Esai Budaya

Perpustakaan Desa Merah Putih

“Aku senantiasa membayangkan bahwa surga akan menjadi semacam perpustakaan.”

Begitulah kutipan populer yang sering disitir orang-orang. Kalimat itu berasal dari “Poema de los dones”, puisi Jorge Luis Borges yang termaktub dalam bunga rampai bertajuk El hacedor. Puisi yang diterjemahkan sebagai “Puisi tentang Karunia” itu menggambarkan ironi getir dalam kehidupan Borges. Ia diangkat menjadi direktur Biblioteca Nacional(Perpustakaan Nasional Argentina), tetapi pada saat yang hampir bersamaan, ia mulai mengalami kebutaan. Ia dikaruniai delapan ratus ribu koleksi buku sekaligus dikaruniai kelam malam.

Ya, surga dikhayalkan seperti perpustakaan. Kata perpustakaan sendiri terdengar begitu menakjubkan. Seorang kawan pernah berkata bahwa ia tidak terlalu menyukai buku, tetapi mencintai perpustakaan. Bagaimana mungkin seseorang mencintai tempat yang dipenuhi benda-benda yang tidak begitu disukainya? Entahlah. Barangkali perpustakaan menawarkan berbagai kemungkinan, perjumpaan, dan kebebasan untuk menemukan sesuatu yang bahkan belum kita ketahui sedang kita cari.

Bertahun-tahun lalu, di perpustakaan provinsi di Demang Lebar Daun, saya sibuk mencari buku-buku bahasa dan susastra yang langka dan tak akan dapat ditemukan di toko buku mana pun di Palembang. Dari rak 400 dan rak 800, saya menumpuk sejumlah buku di meja baca, membuka halaman demi halaman, memindai cepat isinya dengan mata, lalu beralih ke buku lain. Saya berpindah-pindah judul demi memuaskan gairah membaca sekaligus rasa tak dapat memiliki. Di meja lain, beberapa orang tampak khusyuk bersama buku dan laptop masing-masing.

Di ruangan itu, setiap orang memiliki urusannya sendiri dengan pengetahuan. Ada yang datang untuk mencari jawaban, ada yang sekadar menghabiskan waktu, dan mungkin ada pula yang belum tahu apa yang sedang dicarinya. Perpustakaan menyediakan ruang bagi semua kemungkinan itu.

Lalu, bagaimana dengan perpustakaan sekolah kita? Apakah seperti surga?

Konon, jika ingin mengetahui apakah sebuah sekolah dikelola dengan baik, tengoklah toilet dan perpustakaannya. Toilet yang bersih dapat menjadi petunjuk adanya kebiasaan hidup sehat dan perhatian terhadap lingkungan oleh warga sekolah. Sementara itu, perpustakaan yang terawat, memiliki koleksi memadai, dan ramai dikunjungi menunjukkan bahwa sekolah tersebut memberikan tempat penting bagi pengetahuan.

Tentu saja, perpustakaan yang ramai bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sekolah. Namun, keberadaannya dapat membantu kita memahami bagaimana sekolah memperlakukan pengetahuan. Apakah pengetahuan dianggap selesai ketika guru menyampaikannya di ruang kelas? Ataukah pelajaran di kelas justru menjadi awal bagi murid untuk membaca lebih banyak, mempertanyakan sesuatu, dan menemukan hal-hal yang belum sempat diajarkan gurunya?

Perpustakaan sekolah semestinya menjadi jendela, bahkan pintu, yang memungkinkan anak-anak membentangkan kemungkinan baru. Di sana, batas-batas pelajaran yang ditentukan oleh jadwal sekolah dapat meluas menjadi petualangan di samudra ilmu yang tidak selalu mengenal dentang bel.

Akan tetapi, “pintu kemungkinan” itu tidak banyak berarti manakala perpustakaan hanya menjadi ruangan dengan rak-rak buku yang tidak berkembang, pengelolaan seadanya, dan kegiatan yang sekadar memenuhi program sekolah. Kita mungkin sudah memiliki perpustakaan, tetapi belum tentu memiliki tradisi pengetahuan yang hidup.

Perpustakaan tidak cukup dibangun dengan menyediakan ruangan, rak, meja, kursi, dan sejumlah buku. Semua itu baru permulaan. Perpustakaan membutuhkan orang-orang yang mampu menghidupkannya.

Setiap sekolah semestinya punya kepala perpustakaan dan tenaga pengelola yang memiliki kompetensi memadai. Mereka bukan sekadar penjaga ruangan atau pencatat buku yang dipinjam dan dikembalikan. Mereka semestinya menjadi penghubung antara koleksi, kebutuhan belajar murid, kegiatan guru, dan perkembangan pengetahuan.

Pengelola perpustakaan perlu memahami pengembangan koleksi, pengolahan katalog, penyusunan program literasi, serta kerja sama dengan lembaga lain. Ia juga harus mampu menjawab segugus pertanyaan. Buku seperti apa yang dibutuhkan murid? Bagaimana membuat anak tertarik datang ke perpustakaan tanpa harus selalu diperintah? Bagaimana membantu guru menjadikan perpustakaan sebagai bagian dari proses pembelajaran?

Semua itu membutuhkan pengetahuan dan keterampilan. Karena itu, pelatihan bagi kepala perpustakaan dan tenaga pengelola perlu diperluas, dilaksanakan secara berkelanjutan, serta disertai pendampingan setelah mereka kembali ke sekolah.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Agama yang mengelola sekolah dan madrasah, tak pernah secara serius mengelola perpustakaan sekolah. Buktinya selama ini tidak ada pembukaan formasi untuk posisi pustakawan sekolah secara masif. Banyak perpustakaan sekolah yang dikelola oleh guru atau staf tata usaha yang bukan lulusan ilmu perpustakaan.

Perhatian terhadap perpustakaan menjadi menarik ketika kita membicarakan Sekolah Rakyat, program pendidikan yang ditujukan untuk memberikan akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Dukungan Perpustakaan Nasional terhadap penyediaan buku, fasilitas baca, dan pembinaan perpustakaan Sekolah Rakyat patut diapresiasi. Akses terhadap buku dan sumber belajar sangat berarti, terutama bagi anak-anak yang selama ini menghadapi keterbatasan.

Namun, muncul tanda tanya besar, bagaimana dengan perpustakaan sekolah yang telah lama berdiri?

Pertanyaan ini tentu bukan untuk menghadap-hadapkan Sekolah Rakyat dengan sekolah negeri atau sekolah reguler lainnya. Kita tidak perlu mengurangi dukungan kepada satu kelompok demi membantu kelompok lain. Justru, keberhasilan sebuah program khusus semestinya mendorong kita memikirkan bagaimana manfaat serupa dapat menjangkau lebih banyak anak.

Jika anak-anak Sekolah Rakyat mendapatkan buku dan perpustakaan yang layak, anak-anak di sekolah reguler pun memiliki hak yang sama untuk memperoleh kesempatan belajar yang luas. Perbedaan kondisi dan kebutuhan mungkin menuntut bentuk dukungan yang berbeda, tetapi perhatian terhadap pengetahuan tidak semestinya berhenti pada sekolah-sekolah yang menjadi bagian dari “program baru prioritas presiden”. Ketika pemerintah mampu mengorganisasi dukungan untuk program baru, apakah kemampuan serupa dapat digunakan untuk memperbaiki perpustakaan yang telah ada?

Selama delapan dekade republik merdeka, seberapa jauh perpustakaan sekolah di berbagai penjuru Nusantara telah memperoleh dukungan yang memadai? Sejauh apa Perpustakaan Nasional turun hingga ke akar, menengok langsung keadaan perpustakaan sekolah di penjuru tanah air?

