Cerpen “Kejantanan di Sumbing”, karangan Subagio Sastrowardoyo, merupakan satu dari tiga cerpen yang mendapat hadiah dari majalah Kisah, tahun 1955. Sepuluh tahun kemudian, bersama enam cerpen Subagio yang lain, dibukukan dengan judul yang sama oleh PT Pembangunan Djakarta. Tahun 1968, buku tersebut diterbitkan kembali oleh Balai Pustaka—buku tersebut adalah satu-satunya buku kumpulan cerpen Subagio Sastrowardoyo.
Dalam “Kejantanan di Sumbing” seorang provost yang tidak disebutkan namanya berlaku sebagai narator personal. Latar cerita di kawasan Gunung Sumbing pada sekitar masa Revolusi Nasional Indonesia (1945-1949).
Di tengah hawa dingin Gunung Sumbing, provost kita berbaring bersisian dengan seorang perempuan yang sudah bunting empat bulan. Perempuan itu menggerutu, ia ingin provost kita membawanya ke kota sebab ia sudah tidak tahan lagi dengan situasi. Provost kita tiada menanggapi, tapi ia mengatakan—dalam narasi—bahwa ia sudah menegaskan kepada si perempuan: tidak mungkin baginya meninggalkan pasukan, sebab itu berarti pengkhianatan, dan pengkhianatan harus dibayar dengan nyawa.
Barangkali karena tidak ditanggapi, si perempuan menuduh—dalam kalimat langsung—bahwa provost kita tidak memikirkan nasibnya, yang artinya tidak lagi mencintainya. Provost kita lagi-lagi tidak menanggapi. Lantas, provost kita mengaku—dalam narasi—bahwa bukan ia satu-satunya yang bertanggung jawab atas buntingnya si perempuan.
Mula-mula saya mengira pengakuan itu bermakna harfiah, artinya memang ada laki-laki lain. Namun, setelah tanda titik, provost kita mengatakan—dalam narasi—bahwa kesalahan juga harus dilemparkan kepada Belanda yang mengejar-ngejar mereka sampai ke gunung itu, juga kepada udara dingin, juga kepada kesempatan yang memaksanya berbuat. Ini mirip pengakuan orang yang terlambat datang ke pertemuan lalu menyalahkan jalanan macet, sinyal lelet, dan kolonialisme. Banyak betul yang mesti ikut terlibat, padahal cuma sperma provost kita yang menembus rahim si perempuan.
Merasa kurang dengan penjelasan itu, provost kita menambahkan— dalam narasi—kalau pun perempuan itu tidak bunting karena dirinya, perempuan itu akan tetap hamil oleh anggota pasukan lain. Alasannya: daerah perjoangan itu adalah daerah laki-laki yang menghormati kejantanan. Bagi provost kita, perempuan tidak punya kehormatan di sana.
Dari apa yang saya baca pada bagian awal itu, Subagio menyiratkan bahwa provost kita tidak cukup berdaya di hadapan si perempuan. Buktinya, tidak ada percakapan di antara mereka. Si perempuan selalu berbicara dalam kalimat langsung, artinya kepada provost kita. Sementara itu, sang provost selalu bicara melalui narasi, artinya bukan langsung kepada si perempuan, melainkan kepada dirinya sendiri—yang berarti juga kepada saya, selaku pembaca. Subagio membuat si perempuan punya hak: ia berani berkata, menuntut, bahkan menuduh. Sementara provost kita tidak menimpali, seperti tiada berani berkonfrontasi, dan cuma mampu bernarasi.
Pada bagian selanjutnya, Subagio menuntun saya ke kilas balik, bagaimana provost kita bersua dengan perempuan, yang kemudian saya ketahui bernama Sulinah, itu. Mula-mula Sulinah adalah tawanan. Seorang kepala pasukan bernama Mawardi menemukannya di Bandongan. Sulinah sudah mengaku bahwa ia hendak menyusul bapaknya yang mengungsi ke gunung, tapi Mawardi tidak percaya. Karena ia perempuan asing, artinya tidak dikenali sebagai penduduk dusun itu, ia ditawan. Sebagai provost, tokoh kita yang mesti mengurus si tawanan.
Sebelum provost kita bertemu Sulinah, ia sempat mengatakan—dalam narasi—bahwa sebulan sebelumnya ia telah menghukum mati seorang mata-mata perempuan. Artinya, ia memang tidak peduli, mau perempuan atau genderuwo, mata-mata harus ditembak. Keterangan itu seperti berupaya meyakinkan saya agar tidak sangsi akan nasib yang akan menimpa Sulinah. Apalagi kesan pertama provost kita terhadap Sulinah berbunyi macam begini: Aku belum pernah melihat muka perempuan seburuk itu.
Oh, begitu. Sudah buruk rupa, mata-mata pula. Apa lagi yang dapat menahan provost kita untuk menghabisi Sulinah?
Namun, Subagio mau memperlihatkan dulu retakan pada dinding mental provost kita.
Ketika Mawardi membawa aku masuk sebuah rumah penduduk yang dijadikan markasnya, aku melihat dia sedang makan, bertimpuh menunduk. Bajunya lurik amat rapat potongannya dengan badan.
Aku berdiri di pintu dengan tenang menantikan dia menyelesaikan makannya. “Saudara turut dengan saya!” perintahku kemudian. Aku masih sempat melihat dia meneguk air liurnya ketakutan. Dan tangannya yang gemetar menaruh piringnya di atas meja.
Aku benci kepada perempuan. Lebih-lebih kepada perempuan yang lemah hatinya sebagai yang di mukaku itu.
Ada tiga hal yang saya lihat dari kutipan di atas. Pertama, bahwa provost kita diam-diam memperhatikan tubuh Sulinah. Ada aksi pengintipan yang dibocorkan di sana. Kedua, pendapat provost kita bahwa Sulinah perempuan lemah masih meragukan. Dari mana sosok-banyak-alasan ini tahu bahwa Sulinah lemah hatinya? Buktinya cuma secuil, sedang bukti itu dapat diimbangi oleh kenyataan bahwa Sulinah sedang makan, bahkan provost kita menantikan dia menyelesaikan makannya, seperti sopir travel menanti penumpang selesai berbenah. Ketiga, rupanya provost kita memiliki gejala misoginis.
Dalam perjalanan membawa Sulinah ke markas, provost kita bercerita—dalam narasi—bahwa di masa kecil ia pernah mendatangi upacara idul kurban. Semalaman ia tidak bisa tidur sebab terbayang-bayang lembu yang disembelih. Akan tetapi, sekarang ia tidak selemah itu. Posisinya kini bahkan sejajar dengan tukang jagal, darahnya tinggal dingin ketika ia menembak.
Namun, saya rasa, kulkas untuk mendinginkan darah dalam diri provost kita tampaknya belum dioperasikan saat itu.
Tiba-tiba di tengah kebisuan yang tegang itu, perempuan itu berlari-lari kecil ke pinggir jalan. Aku curiga. “Berhenti!” bentakku dan Darso sudah menodongkan mausernya. Dia berhenti dan berjongkok gemetar. Tangannya terkulai memetik bunga kuning di tengah rerumput. Kepalanya menunduk kaku.
Di mana nyali si paling berdarah dingin ini? Kenapa ia tidak tembak saja itu Sulinah? Atau setidaknya membiarkan Darso, ajudannya, yang menembak? Lagi pula, seorang tawanan yang tiap saat bisa mati tapi masih sempat berlari-lari untuk memetik bunga kuning, jelas bukan tawanan yang lemah hatinya.
Begitulah. Sesampai di markas, Sulinah diminta tidur di bilik sebelah bilik provost kita. Perempuan itu menangis terisak-isak. Provost kita terganggu.
Malam itu juga aku bangunkan Pak Merto yang rumahnya kupakai menginap itu, minta pinjam sarung, dan dengan kain itu di tanganku aku masuk ke biliknya. ”Ini selimut. Jangan mengerang lagi!” geramku, sambil melemparkan sarung itu di atas bale-bale di sampingnya.
Bukannya ditembak malah dikasih selimut. Upaya mendinginkan darah kelihatannya tidak semudah itu, atau di tengah udara dingin darah memang cepat jadi panas? Provost kita malah mengaku payah akan tidur, artinya tidak bisa tidur. Lalu, terbitlah suatu pengakuan.
Perempuan itu bagus tubuhnya. Sudah lama aku tak bisa menghargai tubuh orang. Sudah semenjak revolusi ini.
Oh, begitu. Berarti mukanya buruk tapi tubuhnya bagus. Makanya tadi ada aksi pengintipan yang dibocorkan itu. Akan tetapi, saya merasa ungkapan kagum terhadap tubuh Sulinah tidak sepenuhnya mengarah ke hasrat seksual. Subagio menggunakannya untuk memperlebar retakan pada dinding mental provost kita, sehingga saya dapat melihat dengan jelas apa-apa yang terjadi di belakang dinding itu.
Orang tuaku dulu diamnya di kampung. Seperti kebanyakan rumah kampung, kami berdempetan dengan rumah tetangga di belakang. Juga kamar mandinya. Sekali ketika aku hendak pergi ke belakang, aku mendengar di balik dinding orang sedang mandi. Dari batuk-batuknya aku tahu itu perempuan. Aku tak bisa menahan ingin tahuku lagi, lalu aku mengintip dari celah-celah dinding. Dan aku melihat semuanya dari perempuan itu.
Sejak kecil provost kita rupanya sudah gemar melaksanakan aksi pengintipan. Namun, sekali lagi, aksi itu bukan semata-mata perkara seksual.
Semenjak itu setiap kali aku mendengar orang jebar-jebur mandi, aku pergi lagi ke kulah dan mengintip. Aku gemetar dan senang melihat. Dan mimpiku selalu penuh dengan bayang-bayang yang bagus. Dengan diam-diam aku mencoreti tembok-tembok dan buku tulisanku dengan tubuh-tubuh telanjang. Aku makin gemar. Dan akhirnya aku menjadi yakin aku akan menjadi pelukis besar.
Tampaknya hasrat seni dan hasrat seksual tumbuh bersamaan dalam diri provost kita. Hasrat seni menerbitkan cita-cita kesenimanan, sedang hasrat seksual menerbitkan citra kejantanan. Namun, ibunya menertawakannya dan tidak percaya bahwa provost kita bisa menggambar.
“Lihat tuh, bapakmu! Dia juga mau jadi pelukis. Tetapi dia tak becus mencarikan makan kita semua. Apa yang harus kita makan? Angin?” lengkingnya. Saudaraku ada tujuh orang. Masih kecil-kecil. Ibuku yang pergi ke pasar setiap hari, menjual pakaian anak-anak. Bapakku menganggur di rumah dan biasa mencoret-coret di atas kanpas kosong. Melukis, katanya.
Subagio meletakkan kata-kata sang Ibu sebagai kalimat langsung, dan bukan melalui narasi provost kita. Akibatnya, saya seolah mendengar dengan serta merta kata-kata itu dari sang Ibu. Sosok sang Ibu jadi lebih nyata, dan kata-katanya jadi terdengar lebih tegas.
Sejak itu provost kita membenci bapaknya karena ia menganggap bapaknya orang yang lemah dan telah menurunkan kepadanya darah seorang pengecut. Sebelumnya, provost kita merasa dirinya sama seperti sang Bapak—suka kepada angan-angan, suka kepada seni. Akan tetapi, kata-kata sang Ibu, juga kenyataan bahwa ibunya lah yang bekerja setiap hari, membuat provost kita berbalik haluan.
Tetapi kesukaan lama itu tampak dari waktu sekarang ini sebagai kelemahan yang kecut. Seni hanya perjoangan dengan angan-angan dan alam yang diam menyerah. Perjoangan demikian cuma pengganti palsu perjoangan yang sesungguhnya dengan manusia berkulit-berdaging yang bernafsu dan bertentangan. Di sini letak kejantananku. Seni hanya tersisa bagi perempuan dan orang-orang lemah. Perempuan tidak punya watak.
Kesimpulan provost kita agak rumpang. Orang yang menjalankan perjoangan dengan angan-angan kan bapaknya, sementara sang Ibu bekerja saban hari, artinya menjalankan perjoangan yang sesungguhnya. Kenapa ia malah menganggap seni hanya tersisa bagi perempuan? Tidak mungkin kan bapaknya perempuan, sementara ibunya laki-laki? Seorang pengarang yang agak edan barangkali akan gandrung dengan model kenyataan yang jungkir-balik macam itu, tapi Subagio bukan jenis pengarang macam itu. Tampaknya memang ada masalah pada mental provost kita.
Pagi harinya, provost kita dibangunkan oleh Darso yang mengabarkan bahwa pasukan musuh sudah dekat dan mereka harus mengungsi. Mereka tidak akan menang dalam pertempuran di hari terang karena kekurangan senjata.
“Perempuan itu harus kita bunuh dulu!” putusanku. Aku masuk ke biliknya. Bale-balenya kosong dan selimutnya terlipat di pinggir. “Ia tadi mandi,” Darso menjelaskan.
Aha, mandi. Terkuak siasat naratif Subagio. Ia akan menjadikan peristiwa mandi sebagai kait untuk benang yang menghubungkan mental provost kita ke masa kecilnya di jauh sana. Kecuali itu, makin kuat pula kesan bahwa Sulinah tidak begitu takut kepada provost kita. Seorang tawanan yang tiap saat bisa mati tapi masih sempat mandi pagi seakan ia akan pergi kondangan, jelas bukan orang sembarangan.
Dengan pistol di tangan, provost kita bergegas menuju sungai. Subagio, dengan sadar, mengarahkan narasi, yang sudah tentu disampaikan provost kita, ke citraan seperti ini:
Kabut telah naik di atas air dan melayang dengan diamnya dekat pokok-pokok pisang di tepi sungai. Sinar pagi yang lembut telah menembusi sela-sela daun, celah tebing dan menerangi kelokan sungai tempat mandi.
Tidak ada ketegangan perang dalam citraan itu, ia bahkan berkesan lembut. Di sini terlihat kualitas Subagio sebagai penyair. Kata-kata yang dipilihnya (pokok-pokok pisang, menembusi, celah tebing, kelokan) menyusupkan kesan sensual. Citraan itu segera membantu saya terhubung dengan apa yang berlangsung pada provost kita setelahnya.
Aku melihat dia berjongkok di dalam air dan badannya tidak berbaju lagi. Kesuburan perempuan di air itu menyilaukan mataku. Aku serasa kanak-kanak lagi. Kakiku gemetar.
Daripada menyebut ia tidak berbaju lagi, provost kita memilih badannya tidak berbaju lagi. Betapa fokus ia kepada tubuh Sulinah. Masa kecil provost kita bangkit; masa ketika ia masih sama dengan bapaknya; masa ketika ia masih seorang lemah yang berjoang dengan angan-angan. Kaki provost kita gemetar oleh sebab birahi, juga oleh sebab hantu masa kecil yang kembali menyelubunginya.
Darahnya lagi-lagi gagal mendingin. Sulinah tidak jadi ia tembak. Perempuan itu turut mengungsi. Lantas, di tengah suasana malam yang gelap, di tempat pengungsian, provost kita merenung-renung.
Aku merasa aman dalam gelap ini. Aku merasa satu dengan kegelapan. Aku kegelapan sendiri. Aku telah memilih kegelapan ini dan terjun dalam pusaran yang tak berujung-berpangkal …
Kadang-kadang kengerian datang-datang padaku. Akhirnya aku akan lenyap. Tak ada jalan keluar dari pusaran. Suatu kali aku akan tenggelam. Karena itu aku memainkan perananku dengan tak tanggung-tanggung lagi, aku akan membunuh-membunuh untuk melupakan saat kematianku dan segala yang mengingatkan aku kepada nasibku akan kubunuh; pusaran air di kali, mulut bedil yang menodong ke dadaku, bola mata perempuan yang menatap mataku.
Ada tiga hal yang saya lihat dari kutipan di atas. Pertama, soal kegelapan. Provost kita merasa aman dalam gelap karena di sana ia bisa sembunyi, dan dengan begitu kelemahannya tidak terlihat. Segala pengakuannya soal kejantanan dan darahnya yang dingin berbagi fungsi dengan kegelapan, yakni untuk menyembunyikan kelemahannya itu. Kedua, provost kita membunuh untuk melupakan bahwa kematian juga akan datang kepadanya. Pikiran itu tampak paradoks, tapi sebetulnya mengandung hal praktis; apa yang mau dibunuh oleh provost kita adalah ancaman; semua yang mengingatkannya akan nasib bahwa ia juga akan mati, dan(ketiga) salah satu hal yang mengancam itu adalah bola mata perempuan yang menatap matanya.
Aha, di sana saya melihat sebentang benang, yang mengarah pada gejala misoginis tadi. Provost kita membenci perempuan sebab perempuan adalah ancaman—sejajar dengan pusaran kali atau mulut bedil—dan bukan karena perempuan lemah atau tak punya watak. Bagaimana perempuan dapat menjadi ancaman? Saya ingat apa yang pernah dikatakan sang Ibu soal cita-citanya menjadi pelukis. Sang Ibu telah membongkar yang lemah pada diri provost kita; sesuatu yang selalu berusaha disembunyikannya melalui pengakuan-pengakuan akan kejantanan.
Setiap perempuan, termasuk Sulinah, adalah pantulan sang Ibu, yakni ancaman yang mengingatkan provost kita akan nasibnya, bahwa ia memang mengandung kelemahan, suatu perasaan yang dekat dengan saat ia memikirkan bahwa kematian juga akan datang kepadanya. Provost kita tiada berdaya mengusir kelemahan pada dirinya, sebagaimana ia tiada berdaya menerima kenyataan bahwa ia juga akhirnya akan lenyap.
Karena itu, segala ancaman harus dimusnahkan, termasuk Sulinah.
Mengapa perempuan itu tak kubunuh di kali! Mengapa aku jadi kanak-kanak lagi dan ragu-ragu berbuat? Aku menjadi benci kepada diriku sendiri, kepada kelemahan yang menyelinap ke dalam dadaku. Aku pengecut.
Tidak mau larut dalam penyesalan, provost kita mendatangi Sulinah dan bertekad menghabisinya. Keputusan itu sudah tampak final. Namun, saya tahu pada diri Sulinah terdapat suatu kualitas. Sulinah melawan. Mereka sama-sama mempertahankan niat. Sampai kemudian, Subagio menyodorkan satu set adegan di mana dinding mental provost kita yang sudah retak itu runtuh. Dalam upaya menarik Sulinah keluar, tangan provost kita menyenggol tepi meja. Pistolnya terpelanting, lampu cublik terguling, nyalanya padam dan ruangan jadi gelap gulita.
Aku belum tersadar dari terkejutku, ketika perempuan itu merangkul aku. Dalam gelap itu tangannya seperti ular yang menggeser dan melilit leherku. Aku mendengar engah-engah napasnya dekat telingaku dan kemudian desisnya tertahan-tahan, “Engkau melihat aku di kali! Engkau melihat aku di kali!”
Aku seperti terpesona. Kesuburan tubuh yang memeluk aku serta hawa kulitnya yang membara memabukkan napsuku. Aku merasa diberi hajat hidup yang melimpah dan nikmat.
Sulinah tidak bermaksud membuat kesepakatan, misalnya dengan menyerahkan tubuhnya agar ia tidak dihabisi. Desisnya itu lebih menunjukkan bahwa ia meminta pertanggungjawaban. Namun, bagaimana pun juga, sang ancaman telah berubah menjadi pemberi hidup. Freon kulkas bocor, darah tidak bisa dingin lagi.
Penggunaan narator personal memang tidak memberi saya kesempatan untuk melihat melalui perspektif Sulinah. Namun, Subagio tidak membungkamnya. Dengan bekal sedikit, saya dapat berpindah sebentar ke perspektif itu. Dari sana dapat terlihat bahwa Sulinah sudah berhasil mengubah posisinya, dari seorang tawanan menjadi perempuan yang punya hak menuntut. Dan perempuan itu melakukannya di daerah perjoangan, daerah laki-laki yang menghormati kejantanan.
