Kritik Seni

Di Bawah Tekanan Udara

Pada tahun 2016 kemarin, Nerja menjadi film disaster yang memukau publik India dan menyita perhatian banyak orang. Di samping mengungkap tirai di balik tragedi terorisme di dalam pesawat pada tahun 1986, yang berlokasi di salah satu bandara Karachi, Pakistan, pengemasan cerita yang baik dari Nerja juga membawa film tersebut pada kritik-kritik yang amat positif. Menariknya, berapa banyak sutradara India yang menggarap film-film disaster macam ini? Jawabannya tentu dapat dihitung jari. Namun yang lahir dari tangan dingin sutradara Ram Madhvani ini, memantaskan Nerja berada di tingkatan yang sama dengan disaster keluaran Hollywood pada saat itu.

Serasa tak ingin kalah dengan Bollywood. 8 Tahun kemudian, Korea Selatan merilis disaster yang formulanya tak jauh berbeda dengan Nerja. Dan hasilnya, wow, bisa dikatakan memiliki kompleksitas yang lebih luas. Korea Selatan, bukanlah industri amatiran dalam menciptakan disaster yang memukau. Mulai dari Train to BusanThe FluPandora, sampai Ashfall, semua datang dari industri mereka. Film-film tersebut adalah disaster yang memuncaki posisi terbaik. Sampai pada tahun ini, Emergency Declaration merebut semuanya.

Disutradarai oleh Han Jae-rim. Film ini menggaet pemain-pemain papan atas seperti Lee Byung-hun, Song Kang-ho, Kim So-jin, Jeon Do-yeon, dan masih banyak lagi. Dengan bertaburnya nama-nama beken dan kekuatan narasi yang kokoh, Emergecy Declaration memastikan dirinya sebagai film disaster nomor satu yang dimiliki dunia saat ini dan sangat patut untuk dirayakan.  

Sebuah teror mengancam penerbangan KI501 jurusan Incheon-Hawaii. Uniknya, teror tersebut pertama kali tercium oleh seorang kepala polisi bernama In Ho, dari laporan sekelompok anak-anak perumahan elit yang berada di tengah kota. Merasa ada yang mencurigakan, ia dan rekannya menyusup ke sebuah apartemen dan mendapati mayat laki-laki yang tewas akibat virus. Jauh di tubuh pesawat, Jae Hyuk, seorang mantan pilot, mencurigai pemuda yang ia temui sebelumnya di toilet bandara. Benar saja, pemuda itu, Jin-seok, ternyata orang yang ada di dalam video teror yang dilaporkan sekelompok anak-anak sebelumnya. Sedangkan di darat, In Ho mendapati sang istri tengah berada di dalam penerbangan yang sama dengan si pelaku teror. Seketika virus disebarkan di dalam toilet pesawat dan satu per satu penumpang mulai tumbang. Keadaan gusar tak terkendali.

Belum lagi lima menit intro film berjalan, tensi yang dibangun lamat-lamat semakin meningkat. Penemuan mayat oleh In Ho dan kecurigaan Jae Hyuk terhadap Ji-Seok di menit-menit awal, membuka ketegangan tanpa jeda sepanjang film. Dan scoring yang menempel di dalamnya terus berlanjut dari pesawat mengudara sampai pasca kematian Ji-Seok akibat virus yang disebarkan dalam tubuh pesawat. Emergency Declaration. Tak melulu menyoal bencana dan kekalutan situasi penerbangan. Pengenalan budaya teknologi di antara kaum muda dan tua yang terpaut jauh, juga patut menjadi perhatian kecil di sini. Apiknya, itu digulir halus membuka jalannya cerita.

Apa yang disajikan Emergency Declaration adalah kejeniusan dalam membangun narasi yang kokoh. Pengemasan cerita bencana lewat medium film benar-benar dieksplor sampai ke kulit-kulitnya. Di sini, teror merupakan pondasi kuat yang menggulirkan kisahnya dari udara sampai jauh ke daratan. Maksudnya, konflik tak hanya bertumpu di tubuh pesawat antara teror, penumpang, dan awak pesawat. Di darat, seorang polisi mencari cara melepaskan belenggu virus yang melanda penerbangan KI501, sampai rela menjadi kelinci percobaan. Dan untuk menekankan kegentingan film, Han Jae-rim, sang sutradara, menghadirkan peran menteri, kekuasaan presiden, dan sebuah perusahaan penelitian dalam bidang medis yang kesemuanya saling bersitegang. Betapa wujud teror dan akumulasi peran sinematik membangun film menjadi jelas meski keikutsertaan pemeran-pemeran yang berlipat ganda turut mewarnai Emergency Declaration.

Nuansa mencekam yang berlayar dari awal sampai akhir sangat meyakinkan. Dan itu, tentunya ditunjang dengan gaya penceritaan yang tidak ada kealpaan di dalamnya. Kompleksitas narasi dibuktikan oleh kejeniusan sang sutradara dalam menciptakan atmosper kegentingan yang begitu kolosal melalui pemberitaan televisi, kekhawatiran keluarga korban, dan ribuan pendemo yang menolak pesawat mendarat agar tak membahayakan seluruh warga korea sebab virus yang menjangkit di dalamnya. Emergency Declaration sebuah tontonan yang luar biasa memukau, dan menjadi satu contoh deklarasi sinema disaster yang bekerja dengan sempurna tanpa kecacatan yang signifikan. Salah satu film bencana terbaik dunia saat ini.

Azman Bahbereh adalah penyair dan sinefil yang tinggal di Singaraja. Ia pernah belajar di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

Editor: Putri Tariza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *