Gambar bergerak hitam putih. Sekelompok anak berduyun-duyun, mencangking tumpukan ompreng stainles yang diikat tali di tangan kanan dan kiri, melangkah menuju ruang kelas. Mereka tampak seperti sepasukan kecil bala bantuan.
Di layar, beberapa komentar muncul: Masa itu, ayah dan ibu pertama kali bertemu di rumah sakit kota karena muntah-muntah setelah keracunan makanan di sekolah. Komentar lain: Circa 2025, ketika MBG masih ada.
Bahagia dan nestapa bercampur dalam video yang dibayangkan sebagai sebuah arsip film dokumenter yang diputar entah pada suatu hari di masa depan. Dua komentar itu merefleksikan kenyataan pahit. Program (atau proyek?) Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa jadi akan dikenang bukan sebagai keberhasilan kebijakan, melainkan sebagai pengalaman kolektif yang menyisakan trauma, ironi, dan tanya.
Bayangan itu tidak sepenuhnya fiksi. Di sekolah kami, ia hadir setiap hari dalam bentuk yang jauh lebih berat dan berisik: ompreng, tali pengikat, dan hitungan yang tak pernah selesai.
Seribu empat puluh dua. Bukan penanda tahun, melainkan jumlah ompreng stainles yang terikat dan bertumpuk lima, berderet di undakan tangga gedung olahraga sekolah. Isinya paket makanan untuk seribu empat puluh dua murid. Saya menyaksikan seorang rekan terduduk kelelahan di kursi lipat yang sandaran punggungnya telah patah, memandangi tumpukan itu sambil menyeka keringat dengan telapak tangan.
Sejak MBG tiba di sekolah kami, kerja guru bertambah. Dalam Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025 termaktub rincian kegiatan pokok guru, yaitu merencanakan, melaksanakan, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih murid, serta melaksanakan tugas tambahan yang melekat. Di senarai tugas tambahan pada Pasal 10 dan Pasal 11, tak satu pun menyebut urusan menghitung, menerima, membagikan, menghitung ulang, lalu mengembalikan opreng.
Akan tetapi, justru itulah pekerjaan “tambahan” guru sehari-hari. Menghitung, menerima kiriman, memastikan jumlah sesuai, membagikan, menunggu, lalu menghitung ulang saat pengembalian. Salah hitung satu ompreng saja bisa berujung panjang: menyusuri satu demi satu dan menyusun ulang. Pekerjaan ini menuntut ketelitian, tetapi tak pernah diakui sebagai kerja. Guru tiada henti berhitung, tetapi tak pernah masuk hitungan.
Di atas kertas, tujuan MBG terdengar nyaris sempurna: memperbaiki gizi anak, memberdayakan pelaku ekonomi lokal, mengurangi beban ekonomi rumah tangga, dan menciptakan lapangan kerja baru. Empat tujuan yang sah, masuk akal, dan sulit dibantah.
Persoalannya bukan pada niat, melainkan pada jarak. Jarak antara tujuan yang dirumuskan di meja kebijakan dan kenyataan yang harus diangkat, dibagi, dan dihabiskan setiap hari di sekolah.
Jarak itu makin terasa ketika muncul wacana uang lelah untuk guru pengelola MBG. Seratus ribu rupiah per hari, katanya. Angka yang terdengar lumayan, bahkan terasa besar jika dibandingkan dengan gaji guru PPPK Paruh Waktu di daerah yang anggarannya pas-pasan. Masalahnya, gagasan itu hanya melayang di udara: diucapkan secara lisan, belum diatur, belum dikaji, dan mungkin belum sungguh-sungguh dimaksudkan. Sesuatu yang lazim dalam kebijakan publik kita: janji yang menggantung.
Anehnya, cuap-cuap uang tambahan itu justru melahirkan kegaduhan baru. Guru-guru yang sebelumnya saling lempar tugas mengurus nampan, mulai menyusun skenario agar “upah cepek” itu kebagian semua. Distribusi kekayaan imajinatif telah berlangsung bahkan ketika segalanya masih berada dalam kabut ketidakpastian. Kerja-kerja ikhlas pelan-pelan ditinggalkan, sementara kerja dengan iming-iming uang menjadi rebutan.
