Apa jadinya kalau kita bisa berkirim surat kepada seseorang di masa depan atau masa lalu? Bakalan sangat menyenangkan, mungkin—atau malah mengerikan? Walau jelas-jelas mustahil, dalam fantasi Keigo Higashino semua itu bisa saja terjadi—bukan lewat mesin waktu atau laci ajaib ala Doraemon, melainkan melalui lubang kecil di pintu gulung sebuah Toserba: Toko Kelontong Namiya.
Dalam Keajaiban Toko Kelontong Namiya, ruang dan waktu berjalan paralel. Sebuah toko tua terbengkalai di satu sudut permukiman bak portal waktu yang menghubungkan masa lampau dan masa kini. Siapa pun yang berada di dalam toko niscaya terpisah dari dunia di luar sana. Sebab, di bilik toko yang gelap dan berdebu itu, jarum jam benar-benar henti berputar—sesuatu yang dahulu juga tak pernah disangka-sangka bahkan oleh si pemilik toko itu sendiri.
Semua berawal ketika Yuji Namiya, si empunya toko, iseng membuka sesi konsultasi via surat bagi siapa pun yang punya sesuatu untuk ditanyakan. Mulanya, yang datang hanya anak-anak kecil iseng dengan pertanyaan konyol macam “bagaimana cara mendapatkan nilai ujian yang tinggi tanpa harus belajar?”. Meski begitu, si tua Namiya tetap meladeni surat-surat remeh itu dengan segenap hati.
Lambat laun, pertanyaan yang masuk jadi lebih pelik dan serius. Sampai-sampai sang kakek kudu memeras otak keras-keras kala hendak menulis balasan surat-surat yang masuk. Pengirimnya pun tidak lagi bocah-bocah usil, tapi muda-mudi yang hilang arah. Kendati demikian, ia menikmati sesi tanya-jawab tersebut; menganggapnya hiburan bagi masa-masa senjanya yang sunyi. Ia tak menyangka kalau jauh sepeninggal dirinya kelak, surat-surat yang masuk ke toko kelontong miliknya itu, secara ajaib tetap berbalas dari semesta lain di seberang waktu sana.
Akan tetapi, ada satu aturan yang mesti dipatuhi oleh setiap pengirim surat. Siapa pun yang hendak berkonsultasi mesti menyembunyikan identitas. Selain itu, surat mesti dimasukkan diam-diam lewat liang kecil di pintu gulung toko. Dengan demikian, tidak ada kontak antara si pengirim surat dan pemilik toko. Sepertinya Namiya menyadari sesuatu, yakni bahwa kejujuran sering kali butuh jarak untuk bisa muncul ke permukaan.
Dalam kisah Namiya, jarak itu adalah anonimitas. Para pengirim menggunakan nama samaran seperti “Sungai Hijau”, “Anak Anjing yang Kebingungan”, dan “Paul Lennon”. Nama-nama alias itu tak cuma memberi jarak aman pada setiap wajah di baliknya, tapi juga memberi mereka kebebasan bercerita tanpa mesti merasa rikuh. Sebaliknya, beban moral mesti ditanggung sang kakek. Sebab, Namiya mesti benar-benar menimbang setiap kata yang ia tulis di surat balasan—seakan-akan tulisannya turut menentukan arah haluan hidup seorang anak manusia. Tidak jarang ia memikirkan jawaban hingga larut malam lantaran tenggelam dalam kontemplasi.
Apa yang terjadi dalam semesta Namiya, bagi saya, terasa akrab. Bukan soal korespondensi lintas ruang dan waktu, tentu saja, melainkan perkara relasi personal antarmanusia. Dengan cara tertentu jarak memberi kita ruang ekspresi yang lebih, di mana kejujuran bisa tumbuh. Dahulu, orang punya “sahabat pena”, yakni seseorang nun jauh di sana yang jadi kawan berbincang apa adanya lewat pucuk demi pucuk surat. Para pengirim surat biasanya tak saling kenal secara personal dan tak pernah ketemu langsung. Jarak memberi mereka kenyamanan untuk berbagi cerita apa adanya, tanpa waswas stigma atau label sosial semacam—persis yang dilakukan orang-orang dalam semesta Namiya.
Rupanya, sebagaimana di jalan raya, manusia juga butuh jarak dalam menjalin hubungannya dengan sesama. Sebab, terlalu dekat dengan seseorang barangkali malah tak ideal hingga pada akhirnya kita tetap mesti mengambil radius dengan siapa pun; sebuah kecenderungan yang mengingatkan kita semua pada pemikiran Arthur Schopenhauer perihal drama kehidupan sosial manusia—tatkala kita tak bisa terlampau dekat, pun tak mau terlampau jauh.
Sang pemikir menganalogikan manusia dengan landak; sebuah refleksi yang ia namai The Hedgehog Dilemma. Kala musim dingin melanda, mamalia berduri itu mencoba mendekatkan diri satu sama lain supaya tubuh mereka tetap hangat. Akan tetapi, ketika terlalu dekat, hewan-hewan itu menyadari kalau duri-duri di sekujur tubuhnya malah membuat mereka saling menyakiti. Mereka pun menjauh, mendekat, menjauh, mendekat, terus seperti itu; mengatur jarak aman demi kenyamanan masing-masing—mencoba tetap hangat tanpa harus saling melukai.
Sebagaimana landak-landak itu, manusia pun butuh kehangatan—ia butuh didengar, dipahami, dan diperhatikan. Kenyataan hidup yang pahit bak musim dingin yang keras dan tanpa ampun. Akan tetapi terpaut terlalu dekat dengan seseorang kadang, di satu titik, malah terasa menyakitkan. Itulah mengapa bahkan dengan orang terdekat pun, sebaiknya jarak tetap dipelihara—seperti lirik lagu legendaris dari grup musik Chicago, “Hard to Say I’m Sorry”: Even lovers need a holiday. Far away from each other. Tak mengherankan kalau akhirnya seseorang yang paling menyakiti kita kerap kali adalah orang terdekat. Sampai-sampai dua orang yang pernah sedekat nadi bisa berakhir sejauh matahari.
Selain itu, jarak, di samping menawarkan rasa aman dan nyaman, juga menawarkan sudut pandang yang lebih luas dalam kita memandang sebuah perkara. Layaknya lensa kamera yang jika terlalu dekat dengan objek, gambar akan tampak kabur. Sebaliknya, kalau terlalu jauh objek malah tak bakal kelihatan jelas. Alhasil, jarak dan sudut yang pas tak hanya menghasilkan potret yang bagus, tapi juga punya makna.
Pada zaman di mana dunia makin sempit seperti sekarang, kebutuhan orang akan jarak kian terasa—seolah bumi benar-benar kian penuh sesak. Di media sosial, warganet bisa merespons unggahan dan komentar siapapun. Lini masa yang menjadi ruang ekspresi dan eksistensi orang-orang pun perlahan berubah jadi zona liar lagi barbar yang tak lagi aman—perundungan dan bentuk-bentuk kekerasan digital lainnya mengintai gerak-gerik warganet di jagat maya.
Semua itu agaknya disadari orang-orang. Tak mengherankan kalau banyak warganet akhirnya memilih untuk memasang identitas samar di media sosial—namanya tak jelas, foto profilnya pun buram atau cuma siluet, seperti yang kerap dilakukan Gen Z di laman media sosial mereka seraya tetap punya akun resmi yang dipakai secara lebih terbatas. Lewat akun anonim macam itu, para penggunanya bebas berekspresi dan berkomentar apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, tanpa beban stigma, dan label tertentu—sebuah kejujuran yang telanjang.
Akan tetapi, bagaimana bila konsekuensi tersebut bukan lagi stigma atau sekadar perasaan malu, melainkan ancaman serius? Dalam situasi macam itu jarak bukan cuma satu kebutuhan, melainkan sebuah keharusan. Ketika sebuah kritik atau komentar di media sosial bisa mengundang teror nyata atau menyeret seseorang ke balik jeruji besi, orang-orang kian mengambil jarak supaya kejujuran tetap bisa tumbuh. Humor atau meme bernada satir, misalnya, menjadi cara orang untuk tetap bersikap jujur atas sesuatu yang sulit atau terlampau sensitif untuk dikatakan secara terang-terangan.
Barangkali, permainan waktu di semesta yang dibangun Higashino bukan cuma demi memanjakan fantasi pembaca. Alih-alih, ia hadir membawa pesan mendalam perihal bagaimana cara kejujuran bekerja. Baik di masa lalu maupun masa kini, kejujuran agaknya butuh jarak untuk tetap tumbuh dan bekerja diam-diam, bagai surat-surat anonim yang diselipkan sembunyi-sembunyi di kelam malam. Ia akan selalu mencari jalannya sendiri, menembus ruang dan waktu—bahkan kematian.
______________________________________________________________________________________________________
Asief Abdi adalah seorang naturalis dan penulis buku Hikayat Mitobotani (2025).
Editor: Putri Tariza
Foto oleh Putri Tariza