Begitulah, empat bulan kemudian, Sulinah masih hidup.
Namun Subagio, sang pencipta, punya rencana lain.
Sewaktu saya dibawa kembali ke masa kini, di mana tadi saya mendengar Sulinah yang sudah bunting empat bulan merengek-rengek, saya melihat provost kita tidak sanggup lagi menghadapinya.
Dan aku sudah bosan kepada perempuan ini. Selama ia bunting ini ia rupanya seperti satu luka yang busuk yang membarah yang memualkan perutku. Dikejar-kejar oleh Belanda selama empat bulan ini ia lebih merupakan beban yang menghambat kaki untuk melarikan diri dari maut.
Aku bangun dari baringku dan melangkah ke pintu.
Oh, begitu. Jadi, baru empat bulan si pemberi-hajat-hidup telah berubah menjadi beban, dan tiada hal lain yang diinginkan provost kita kecuali lepas dari beban, dari tanggung jawab.
Saat provost kita sudah berada agak jauh di luar, musuh sekonyong-konyong datang menyerang. Di bawah hujan peluru ketakutan provost kita akan kematian bangkit kembali.
Sekonyong-konyong membersit dalam diriku perasaan ganjil yang sudah lama tidak kualami. Perasaan lemah yang kubenci sendiri. Aku teringat kepada Sulinah yang berbaring di bilik itu dan aku merasa kasihan! Aku harus menolongnya.
Wahai, Provost, sesungguhnya kau tidak kasihan. Kau hanya lemah, kau takut akan kematian. Makanya kau ingat Sulinah, si pemberi-hajat-hidup. Dengan berniat menolongnya, kau sebenarnya hendak menolong dirimu sendiri.
Aku mendengar desing-desing yang menyayat-nyayat lagi di udara lalu bunyi seperti kipas besi yang berputar-putar. Tanda peluru akan dekat jatuhnya. Kemudian melalui celah-celah asap mesiu yang mengangkat naik aku melihat sepotong manusia melejat-lejat di ambang pintu rumah,..
Sang pencipta rupanya menghendaki Sulinah mati.
Penggunaan narator personal memang tidak memungkinkan adanya pilihan plot di mana sosok yang mati adalah provost kita, sebab kalau ia mati, siapa yang akan bercerita kepada pembaca? Namun, Subagio sebetulnya masih punya pilihan, yakni membiarkan Sulinah hidup dan provost kita mengambil tanggung jawabnya dengan lebih yakin. Namun, Subagio lebih memilih menjadikan serangan musuh sebagai deus ex machina bagi provost kita. Sulinah mati bukan karena darah-dingin provost kita, melainkan karena sang pencipta menginginkannya. Dengan begitu, sang pencipta sekaligus mengabulkan keinginan provost kita, yakni lepas dari tanggung jawab.
Tiba-tiba perasaan aman menyusup di dadaku. Perasaan hening yang nyaman dan nikmat. Perasaan bahagia di jantungku seperti terpijit-pijit oleh tangan halus. Aku luput dari maut, aku luput!
Tangan halus itu adalah tangan sang pencipta, tangan Subagio Sastrowardoyo, yang menggunakan medan perang untuk membongkar ilusi kejantanan, sekaligus untuk mempertahankannya.
Begitulah, Subagio tidak membawa saya kepada kemungkinan provost kita sampai pada situasi di mana ia harus menerima tanggung jawab itu sebab kejantanan dalam dirinya hanya ilusi. Bahwa di dalam dirinya terdapat sifat-sifat yang dibencinya. Bahwa, sesungguhnya, ia memang lebih cocok menjadi pelukis, dari pada provost.
Kiki Sulistyo Kiki Sulistyo menerima Kusala Sastra Khatulistiwa, Penghargaan Sastra Kemendikbudristek, dan Buku Sastra Terbaik Tempo.
Editor: Asief Abdi
Foto: Asief Abdi