Namun semua perdebatan tentang honor, ikhlas, dan beban kerja itu sesungguhnya bukan pusat persoalan. Yang paling terdampak justru adalah mereka yang duduk rapi di bangku kelas, membuka ompreng, dan belajar menerima apa yang disediakan untuk mereka.
Anak-anak pada awalnya sangat antusias, bahkan cenderung heboh. Tatkala mobil MBG memasuki area lapangan sekolah untuk menurunkan nampan, mereka berteriak girang, seakan-akan tengah melihat Presiden Prabowo dan Sekretaris Teddy turun membawa ompreng. Di kesempatan lain, saat saya berkeliling dari meja ke meja memantau mereka mengerjakan latihan, seorang murid dengan santainya bertanya, “Sudah datang MBG, Pak?”
Keranjingan MBG melahirkan kebiasaan baru. Bak cenayang, mereka menebak menu hari ini. Sebagian besar murid berhasil menebak. Saya kagum juga, meskipun agak sangsi.
“Ibumu kerja di dapur MBG?” tanya saya.
Ia bilang, tidak.
“Rumahmu dekat dapur?”
Ia menggeleng.
Saya makin penasaran. “Kamu yang punya dapur, ya?”
Ia terkekeh menganggap saya asal bunyi saja.
Belakangan saya tahu kalau ia dan teman-temannya melihat pembaruan di cerita Instagram resmi milik dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Generasi Alfa memang lihai dalam urusan cari informasi yang seru-seru buat mereka.
Apa saja bisa jadi konten di tangan generasi Alfa, apalagi makanan. SPPG bergerak cepat mengadakan sayembara konten MBG untuk dapat atensi. Yang bikin konten bagus, nanti dapat hadiah. Mulailah konten-konten itu muncul di layar media sosial. Apa hadiahnya, saya tak tahu.
Setiap hari berhadapan dengan MBG, obrolan sehari-hari guru pun bertambah satu topik: menu MBG. Seru juga menyaksikan guru menjelma koki, ahli gizi, dan penilai Michelin Star. Saya nimbrung mengumumkan menu hari ini, bak humas SPPG. “Ayam kecap. Ikan nila goreng. Ayam goreng bawang. Ikan gulai kuah kuning. Telur dan biskuit.” Barangkali mereka mengira saya punya kenalan orang dapur. Tak saya sebutkan kalau mendapat bocoran dari cerita Instagram. Saya sepertinya kena “sindrom tahu bulat digoreng dadakan”, tampak lebih tahu dan merasa lebih keren, padahal kosong juga isinya.
Saya jadi tidak bisa sok tahu sejak tayangan cerita itu jarang muncul dan benar-benar absen selama beberapa hari. Kok tidak tampil lagi? Hantu penasaran dalam diri saya bergentayangan.
Cerita Instagram menu hari ini tiba-tiba muncul pada suatu pagi. Foto-foto menu tampil menggoda: rendang dengan potongan besar, apel merah mengilap. Akhirnya, murid makan daging juga! Kenyataannya, ketika ompreng dibuka di kelas, rendang hadir dalam potongan kecil, apel berubah mini. Hari-hari berikutnya, cerita Instagram itu menghilang. Barangkali tak semua menu layak dipamerkan.
Saya melihat murid mengaduk-aduk kuah, mencari ayam dalam menu soto. Mereka tampak kecewa ketika hanya menemukan beberapa helai suwiran ayam di antara rajangan kubis yang mendominasi.
Belakangan, saya sering memandangi anak-anak yang mengembalikan ompreng dengan tergesa. Ada yang hanya berdoa, mengambil buah, lalu menutup kembali kotak makan. Ikan bumbu kuning masih utuh, tahu dipotong setengah, nasi dingin menempel di sudut ompreng. Tak ada yang benar-benar ingin dihabiskan.
Saya teringat satu prinsip sederhana: Makanan bukan hanya soal kenyang, tapi juga soal rupa. Bukan soal mahal atau murah, melainkan soal niat. Pada suatu hari, anak-anak mengumpulkan sekantung telur rebus. Utuh, tak tersentuh. “Banyak anak yang tidak suka telur,” kata seorang murid. Padahal di rumah, telur bisa tersaji dalam berbagai rupa dan ludes. Barangkali bukan telurnya yang ditolak, melainkan cara ia hadir. Orang Jepang bilang, makanan harus kawaii. Tidak hanya lezat, tetapi juga harus enak dilihat, bahkan lucu dan menggemaskan. Bukan malah menerbitkan air mata.
Makin hari, menu makin ganjil. Akhir pekan, nampan diisi dua potong roti tawar, selada, irisan timun, tomat, dan selembar keju. Anak-anak diminta do it yourself, swakarya merakit roti lapis ala Barat. Akhir pekan yang lain, saya hanya bisa terbelalak menyaksikan sepotong bolu manis datang bersama pipilan jagung rebus, ditemani selada dan tomat. Saya tak tahu bagaimana cara mengakurkan kawanan ini.
Saya paham, mengatur menu harian bukanlah perkara mudah. Para ibu yang tiap hari bergelut dengan dapur tahu betul betapa melelahkannya menyusun makanan yang dapat diterima semua anggota keluarga. Namun, ketika sesuatu dilakukan dengan menggampang-gampangkan, yang muncul adalah sikap tak bertanggung jawab. Makanan seharusnya dihadirkan untuk membahagiakan anak, sebab makanan yang disantap dengan gembira, siapa tahu, akan benar-benar menjadi gizi.
Pada akhirnya, saya meminta anak-anak menulis. Surat-surat kecil dimasukkan ke dalam nampan makan, ditujukan kepada dapur.
“Mengapa buahnya kecil?”
“Mengapa menunya tidak nyambung?”
“Mengapa yang tampak di layar tak pernah sama dengan yang ada di nampan?”
Di kelas lain, saya menyampaikan maklumat panjang dengan nada khotbah: Makanan adalah anugerah, jangan disia-siakan. Saya marah ketika ada yang tak mau makan. Saya minta mereka membawa kotak bekal untuk membawa pulang makanan itu. Nasi dan lauk yang tak dimakan bisa diberikan kepada keluarga, ayam di rumah, atau hewan di jalan. Empat tahun lagi, pikir saya, masih empat tahun lagi ompreng harus dihadapi. Apa yang terjadi bila tidak dihabiskan? Makanan itu tidak gratis. Ia dibayar oleh pajak.
Di atas kertas, tujuan MBG dirumuskan dengan bahasa yang nyaris sempurna: memperbaiki gizi anak, memberdayakan pelaku ekonomi lokal, mengurangi beban ekonomi rumah tangga, dan menciptakan lapangan kerja baru. Empat tujuan yang tampak saling menopang, seperti menu seimbang dalam satu nampan.
Di kelas, saya justru menyaksikan makanan terbuang. Nasi yang tak disentuh. Lauk yang dikembalikan utuh. Buah yang diambil dan sisanya ditinggalkan. Pajak yang telah menjelma hidangan, kembali sebagai sampah. Anak-anak yang tak lapar dipaksa makan, dan yang lapar tak selalu menemukan apa yang ingin mereka santap.
Barangkali ekonomi lokal memang bergerak. Dapur menyala setiap pagi. Ompreng berputar dari tangan ke tangan. Tapi di sekolah, jam belajar terpotong, guru berhitung tanpa pernah masuk hitungan, dan anak-anak belajar satu hal baru: menerima tanpa bisa memilih.
Sayup-sayup terdengar kabar bahwa guru dan tenaga kependidikan juga akan menjadi penerima MBG. Perpres Nomor 115 Tahun 2025, katanya.
Saya membayangkan suatu hari nanti, kami ikut berbaris, membuka ompreng yang sama, menyantap menu yang sama, dan menimbang dengan lidah sendiri, apakah semua tujuan itu benar-benar sampai.
Barangkali, sebelum semuanya bergulir lebih jauh, kita memang harus mulai membawa kotak bekal sendiri. Sekaligus bertanya kembali: Ke mana, sebenarnya, nampan ini hendak bergulir?
Wendy Fermana adalah pengajar dan pengarang.
Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Ikrar Izzul Haq