Memang lewat program rutinnya, Perpustakaan Nasional ikut berkontribusi dalam melatih guru menjadi kepala perpustakaan sekolah. Ketika belum efisiensi, setiap tahunnya berlangsung empat kali Diklat Kepala Perpustakaan. Setiap fase kegiatan diikuti sekitar 40 orang. Jangkauannya tentulah sangat terbatas dibandingkan kebutuhan sekolah di seluruh Indonesia.

Tentu saja, pembinaan perpustakaan sekolah tidak dapat dibebankan kepada Perpustakaan Nasional sendirian. Ada pemerintah daerah, dinas pendidikan, satuan pendidikan, dan berbagai lembaga lain yang dapat mengambil peran. Namun, satu hal patut menjadi perhatian. Ketika anggaran perpustakaan terus menghadapi tekanan dan harus bersaing dengan berbagai prioritas lain, pengembangan budaya baca berisiko diperlakukan sebagai pelengkap, bukan kebutuhan mendasar. Padahal, investasi pada perpustakaan bukan semata-mata investasi pada buku. Ia merupakan investasi pada kemampuan manusia untuk memahami dunia, memeriksa informasi, dan membentuk pikirannya sendiri.

Selama ini, kita cenderung membayangkan perpustakaan sekolah sebagai fasilitas yang diperuntukkan bagi warga sekolah. Murid datang untuk membaca atau meminjam buku, guru mencari referensi, lalu perpustakaan menutup pintunya ketika kegiatan sekolah selesai. Padahal, koleksi dan pengetahuan yang tersimpan di dalamnya berpotensi memberikan manfaat lebih luas.

Bayangkan sebuah sekolah di desa memiliki koleksi sejarah lokal, catatan tentang asal-usul kampung, dokumentasi tradisi, cerita para tetua dusun, arsip foto lama, atau penelitian sederhana mengenai perubahan lingkungan setempat. Sekolah lain memperkuat koleksi sains, sastra, atau lingkungan. Koleksi semacam itu tidak hanya berguna bagi murid, tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Ada yang menekuni sastra, pertanian, kebudayaan, atau bidang lain yang relevan dengan kehidupan di sekitarnya.

Mengapa perpustakaan sekolah tidak membuka layanan bagi masyarakat sekitar, dengan pengaturan jam layanan dan pengelolaan yang jelas? Tentu, pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kondisi setiap sekolah. Tidak semua perpustakaan dapat langsung membuka layanan publik sepanjang hari. Namun, kita semestinya mulai memikirkan itu.

Sekolah dapat menjadi simpul pengetahuan bagi lingkungannya. Perpustakaan sekolah dapat menjadi tempat anak-anak mengerjakan tugas, warga membaca informasi yang berguna, komunitas mendokumentasikan sejarah lokal, atau guru dan masyarakat bertemu dalam kegiatan belajar bersama.

Saya teringat kisah Pramoedya Ananta Toer yang konon pulang dari perpustakaan dengan meminjam begitu banyak buku hingga memenuhi satu becak. Kepingan kisah itu menunjukkan bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku. Ia dapat menjadi sumber daya bagi seseorang untuk berpikir, menulis, dan memahami kehidupan. Buku-buku yang dibawanya pulang bukan hanya benda yang dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, melainkan kemungkinan-kemungkinan yang kelak tumbuh menjadi sesuatu.

Lalu, mengapa semua perpustakaan tampak serupa?

Saya membayangkan perpustakaan-perpustakaan sekolah yang banyak jumlahnya itu mengembangkan keunggulan koleksi yang berbeda sesuai dengan potensi daerah dan kebutuhan masyarakatnya. Spesialisasi bukan berarti membatasi hak murid untuk mempelajari bidang lain. Setiap perpustakaan tetap membutuhkan koleksi dasar yang memadai untuk mendukung pembelajaran. Keunggulan khusus merupakan tambahan yang memungkinkan sebuah perpustakaan memberi sumbangan lebih besar kepada jaringan pengetahuan.

Dengan banyaknya perpustakaan sekolah, kita tidak perlu membangun seluruh keunggulan secara terpisah di setiap tempat. Perpustakaan-perpustakaan itu dapat saling terhubung. Katalog, koleksi, program, dan pengetahuan tidak harus berhenti di satu sekolah. Buku dapat dipinjamkan melalui mekanisme yang disepakati, katalog dapat diakses bersama, dan kegiatan literasi dapat diselenggarakan lintas sekolah.

Perpustakaan kota/kabupaten punya sistem “silang layan” semacam ini. Kita bisa mengembangkannya agar dapat menciptakan pusat-pusat pengetahuan baru di berbagai titik daerah tanpa harus menjadikan setiap perpustakaan serba lengkap sendirian.

Murid pun berkesempatan mengakses sumber pengetahuan yang lebih luas daripada koleksi sekolahnya sendiri. Sekolah yang memiliki dokumentasi sejarah lokal dapat menjadi rujukan bagi sekolah lain. Sekolah yang mengembangkan koleksi lingkungan dapat berbagi bahan dan program pembelajaran. Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya menjadi fasilitas milik sekolah, tetapi bagian dari ekosistem pengetahuan bersama.

Tidak sampai di situ, saya juga membayangkan Koperasi Desa Merah Putih yang pembangunannya telah berjalan, tetapi sebagian di antaranya belum beroperasi sebagaimana direncanakan. Jika ada bangunan yang telanjur berdiri dan tidak dapat dimanfaatkan untuk tujuan semula, mengapa kita tidak mempertimbangkan pemanfaatan alternatifnya? Jika nasi nyaris menjadi aking, kita masih dapat mencari cara untuk mengolahnya menjadi rengginang. Salah satu kemungkinan ialah menjadikannya perpustakaan desa yang dapat terhubung dengan perpustakaan sekolah di sekitarnya.

Saya membayangkan itu menjadi Perpustakaan Desa Merah Putih. Di sana, buku-buku dapat dibaca anak sekolah dan masyarakat. Koleksi sejarah lokal dapat dihimpun. Kegiatan membaca, menulis, dan belajar bersama dapat berlangsung. Jika memungkinkan, perpustakaan itu dapat menjadi simpul jaringan yang menghubungkan sekolah, komunitas, dan lembaga pengetahuan lainnya. Ia menjadi balai pengetahuan rakyat.

Tentu, perubahan fungsi bangunan memang tidak dapat dilakukan begitu saja. Perpustakaan tidak otomatis hidup hanya karena sebuah ruangan diberi rak dan buku. Jika tidak ada orang yang mengurusnya, program yang menghidupkannya, dan masyarakat yang dapat mengaksesnya, kita hanya akan mengganti satu bangunan yang sepi dengan bangunan sepi lainnya. Karena itu, Perpustakaan Desa Merah Putih tidak hanya berhenti sebagai nama baru atau cara menyelamatkan bangunan yang telanjur dibangun. Ia perlu menjadi gagasan tentang bagaimana fasilitas publik dapat menghasilkan manfaat pengetahuan yang berkelanjutan.

Borges pernah membayangkan surga sebagai perpustakaan, tetapi kisah hidupnya mengingatkan kita bahwa buku yang berlimpah tidak selalu berarti pengetahuan dapat dinikmati. Ada jarak antara keberadaan dan keterjangkauan, antara sesuatu yang disediakan dan sesuatu yang sungguh-sungguh dapat digunakan.

Pekerjaan besar kita hari ini adalah memperpendek jarak itu. Membuat perpustakaan lebih dekat dengan anak-anak di sekolah, dengan warga di desa, dan dengan siapa saja yang ingin belajar, tetapi belum menemukan pintunya. Sebab, “surga pengetahuan” tidak seharusnya menjadi kemewahan yang hanya bisa dibayangkan oleh sebagian orang. Ia semestinya menjadi karunia yang dapat dikunjungi siapa saja.


Wendy Fermana merupakan pengajar dan pengarang.

Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Ikrar Izzul Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *