Foto oleh Sasti Gotama
Esai Budaya

Putra Dua Semesta

“Pagi-pagi kok sudah marah-marah,” protes seorang teman pada suatu pagi saat saya bertanya di mana buku yang ia pinjam semalam. Padahal, cara saya bicara, bagi saya, biasa saja. Namun, jelas tak demikian di telinganya. Di rumah kontrakan kecil itu, saya satu-satunya orang Madura di antara para penghuni yang semuanya Jawa. Selain nggumun dengan cara saya bertutur, ia juga takjub kenapa saya punya banyak sekali sarung. Barangkali ia baru pertama kali bertemu orang Jawa bergaya Madura.

Saya tak pernah menyangka takdir akan melempar saya ke Pulau Garam. Saya pun tak mengira akhirnya akan selancar ini berbahasa Madura seperti halnya Jawa. Bagaimanapun, Jawa merupakan bahasa ibu saya dan Madura ialah bahasa yang saya pelajari kemudian hari. Masa peralihan kultur itu terjadi lebih dari dua dekade lampau ketika orang tua saya memutuskan pindah domisili, meninggalkan daratan Jawa yang subur nan sejuk ke tanah seberang yang panas lagi tandus.

Bapak saya orang Madura, sedangkan ibu saya Jawa tulen. Saya lahir dengan bantuan tangan dingin seorang bidan Jawa. Lalu, saya tumbuh diiringi laku lembut Jawa. Mitos-mitos tentang Betara Kala dan buta yang melahap bulan tatkala gerhana menemani malam-malam masa kanak saya di sebuah desa di Blitar. Akan tetapi, cuma sekitar tujuh tahun saya menjadi bocah Jawa. Tahun-tahun setelahnya merupakan periode transisi saya untuk beradaptasi dengan ekosistem yang sama sekali lain.

Entah apa yang ada di kepala bapak. Ketika biasanya penduduk Madura hijrah meninggalkan kampung halaman demi hidup yang lebih layak, ia malah memilih pulang ke sebuah dusun di Sumenep sekitar tahun 2000 silam. Rupanya, bekerja sebagai guru tidak tetap di sebuah madrasah tak cukup menghidupi keluarga kecil kami kala itu. Lantas, dimulailah babak baru dalam hidup saya: belajar jadi orang Madura.

Tak mudah mempelajari bahasa Madura bagi penutur asli Jawa seperti saya. Semua kata terasa asing di kuping. Selain “kaula” yang mirip dengan “kula” dalam bahasa Jawa halus, nyaris tak ada kata yang saya pahami. Untung guru saya mengajar dengan bahasa Indonesia. Jika tidak, mungkin saya sudah ogah berangkat sekolah. Masih ingat, kata pertama yang melekat di kepala kecil saya kala itu adalah “jhuko’”, entah mengapa. Kendala komunikasi pada masa-masa awal pindah membuat saya acap jadi target rundung anak-anak bandel yang lebih tua—yang tak naik kelas. Maka, mau tidak mau, saya kudu lekas jadi bocah Madura.

Seraya menyerap dan menghafal kata sebanyak mungkin, saya juga rajin bermain bersama kawan-kawan, baik teman sekolah maupun anak-anak kampung. Karena rumah saya dekat laut, kami sering pergi ke pantai untuk sekadar main bola, mencari kerang dan telur kuntul, atau ikut bapak menjaring ikan. Lambat laun, saya mulai fasih bertutur lokal dengan cara setempat pula—bernada tinggi dan lantang.

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk menjadi anak Madura. Begitu menguasai semua kosakata yang penting untuk komunikasi sehari-hari, kawan-kawan saya pun bertambah. Akan tetapi, baru saja saya memantapkan identitas baru, saya mesti menyesuaikan diri lagi. 

Lepas SD, ketika kawan-kawan sekampung saya dikirim ke pesantren oleh orang tua mereka, saya enggan ikut-ikutan lantaran alasan banal: tidak ada televisi di pesantren dan acara Minggu pagi waktu itu terlalu sayang untuk dilewatkan setiap anak di negeri ini.  Lalu, bapak menyekolahkan saya di Pamekasan, kabupaten yang berbeda dengan tempat tinggal dan sekolah asal saya di Sumenep. Alhasil, saya kembali jadi orang asing.

Untungnya, tak banyak yang berbeda dengan tempat tinggal saya kecuali beberapa kosakata. Lagi-lagi, saya kudu memasang telinga dan mematri kata-kata baru di benak. Ketika saya biasa menggunakan kata “laddhing” untuk “pisau”, ternyata orang Pamekasan malah lebih akrab dengan “todi’”. Beberapa kata yang sama juga punya makna berbeda di dua daerah tersebut. Misalnya, kata “acampo” untuk “berkelahi” yang biasa saya gunakan justru bermakna “bercampur” di Pamekasan. Begitu pula “ngantang” yang berarti “mulai” malah jadi “mengambang”.  Tak cuma kata-kata, intonasi bicara pun lain. Cara warga Pamekasan berbicara pun simpel, tanpa irama sangghit yang diseret-seret layaknya penduduk Sumenep. 

Sebagai orang asing, saya tentu tak banyak tahu soal daerah baru tempat saya menuntut ilmu. Status sebagai orang luar membuat saya sering kali tersisih lantaran dianggap bukan orang Pamekasan dan tak bisa ikut bermain di sore hari karena mesti pulang ke rumah yang jaraknya sekitar 20 kilometer. Saya pun tak punya banyak teman, hanya segelintir anak yang biasa pulang-pergi sekolah dengan angkutan umum. Baru ketika SMA, saya mulai masuk ke lingkar gaul yang lebih luas, sebab saya lulus dari SMP di Pamekasan. Teman-teman mulai menganggap saya sudah “cukup Pamekasan” berkat sekolah yang sama dengan mereka. Namun, setamat SMA, sekali lagi saya mesti kembali ke ruang antara, yang abu-abu dan membingungkan.

Jalan hidup menuntun saya ke Malang untuk kuliah. Sebagai pribadi separuh Jawa, saya sama sekali tak mengalami kendala bahasa. Satu dekade tinggal di Madura tak membuat ke-Jawa-an saya luntur. Lisan saya masih fasih berbahasa Jawa dan tak kehilangan aksen medok-nya. Tutur Jawa saya masih kental dan autentik. Kawan-kawan pun tak menduga kalau saya mahasiswa asal Madura. Akan tetapi, se-Jawa bagaimanapun dalam bersikap, saya tak luput dari stereotipe Madura.

Sering saya didapuk sebagai imam salat hanya karena saya orang Madura. Begitu pula pada momen-momen tertentu, kawan-kawan selalu meminta saya memimpin doa meski saya sama sekali bukan sosok religius. Saya juga kerap disangka berperangai keras dan tak sabaran—terkadang memang iya—seperti yang dilekatkan masyarakat luar pada citra orang Madura. Kita tahu, orang Madura kerap diasosiasikan dengan laku kasar nan emosional. Walau begitu, saya pikir, cara pandang demikian tak sepenuhnya keliru.

Tanah Madura bukanlah bumi gemah ripah loh jinawi layaknya Jawa. Ia daratan kering dengan bebukitan kapur yang kering ranggas. Tak ada tanah vulkanik subur yang menutrisi lahan-lahan tani. Kendati hanya dipisah selat sempit dari Pulau Jawa, Madura adalah semesta yang lain.

Bentang alam yang keras nan pelit mencetak orang Madura menjadi pekerja tangguh dengan mental baja. Butuh upaya ekstra untuk sekadar bertani di Pulau Garam. Cuaca panas dan kering sangat mungkin turut berkontribusi pada perangai kaku penduduk, seperti terik matahari yang mengeraskan tanah. Cara tutur mereka pun nyaring, sebab suara mesti melaju sekencang angin pesisir.

Lantaran ekosistemnya yang kering kerontang, Madura sering dianggap daerah inferior. Kendati bangga dengan identitas etnisnya, penduduk Pulau Garam sendiri, saya pikir, juga sepakat soal itu. Ketika seorang Madura pulang dari tanah rantau di seberang, ia disebut telah “toron” yang artinya “turun”, kembali ke kampung halaman dari tempat yang boleh jadi mereka anggap lebih “tinggi”. 

Kondisi sosioekologis Pulau Garam mengingatkan saya pada teori Jared Diamond. Dalam Guns, Germs, and Steel, penulis Amerika itu mencatat bahwa sumber daya alam suatu tempat memengaruhi perkembangan kawasan tersebut dari waktu ke waktu. Selain itu, Diamond juga menyebut hubungan antara isolasi dengan lambatnya penyebaran teknologi dan budaya di suatu daerah. Argumen yang dia gagas, bagi saya, sangat pas dengan Madura.

Maka, wajar rasanya jika banyak orang Madura hijrah ke berbagai penjuru negeri, bahkan ke Arab Saudi dan Malaysia. Saat tanahnya tak sanggup menjanjikan kemakmuran, mengadu nasib ke tanah rantau terasa masuk akal. Songennep tak abingkèr, kata orang. Ca’oca’an (pepatah) tersebut seolah-olah menjadi legitimasi warga untuk berani meninggalkan kampung halaman—bahkan anak-istri—demi hidup yang lebih baik. Setelah nyaris tiga dekade menjadi warga Madura, saya mulai bisa memahami karakter dan kebiasaan masyarakat setempat.

Akan tetapi, meski sudah lama hidup di Pulau Garam, terkadang orang masih menganggap saya tak cukup Madura. Istri saya, misalnya, suatu kali bertanya, apa saya bisa mengaji dengan lancar. “Kalau orang Jawa biasanya enggak lancar ngaji,” kata dia. Enak saja. Meski tak seperti para santri di masjid yang mengajinya ngebut, saya masih mampu membaca kitab suci dengan baik. Begitu pula ketika orang-orang melihat saya makan lalapan kemangi dan kubis. “Seperti kambing saja,” seseorang berkelakar. Agaknya, bagi kebanyakan orang Madura, melahap sayur mentah bukan cara bersantap yang lazim.

Berpijak di dua tradisi berbeda kadang merepotkan. Saya terlalu lembek bagi orang Madura sekaligus terlampau keras sebagai orang Jawa. Walau demikian, keadaan intermediat macam itu juga memberi saya kemudahan. Selain gampang beralih dari satu bahasa ke bahasa lain dengan mulus dan orisinal, berada di zona liminal membantu saya masuk lebih intim saat berinteraksi dengan orang Madura dan Jawa. Lebih-lebih, baik tradisi Jawa maupun Madura rupanya menyematkan status lebih pada kondisi ambang.

Masyarakat Madura punya legenda perihal leluhur mereka, Raden Segara. Dikisahkan, Bendara Gung, seorang putri dari Kerajaan Medang Kamulan, hamil usai mendapat mimpi kemasukan rembulan. Sang raja yang murka lantas mengusir anak semata wayangnya. Ia memerintah patihnya untuk menghabisi sang putri. Namun, alih-alih menghunus pedang, sang patih malah melepas Bendara Gung ke samudra dengan sebuah rakit. Di tengah lautan, perempuan itu melahirkan seorang putra yang dinamai Raden Segara, sang keturunan laut. Kita tentu ingat pula tokoh Semar dalam kosmologi Jawa, yang pria sekaligus wanita, yang manusia sekaligus dewa.

Sekarang, setelah terbiasa dengan identitas ganda, alih-alih bingung, saya malah menikmati modal kultural itu. Berkat status rangkap, saya bisa pindah dari satu ruang ke ruang lain tanpa kesulitan berarti. Mau bergaul ala Madura boleh, ala Jawa juga ayo. Saya seperti Aquaman yang bisa hidup di darat dan laut. Pahlawan super itu, pada akhirnya, juga tak masalah dengan jati dirinya sebagai putra dua semesta yang berbeda.

Layaknya Aquaman yang tak pernah menjadi kaum daratan atau samudra sejati, agaknya saya juga tak akan pernah jadi orang Jawa atau Madura seutuhnya. Namun, barangkali saya memang tak perlu benar-benar menjadi salah satunya. Saya akan selamanya berada di zona batas, yang abu-abu dan samar. 

Walau begitu, saya percaya ruang peralihan tak selamanya buruk. Hal-hal aneh selalu terjadi di perbatasan, kata Ayu Utami. Benar, di batas tengah yang tak jelas itu, justru saya merasa utuh. Saya bukan Jawa atau Madura, melainkan pertemuan antara keduanya.


Asief Abdi adalah naturalis yang menulis buku Hikayat Mitobotani (2025).

Editor: Royyan Julian
Foto: Sasti Gotama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *