Baik, rekan-rekan pembaca sekalian. Ada sebuah kisah yang ingin saya bagikan, sebuah renungan yang saya beri judul: “Manusia Keris”. Ini bukan sekadar esai. Ini adalah sebuah perjalanan untuk memahami diri, menelusuri jejak antropologis dan spiritual yang membawa kita pada satu pertanyaan: siapakah kita sebagai manusia Nusantara?
Mari kita mulai.
Judul ini mungkin memunculkan sebuah pertanyaan: Manusia Keris? Apa sebenarnya makna di balik istilah tersebut? Kenapa manusia disandingkan dengan sebilah senjata? Bukankah keris itu benda mati? Tapi seperti yang kita pahami, di Nusantara, terutama di tanah Jawa, Bali, Madura, Lombok, bahkan sampai ke Semenanjung Melayu, keris bukanlah sekadar logam yang digosok dan ditempa. Keris memiliki ruang dan maknanya sendiri: sebagai simbol budaya, spiritualitas, dan cara pandang masyarakat Nusantara terhadap kehidupan. Bagi sebagian orang modern, pemaknaan seperti ini mungkin terasa asing. Namun bagi leluhur kita, keris bukan sekadar benda logam, melainkan bagian dari ingatan budaya yang terus hidup hingga hari ini.
Lalu, mengapa keris—sebuah benda kecil dengan ukiran dan pamor yang khas—mampu memiliki kedudukan begitu dalam dalam identitas Nusantara? Mengapa spiritualitas yang melekat pada keris begitu kuat dibandingkan tradisi senjata di bangsa-bangsa lain yang juga memiliki sejarah panjang dalam teknologi logam?
Untuk menjawab ini, kita perlu masuk ke ruang pemikiran antropologis: apa sebetulnya fungsi simboliknya? Apa konteks sosialnya? Apa kebermanfaatannya bagi lingkungan dan bagaimana struktur berpikir manusia yang melahirkannya? Dari sini, kita akan melihat bahwa keris, sebagaimana yang disebut oleh Anthony Reid dalam ‘Southeast Asia in the Age of Commerce’, adalah bagian dari revolusi budaya Asia Tenggara dari abad ke-15 hingga ke-17, ketika masyarakat membentuk identitas baru melalui benda-benda simbolik. Keris termasuk di dalamnya. Ia bukan sekadar alat untuk melukai, melainkan sarana untuk memaknai diri. Keunikan keris tidak hanya terletak pada bentuknya karena banyak bangsa lain yang juga memiliki pedang melengkung, belati, maupun senjata ritual. Contohnya, di Afrika ada iklwa, di Jepang ada tanto, di India ada katar.
Akan tetapi yang membedakan ialah mereka tidak lagi memberikan makna spiritual yang sama terhadap benda tersebut, setidaknya dalam konteks budaya kontemporer. Keris di sini tetap hidup karena telah menjadi perpanjangan konsep kosmologi hidup kita. Geertz dalam bukunya ‘The Religion of Java’, menjelaskan bagaimana dunia spiritual jawa tidak berjalan secara dikotomis seperti materi vs roh, science vs agama, teknologi vs spiritual. Keduanya dapat hadir secara bersamaan dan saling melengkapi. Segala benda bisa menjadi rumah bagi daya, isi, dan tuah. Keris menjadi salah satu bentuk paling kompleks dari pemahaman tersebut. Ia dibuat melalui rangkaian tirakat, pemilihan hari dan logam tertentu, dan tidak dipandang semata-mata sebagai benda fisik, melainkan sebagai objek yang memiliki makna, nama, dan karakter dalam tradisi tertentu. Hal ini menjadi bukti bagaimana manusia Nusantara mampu mengelaborasi teknologi dengan spiritual.
Namun, kita tidak sedang diajak untuk menerima begitu saja hal-hal mistik. Kita akan melihatnya lebih dalam melalui perspektif ontologis: Mengapa pikiran manusia Nusantara memberi ruang bagi spiritualitas simbolik seperti ini? Mengapa hubungan antara manusia, benda, dan makna spiritual dapat bertahan begitu lama di tengah perkembangan sains dan teknologi? Jawabannnya ada pada kebudayaan mental kolektif.
Nusantara adalah kawasan tempat agama hindu-Budha, animisme, dinamisme, dan Islam saling bertemu, bukan saling meniadakan. Hindu-budha datang lalu Nusantara mengadaptasinya dengan versi Nusantara, Islam datang lalu Nusantara mengadaptasinya dengan Islam jawa dan Islam melayu, Cina datang lalu Nusantara mengadaptasi dengan budaya peranakan. Di India sendiri, pedang menjadil simbol ksatria. Di Jepang, pedang menjadi simbol kehormatan. Di dunia Arab, pedang menjadi simbol perang suci.
Akan tetapi, Nusantara tidak hanya memiliki pedang, tetapi juga punya keris. Ada cangkul, ada pedang, dan ada keris. Ketiga ini adalah tiga fase dalam manusia. Ada manusia cangkul yang orientasinya hanya pada ekonomi, ada manusia pedang yang orientasinya pada kekuasaan, dan ada manusia keris yang orientasinya pada pemaknaan hidup. Cukup tanya pada diri sendiri, apakah kita termasuk manusia cangkul, pedang, atau manusia keris? Keris juga menjadi simbol keseimbangan antara kuasa, kebijaksanaan, dan keluhuran budi. Keris tidak hanya dimiliki ksatria, ia bisa dimiliki petani, pedagang, pemuka agama, bahkan dukun di desa. Keris juga tidak hanya masuk ke ruang perang saja, ia masuk ke ruang rumah tangga, penyembuhan, kelahiran, politik, bahkan ruang takhayul.
Itulah inti dari manusia Nusantara: manusia yang hidup di simpang jalan kosmologi yunto antropologi spiritual. Keris menjadi cermin yang memantulkan siapa kita sebenarnya. Manusia yang selalu menyeimbangkan rasio dan batin. Antara pisau analisis dan pisau simbolik. Itu kenapa saya sebut esai ini “Manusia Keris”, karena itu adalah metafora indah kita sebagai bangsa. Tetapi jangan lupa, kita saat ini sedang berpikir ilmiah. Jadi, kita harus melihat data arkeologi.
Dalam penelitian H.F.R Lasiyo dan beberapa arkeolog Yogyakarta, ditemukan bahwa keris tertua diperkirakan berasal dari abad ke-9 hingga 10 M, muncul bersamaan dengan meningkatnya teknik metalurgi nikel-besi. Penelitian Raffles dalam The History of Java menyebut bahwa keris pada abad 19 sudah sepenuhnya menjadi simbol status, spiritual, bahkan menjadi identitas kasta sosial. Tapi yang menarik bukan sejarahnya. Yang menarik adalah keberlanjutannya. Karena di Thailand, Laos, dan Vietnam, senjata ritual mereka perlahan hilang sejak abad ke 19. Di india, belati spiritual hilang sejak kolonialisme. Di Jepang, pedang telah menjadi simbol museum setelah restorasi Meiji. Tetapi di Jawa, keris malah disucikan, masih dicucui dengan rangan, masih dimandikan pada malam satu suro. Artinya apa? artinya spiritualitas di Nusantara tidak runtuh dan padam saat berhadapan dengan globaliasasi modernitas. Justru bernegoisasi, bahkan beradaptasi. Lentur. Fleksibel. Itulah khas kita.
Lantas, apa yang membedakan manusia Nusantara? Banyak antropolog menyebut satu hal, yaitu continuity of animistic logic. Logika animistik yang tidak putus oleh Islam, Hindu-Buddha, bahkan modernitas. Bukan berarti kita tidak rasional, bukan berarti kita tidak ilmiah, melainkan kita hidup dengan dua kaki: satu kaki menapaki dunia empiris, satu kaki menapaki dunia makna. Keris adalah organ simbolik yang menggambarkan itu.
Maka dari itu, Manusia Keris adalah manusia yang tubuh biologisnya diciptakan oleh alam, tetapi tubuh simboliknya ditempa oleh budaya. Manusia yang ketika memegang keris bisa diartikan tidak sedang memegang logam, tetapi sedang memegang ruang makna yang tidak terputus. Manusia yang masih percaya bahwa dunia ini bukan hanya kalkulasi, tapi juga keseimbangan batin. Di poin ini kita menemukan bahwa keris bukanlah benda mati, melainkan artefak psikologis kita sebagai bangsa yang besar. Artefak cara kita memandang dunia. Nusantara bukan berjalan di jalur yang sama dengan bangsa lain. Ia memiliki orientasi kebudayaan sendiri: mencari keseimbangan antara kemajuan material dan kedalaman batin.
Pada akhirnya, kita tidak sedang membenarkan atau menolak spiritualitas keris. Kita hanya mencoba membaca dan memahami makna yang hadir di baliknya dalam konteks budaya Nusantara. Karena dalam ilmu antropologi, sebagaimana diajarkan Durkheim, sebuah simbol tidaklah harus real secara fisik, secara materil untuk memiliki dampak nyata secara sosial. Yang terpenting adalah bagaimana itu bekerja dalam pola pikir suatu masyarakat.
Keris, dengan sejarah dan simbol yang melekat padanya, menggambarkan cara manusia Nusantara melihat dunia: bahwa sebuah benda tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga dapat membawa nilai, makna, dan ingatan budaya.
Itulah manusia keris.
__________________________________________________________________________________________________
Saya adalah Muhammad AbidA. S, seorang penulis jalang. Bagi saya perenungan hidup adalah kewajiban di sela-sela dunia yang hiruk pikuk tak manusiawi.
@kinarsamantha
Editor : Putri Tariza
Foto oleh Putri Tariza


