Kritik Seni

Kesaksian Puisi Pinggiran

Dengan lahirnya buku puisi Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon (dan Balada Orang-Orang Batuputih) (Anagram, 2025), Romzul Falah seolah telah meneguhkan diri sebagai penyair anti-lirik. Saya tidak tahu apakah ia akan tetap istikamah di jalur ini atau tidak. Yang jelas, kini ia berhasil menyisih dari tradisi arus utama, yakni puisi liris, yang selama ini ditempuh oleh mayoritas penyair Madura.

Puisi-puisi Romzul dalam buku keduanya ini tampak seperti kumpulan cerita pendek yang dipadatkan sedemikian rupa. Melalui gaya naratif yang berupaya tidak jatuh sebagai cerita verbal, Romzul menghadirkan banyak tokoh, beragam persoalan, disertai dialog interaktif, dengan plot yang melompat-lompat dan karenanya kadang terkesan tersendat-sendat. Bagaimanapun, apa yang ditulis sang penyair tetaplah puisi dan memang diniatkan tercipta sebagai puisi.

Beberapa hal yang dilakukan Romzul untuk membuat puisinya berjarak dengan langgam prosa, di antaranya adalah pemenggalan larik dan bait yang konstan sehingga menampilkan tipografi yang relatif longgar. Selain itu, ia mengabaikan sisi kejiwaan, sifat, dan ciri fisik para tokoh, di samping tidak terlalu memperhatikan detail tempat, waktu, peristiwa, suasana dan konflik antartokoh. Penggunaan bahasanya pun tidak dibiarkan mengalir bebas meski ada sebagian puisi yang agaknya susah dikendalikan.

Memang, tak mudah menulis puisi prosais dengan bangunan sintaksis nan ketat. Ia berisiko encer dan banal. Apalagi Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon bersumber dari sejarah pinggiran dan cerita-cerita lisan. Namun, secara umum Romzul mampu mengatasi risiko itu lewat pemanfaatan simile, personifikasi, kehati-hatian diksi dan imaji-imaji ganjil (“suara bukit”, “bau bulan”, “paru-paru masa lalu”, “di belakang mata ibu”, dan lain sebagainya). Yang tak kalah menarik, betapa pun puisi dalam antologi ini bertumpu pada penuturan deskriptif, ia begitu acuh pada kesedapan bunyi.

Elemen lain yang sangat dipertahankan oleh Romzul dalam buku ini ialah ketaatannya pada ejaan dan tanda baca. Walau demikian, ada satu deviasi yang disengaja dan cukup memikat pembacaan saya. Romzul konsisten memakai huruf kapital untuk huruf pertama pada sejumlah kata yang tak seharusnya dikapitalkan, seperti kata “Tanah”, “Arwah”, “Sapi”, “Surga”, “Langit”, “Makam”, dan “Ular”. Barangkali ia punya maksud khusus di balik penyimpangan itu, misalnya dalam rangka menjunjung tinggi, menghormati, atau mengistimewakan beberapa kata tersebut lantaran ada kaitannya dengan sejarah, keyakinan, maupun kebudayaan tertentu.

Adapun dari segi tema, Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon juga bersikeras menghindari tema lokalitas yang lumrah diangkat dalam karya para pendahulunya. Sebut saja karapan sapi, carok, petik laut, saronen, ojhung, peret kandung, yang selama ini dikenal sebagai Madura-sentris. Romzul mengusung unsur kelokalan yang sama sekali beda, yaitu budaya pinggiran, dalam arti lebih mengerucut pada suatu wilayah yang jauh lebih sempit dan esoteris, berupa kisah mistik, mitos, hingga insiden keseharian yang penuh intrik dan gosip.

Kalaupun masih ada kata “sapi”, “celurit”, “kemenyan”, “dhamar kambhang”, tak lain sebagai aksesori belaka, bukan sebagai objek esensial yang disanjung-sanjung tiada ujung. Kata tersebut hanya sesekali menyela di dalam narasi tragedi pembunuhan, perselingkuhan, pencurian, perselisihan, dan sebagainya. Tragedi inilah yang menjadi inti sari dalam Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon, yang acapkali dibingkai dengan aneka mite dan okultisme, juga tak jarang dibalut aksi kekerasan. Dalam puisi “Kotheka Setan Bhiru”, misalnya, semua anasir itu tampak jalin-menjalin:

Dan di ranjang itu, seraya bercakap ikhwal kecewa,
dendam dan patah hati, mereka melenguh
dalam larangan dan pantangan,
juga pertemuan yang terulang. Hingga suatu Paing,
di tengah persanggamaan kelima, Jaelani kembali
dan menebaskan celurit yang telah diisi sari pati kitab suci.
“Mestinya tak kau tanggalkan songkok hitam
serta kemenyan
yang mengasatmatakan tubuhmu itu.”

Dosa berakhir; Suhur tersungkur dengan lambung terburai
dan kerongkongan putus, sebenar-benarnya.

(“Kotheka Setan Bhiru”, hlm. 19)

Sebagaimana nukilan di atas, puisi Romzul memang minim metafor. Tapi ia tidak menyuguhkan cerita mentah. Ia kerap bersiasat dengan permainan “alur”, ungkapan-ungkapan konotatif, citraan yang sangat khas milik suatu tempat di mana cerita itu lahir, serta pemilihan kosakata yang betul-betul dipertimbangkan keselarasan rima dan efek magisnya.

Di puisinya yang lain, “Palah Terkena Karapa Oreng”, beberapa siasat itu juga digunakan secara optimal. Sementara cerita yang terkandung, berbeda dengan “Kotheka Setan Bhiru” yang menyajikan kisah cinta terlarang atau hubungan gelap, dibumbui pencarian ilmu kesaktian sebelum kemudian berakhir dengan pembunuhan atas nama harga diri, “Palah Terkena Karapa Oreng” menceritakan seorang tokoh yang diserang penyakit misterius. Penyakit yang mula-mula diduga berasal dari niat jahat orang lain.

Tiap pukul 12 malam, Palah merasa terpanggang
di atas gamping dan melumuri tubuhnya
dengan air mawar, kulitnya bentol-bentol bara.

Ia mengira seorang ingin mencelakainya
lalu mengirim ulat bulu gaib ke ranjangnya:
ulat bulu api, ulat bulu yang bertahan hidup
dari tumbal permusuhan.

(“Palah Terkena Karapa Oreng”, hlm. 24)

Di lingkungan masyarakat tradisional, kita tentu mudah menjumpai seseorang dengan pola pikir konservatif semacam itu. Penyakit yang dianggap aneh, misalnya, kemungkinan langsung diklaim sebagai penyakit kiriman dari orang yang membenci atau memusuhi kita (Ia mengira seorang ingin mencelakainya/ lalu mengirim ulat bulu gaib ke ranjangnya). Di sisi lain, kepercayaan terhadap dunia klenik juga turut memengaruhi laku hidup mereka, seakan kepercayaan itu mustahil disingkirkan.

Di malam kelima istrinya membawa orang pintar
ke rumah. “Ini penyakit, bukan ulah jin,”
ucapnya kepada istri Palah.

“Suamimu melangkahi tempat berbuat dosa
sepasang yang bukan laki-bini. Satu-satunya cara
penyembuhan, ialah melangkahi tempat yang sama
ke arah berlawanan,” sambungnya.

(“Palah Terkena Karapa Oreng”, hlm. 24)

Tidak cukup di situ. Gosip, kita tahu, selalu mengepung kehidupan kita dari berbagai arah, tak terkecuali—bahkan lebih-lebih—dalam masyarakat tradisional yang punya waktu luang lebih besar ketimbang masyarakat urban untuk mempercakapkan segala hal yang bukan urusan mereka. Tak peduli seberapa ideal jalan yang kita pilih, tak peduli benar-baiknya perilaku kita, apalagi jika kita memang jelas-jelas salah jalan atau bertingkah laku yang melanggar norma.

Tetangga yang pertama kali mengetahui itu dan kenal Palah
sejak lama menaruh curiga, “Palah telah berlaku serong.
Palah melangkahi tempat bangsatnya sendiri.”

(“Palah Terkena Karapa Oreng”, hlm. 24)

Masih banyak cerita fantastis dengan motif yang hampir serupa: pembunuhan tukang tenung yang dilandasi rasa dendam (“Pembunuhan Ke Subahral”); pencurian sapi dan pertarungan sengit yang diakibatkannya (“Pertarungan Ke Sahrin”); hantu seorang tunawisma yang dipercaya dapat mengundang berkah (“Hantu dari Jharat”); suara seekor burung yang diyakini sebagai isyarat kematian (“Burung Tharas”), dan lain-lain. Semua itu terjadi dengan melibatkan tiga entitas yang saling berkait-kelindan, antara tokoh-tokoh penting dan problematik (ustad, bajing, dukun, penyihir, sundal, dll.), hewan-hewan mistik dan mitologis (ular kober kokon, macan putih, burung tharas, ayam biring koneng, ayam sompa’, dll.), juga tempat-tempat wingit seperti makam dan letak tumbuhnya pohon angker.

Namun, jika merujuk latar waktu dalam puisi “Beberapa Jalan Mati”, pelbagai kisah tersebut sudah puluhan tahun berlalu. Mungkin kini hanya tinggal serpihan memori di benak “Orang-Orang Batuputih” yang untungnya berhasil dirangkum oleh Romzul Falah dalam kumpulan puisinya ini sehingga dapat dinikmati khalayak luas. Akan tetapi, Romzul pun menyadari satu hal: semua telah berubah. Apa-apa yang dahulu dianggap sakral, sekarang nyaris tak tersisa.

Makam dan jalan-jalannya
dilupakan.

pohon-pohon mulai tumbang
di tangan para penebang

jiwa kami berangkat
ke barat meninggalkan
pemukiman, kuburan-kuburan
tua berjumpa petaka,
dan orang-orang dari hulu
Suramadu mengoplos hidup
kami dengan galabah.

Di Tanah wasiat
tak lagi ada keramat.
Tinggal nasib
yang simpang siur
dan berjamur.

(“Hikayat Tanah Wasiat”, hlm. 82-84)

Tangerang, 18 Oktober 2025

‎‎

Daviatul Umam adalah penulis puisi liris.

Editor: Ikrar Izzul Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *