Kritik Seni

Cerita di Balik Vegetarian

Terpilihnya Han Kang sebagai penerima Nobel Sastra 2024 membuat saya teringat kisah percakapan saya dengan anak saya, Yuan, pada tahun 2019 yang saat itu dia baru duduk di kelas dua SMP. Ceritanya, ketika saya tahu Yuan membawa buku Vegetarian karya Han Kang—terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia dengan sampul dominan merah bergambar bunga, yang diterbitkan Penerbit Baca tahun 2017—saya agak terkejut. Bukan karena buku tersebut kurang layak dibaca, melainkan karena sebagian isinya, terutama adegan yang bersifat dewasa, mungkin belum sesuai untuk anak seusia SMP.

Sebagai orangtua, saya ingin mengingatkan dengan halus agar Yuan memahami konteks bacaan tersebut. “Ayah memperbolehkan kamu membaca buku itu,” kata saya, “tapi sebenarnya bukan untuk dibawa ke sekolah. Kalau gurumu tahu kamu membawa novel itu, bisa jadi mereka mengira kamu hanya tertarik pada bagian yang kurang sesuai untuk usiamu.”

Saya berharap Yuan bisa memahami maksud saya, tapi alih-alih setuju, ia justru memberi jawaban yang membuat saya tertawa. “Tenang, Yah. Setahu guruku, ini buku tentang bunga-bunga.”

Entah Yuan mengatakan yang sebenarnya atau tidak, saya menangkap sebuah pemahaman yang menggelitik. Dalam kalimat singkat tersebut, Yuan seakan menyindir bahwa gurunya mungkin tidak akan membaca buku itu secara menyeluruh. Pernyataan ini, jika dipahami lebih dalam, membuka pintu bagi berbagai isu yang relevan dalam dunia literasi, pendidikan, dan hubungan kita dengan sastra. Ada beberapa dimensi yang bisa kita bedah dari pengalaman ini, terutama yang berkaitan dengan pengertian literasi dalam konteks sekolah, keterkaitan sastra dengan nilai-nilai moral, dan pentingnya pendidikan sastra yang holistik.

Cerita Yuan mengindikasikan bahwa ada ketidakseriusan dalam mengapresiasi sastra di lingkungan sekolah. Jika benar bahwa seorang guru hanya melihat Vegetarian dari sampulnya, maka ini adalah salah satu contoh bagaimana karya sastra sering kali hanya dipahami secara dangkal, tanpa pemahaman yang mendalam tentang kontennya. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kurangnya waktu atau minat dari pihak pendidik untuk menelusuri lebih dalam teks-teks yang mungkin tidak termasuk dalam “kurikulum resmi.”

Kenyataan bahwa Yuan merasa aman membawa buku tersebut ke sekolah dengan asumsi gurunya tidak akan membacanya, mencerminkan adanya jarak antara guru dan siswa dalam hal apresiasi sastra. Guru, sebagai pemandu dalam dunia literasi siswa, seharusnya tidak hanya memberikan penilaian berdasarkan tampilan luar atau sekadar sinopsis, tetapi juga memahami keseluruhan teks, makna di baliknya, dan dampak psikologis atau emosional yang mungkin ditimbulkan pada siswa. Namun, kesenjangan ini bisa jadi sudah biasa terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Banyak sekolah yang lebih memprioritaskan teks yang dianggap “aman” atau “sesuai kurikulum,” padahal sastra sering kali mengandung muatan kompleks yang bisa merangsang diskusi kritis di kelas.

Vegetarian, sebuah novel yang dalam permukaannya bercerita tentang seorang wanita Korea yang memutuskan menjadi vegetarian, sejatinya adalah eksplorasi yang dalam tentang patriarki, kekerasan seksual, dan kebebasan individu. Bagaimana sebuah karya seperti ini bisa diterima atau bahkan disalahpahami oleh pembaca awam menunjukkan bahwa literasi tidak sekadar kemampuan membaca, melainkan kemampuan untuk menafsirkan, merenungkan, dan mendiskusikan karya sastra dengan kritis.

Salah satu kekhawatiran saya ketika mengetahui Yuan membawa Vegetarian ke sekolah adalah adegan-adegan dewasa yang ada di dalamnya. Sebagai orangtua, tentu saya merasa perlu melindungi anak saya dari konten yang mungkin belum sesuai untuk usianya. Namun di sisi lain, saya juga sadar bahwa sastra tidak selalu menyajikan dunia yang “aman” atau sesuai dengan nilai-nilai moral tertentu. Sebaliknya, sastra sering kali menantang norma-norma sosial dan memaksa pembaca untuk berhadapan dengan kenyataan-kenyataan yang sulit, bahkan pahit.

Dilema yang saya rasakan sebagai orangtua dalam konteks ini adalah soal kapan waktu yang tepat bagi anak-anak untuk mulai berinteraksi dengan sastra yang kompleks, dan bagaimana kita bisa memandu mereka dalam proses ini. Yuan, misalnya, mungkin belum sepenuhnya memahami kompleksitas emosional atau psikologis yang terkandung dalam Vegetarian, tetapi membaca karya ini bisa menjadi kesempatan bagi kami, sebagai orangtua dan anak, untuk berdialog tentang tema-tema berat seperti identitas, kebebasan, dan kekerasan.

Kita sering kali terlalu protektif dalam memilih bacaan untuk anak-anak, dengan asumsi bahwa mereka tidak bisa menangani tema-tema yang kompleks atau kontroversial. Namun, pengalaman membaca Yuan menunjukkan bahwa anak-anak sebenarnya cukup cerdas untuk menafsirkan dan bahkan menyepelekan hal-hal yang dianggap orang dewasa sebagai “berbahaya” atau “tidak pantas.” Dalam kasus Yuan, ia lebih fokus pada aspek yang dianggap “tidak berbahaya,” seperti sampul buku atau gambaran bunga-bunga, dibandingkan tema-tema berat yang ada di dalamnya.

Pengalaman Yuan juga menggambarkan tantangan yang lebih luas dalam hal literasi di era digital. Di zaman sekarang, anak-anak memiliki akses yang jauh lebih luas ke berbagai jenis konten, baik melalui buku cetak maupun digital. Kebebasan ini membawa dampak positif dan negatif. Di satu sisi, mereka dapat mengeksplorasi beragam topik dan genre yang mungkin tidak akan mereka temui di sekolah atau lingkungan mereka. Di sisi lain, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang paparan terhadap konten yang belum sesuai dengan usia mereka.

Literasi di era digital juga menghadirkan tantangan bagi para pendidik dan orang tua untuk terus mendampingi anak-anak dalam proses membaca mereka. Ketika akses ke informasi semakin mudah, tanggung jawab untuk menyaring, mengarahkan, dan mendiskusikan konten dengan anak-anak menjadi lebih besar. Jika para pendidik dan orang tua tidak terlibat aktif dalam memahami dan membahas apa yang dibaca oleh anak-anak, kita bisa kehilangan kesempatan untuk membentuk pemahaman yang kritis dan reflektif.

Sebagai contoh, jika seorang anak membaca Vegetarian tanpa bimbingan atau diskusi lebih lanjut, ia mungkin hanya akan menangkap sisi permukaan dari cerita tersebut, tanpa memahami pesan-pesan mendalam yang ada di balik narasi. Di sinilah peran penting pendidik dan orangtua dalam membuka ruang diskusi yang memungkinkan anak-anak untuk memahami karya sastra dari berbagai sudut pandang.

Vegetarian sendiri adalah karya yang penuh dengan simbolisme dan lapisan-lapisan makna yang tidak mudah dicerna dalam satu kali bacaan. Novel ini bercerita tentang Yeong-hye, seorang wanita Korea yang memutuskan untuk berhenti makan daging sebagai protes terhadap kekerasan yang ia alami baik secara fisik maupun emosional. Keputusannya yang tampaknya sederhana ini memicu serangkaian peristiwa yang menggambarkan kekerasan patriarki, kontrol sosial, dan dehumanisasi dalam masyarakat Korea modern.

Narasi Vegetarian yang suram dan introspektif membawa kita ke dalam dunia yang penuh ketidaknyamanan dan absurditas, di mana keputusan pribadi seorang wanita bisa memicu reaksi yang begitu ekstrem dari orang-orang di sekitarnya. Han Kang dengan brilian menggunakan kisah ini untuk mengeksplorasi bagaimana masyarakat sering kali berusaha mengendalikan tubuh dan pilihan individu, terutama perempuan.

Memenangkan Nobel Sastra pada tahun 2024, Han Kang menjadi simbol penulis yang mampu menggambarkan kompleksitas manusia dan masyarakat dengan cara yang tidak mudah dicerna. Melalui karya-karya seperti Vegetarian, ia mengajak pembacanya untuk merenungkan tentang kebebasan individu, batas-batas moral, dan kekerasan yang tersembunyi di balik norma-norma sosial.

Kisah tentang Yuan dan Vegetarian mungkin tampak seperti anekdot sederhana, tetapi sesungguhnya membuka diskusi yang lebih luas tentang bagaimana kita memandang literasi sastra dalam konteks pendidikan dan keluarga. Sastra, terutama karya-karya yang kompleks dan menantang, seharusnya tidak hanya dibaca untuk hiburan, tetapi juga sebagai medium untuk berdialog tentang nilai-nilai, identitas, dan perubahan sosial.

Sebagai orangtua dan pendidik, kita memiliki tanggung jawab untuk membekali anak-anak dengan kemampuan literasi yang kritis—bukan hanya kemampuan untuk membaca kata-kata, tetapi juga untuk menafsirkan makna, mempertanyakan asumsi, dan merenungkan pesan-pesan yang terkandung dalam sebuah karya. Dengan demikian, sastra bisa menjadi jendela untuk memahami dunia dengan lebih baik, baik bagi anak-anak maupun bagi kita semua.

Han Kang melalui Vegetarian telah memberi kita contoh bagaimana sastra bisa meresahkan sekaligus mencerahkan, mengganggu sekaligus menginspirasi. Di balik setiap cerita, ada kekuatan untuk mengubah cara kita melihat diri kita sendiri dan masyarakat di sekitar kita.***



Penulis yang tinggal di Karanganyar. Sesekali menjadi fasilitator di sekolah.

Editor: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *