti bekerja.
Kalau kita sungguh ingin membangun guru profesional, yang dibutuhkan bukan sekadar pelatihan tambahan. Guru membutuhkan ekosistem. Gaji layak, waktu mengajar yang wajar, waktu persiapan, pengembangan profesional, jenjang karier yang jelas, dukungan kepala sekolah, tenaga administrasi, konselor, dan tentu saja sistem komunikasi dengan orang tua yang sehat.
Kini, pertanyaannya tidak cukup ditujukan kepada sekolah. Pertanyaan itu juga harus diarahkan kepada Negara. Jika pemerintah ingin meningkatkan kualitas guru, berapa banyak pekerjaan yang sebenarnya tidak perlu dikerjakan guru? Berapa banyak pekerjaan administratif yang dapat ditangani sistem? Berapa banyak persoalan yang seharusnya menjadi tanggung jawab institusi, bukan individu? Dan berapa banyak waktu guru yang bisa dikembalikan untuk pekerjaan utama mendidik?
Kita tidak membutuhkan guru yang mahir mengurus segala-galanya. Kita membutuhkan guru yang punya waktu untuk menjadi guru. Jangan sampai guru yang seharusnya dibentuk menjadi guru profesional justru berubah menjadi “mahir dalam segala hal, kecuali mengajar”. Sebab, semakin banyak peran yang ditumpuk kepada guru, semakin sedikit ruang yang tersisa untuk pekerjaan yang membuat profesi itu disebut profesi: mengajar dan mendidik.
Kita tidak ingin ada Bu Guru Choi yang lain. Akan tetapi, jangan sampai Negara hanya terkejut ketika seorang guru sudah berada di ujung batas, lalu kembali meminta guru untuk lebih kuat. Di mana Negara ketika batas itu perlahan-lahan lenyap setiap hari? Jika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sungguh ingin mengangkat martabat guru, mulailah dari pertanyaan sederhana, bagaimana membuat guru bekerja lebih baik dan bagaimana membuat guru memiliki ruang untuk bekerja sebagai guru?
Jangan meminta guru menjadi guru profesional sebelum negara membangun sistem yang memungkinkan mereka benar-benar menjadi guru.
Wendy Fermana merupakan pengajar dan pengarang.
Editor: Royyan Julian
Foto: Ikrar Izzul Haq


