Selain Jawa, Bali merupakan salah satu daerah yang masih kental nilai kearifan lokalnya. Hal ini dapat kita lihat pada tingginya antusias masyarakat terhadap seni dan ritual keagamaan yang di Bali. Contoh implementasi kearifan lokal Bali, yaitu rasa syukur kepada Tuhan dengan khidmat dan sujud bhakti. Orang-orang berziarah atau berkunjung ke tempat-tempat sakral untuk memohon kesucian lahir-batin dan mempelajari dengan sungguh-sungguh ajaran-ajaran mengenai ketuhanan, mengamalkan, serta menaati secara teliti segala ajaran-ajaran kerohanian atau pendidikan mental-spiritual.
Filosofi tri hita karana dalam masyarakat Bali dapat diterapkan di mana dan kapan saja. Idealnya, dalam setiap aspek kehidupan, manusia dapat mempraktikkan tri hita karana yang sarat ajaran moral: Tak hanya bagaimana masyarakat Bali diajarkan untuk bertuhan dan mengagungkan Tuhan, tapi bagaimana srada dan bhakti kita ditujukan kepada Tuhan melalui praktik keseharian, seperti menghargai sesama dan alam semesta yang telah memberikan kehidupan bagi manusia.
Nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra pada dasarnya mencerminkan realitas sosial yang memberikan pengaruh terhadap masyarakatnya. Sastra sebagai salah satu bentuk kebudayaan adalah seni yang menggambarkan kehidupan manusia. Wujud nilai budaya itu ada pada bahasa, pengetahuan, organisasi sosial, mata pencarian, sistem religi, dan kesenian.
Novel tentunya mengandung unsur-unsur moral, baik yang disampaikan secara eksplisit maupun implisit. Pengarang mencandrakan cerita-cerita yang bersinggungan dengan kehidupan nyata. Selain pengarang, cakrawala harapan pembaca juga turut menentukan sudut pandang mereka terhadap teks penuh tamsil. Novel adalah karangan prosa yang panjang dan mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekitarnya melalui watak setiap tokoh.
Adapun novel Tantri: Perempuan yang Bercerita karya Cok Sawitri mengangkat cerita fabel yang mengandung keteladanan perihal bagaimana sepatutnya manusia menjalankan kehidupan. Cerita-cerita binatang yang dituturkan Ni Diah Tantri—tokoh utama—kepada sang raja mendorong penguasan Negeri Patali itu menghentikan kebiasaan meminta perawan setiap malam. Cerita Tantri dan segala versinya begitu populer dalam masyarakat Bali dan Jawa.
Novel Tantri merupakan cerita berbingkai yang mengisahkan kehidupan para binatang yang karib dengan nilai-nilai moral yang patut diteladani. Cerita ini berawal dari Kerajaan Patali Nagatum yang dipimpin Raja Eswaryadala. Raja muda yang tampan dan gagah ini selalu merasa gundah gulana dan sulit tidur. Raja meminta sang setia untuk mencarikan gadis perawan dan jelita untuk dipersembahkan kepadanya setiap malam. Dia tidak peduli gadis itu anak petinggi negara, rakyat jelata, atau putri raja tetangga. Hingga cemaslah Mahapatih Bandeswarya karena stok perempuan perawan sudah tidak ada lagi. Berkat ketulusan hatinya, Ni Diah Tantri, putri kesayangan Mahapatih Bandeswarya, rela dipersembahkan sebagai istri untuk mengubah kebiasaan buruk raja. Nilai moral tokoh dalam novel ini dapat dijadikan kiblat kehidupan sehari-hari. Dalam Tantri, ketulusan seorang gadis cantik telah menyelamatkan Kerajaan Patali Nagatum dari kutukan karena ulah rajanya.
Inspirasi novel Tantri karya Sawitri memang berasal dari sastra klasik. Cerita Tantri merupakan gubahan dari sebuah naskah India, Pancatantra. Pancatranta ditulis dengan bahasa sanskerta di awal Masehi. Muasalnya naskah tersebut merupakan kumpulan cerita yang disebut sebagai ilmu akhlak (nitisastra) atau ilmu dunia (arthasastra).
Menurut Lathifah (2015), dengan kreativitas dan inovasi baru, Sawitri menciptakan karya yang diambil dari sastra lisan yang sebelumnya telah dikenal masyarakat. Cerita lisan yang kemudian ditulis ke dalam bentuk sastra klasik tersebut memiliki banyak variasi, salah satunya Kidung Tantri Kediri. Tantri Sawitri merupakan transformasi dari bentuk cerita Kidung Tantri Kediri. Karya Sawitri tampil dalam bentuk novel bahasa Indonesia yang diterbitkan pada 2011. Artinya, keseluruhan cerita dalam Tantri: Perempuan yang Bercerita ini mengandung tradisi masyarakat Bali. Kebudayaan Bali pada hakikatnya dilandasi nilai-nilai yang bersumber pada ajaran Hindu.
Dalam sebuah karya sastra terkadang model kehidupan tidak selalu ditampilkan dalam bentuk manusia sebagai subjek. Beberapa novel mengusung tokoh-tokoh hewan yang diberi watak dan perilaku mirip manusia. Fabel juga sering menyinggung nilai kearifan lokal tertentu. Menampilkan perilaku hewan dalam sebuah novel merupakan kehendak penulis untuk menyampaikan pesan secara tersirat.
Tri Hita Karana
Menurut Putra (2012), Tantri: Perempuan yang Bercerita merupakan transformasi modern dari cerita klasik Tantri. Struktur isi atau pembagian bab dari novel ini menyerupai prosa Carita Tantri karya Made Pasek dengan sedikit perubahan. Berhubung Tantri sudah menjadi bagian dari tradisi lisan Bali, mungkin saja Sawitri juga menjadikan berbagai varian kelisanan itu sebagai sumber inspirasi. Artinya, novel Tantri merupakan interteks dari aneka bentuk cerita Tantri. Seperti teks-teks Tantri lainnya, novel ini masih menampilkan stok karakter moral yang menyediakan refleksi untuk memperkaya pikiran dan jiwa dalam menghadapi dilema-dilema kehidupan. Kreasi dan inovasi dalam novel ini sama sekali tidak melucuti keindahan ajaran moral dan nilai-nilai kearifan yang terdapat dalam cerita sumber.
Bagi Putra (2012), Tantri dengan segala variasinya sudah menjadi bagian hidup dari lintas generasi manusia Indonesia. Di Bali, kisah ini menjadi bagian dari seni pertunjukan, seni rupa, dan yang tak kalah penting adalah bagian dari buku pelajaran di sekolah, bahkan sejak era kolonial, seperti tampak pada pilihan guru Made Pasek untuk menerbitkan kisah ini sebagai buku bacaan bagi pelajar.
Sebagai novel hasil transformasi dari cerita lama yang sudah beredar di Bali, Tantri juga menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan mengenai hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), hubungan sesama manusia (pawongan), dan hubungan manusia dengan lingkungan atau alam sekitar (palemahan) yang tercermin dalam ajaran Hindu tri hita karana—tiga konsep penyebab kesejahteraan. Hermawan & Susilo (2018) mencatat bahwa memisahkan agama Hindu dan budaya Bali merupakan sesuatu yang kompleks dan tidak mudah. Sebab, hampir seluruh pola aktivitas sosial masyarakat Bali didasarkan pada ajaran agama Hindu. Begitu juga sebaliknya, seluruh ritual agama Hindu di Bali sudah dianggap budaya.
Konsep religio-sosio-natural dalam tri hita karana dapat digunakan untuk membaca nilai moral novel Tantri ini karena selain berasal dari Bali, fabel Ni Diah Tantri memiliki makna filosofis yang mengubah kebiasaan buruk raja. Nilai-nilai yang terkandung dalam novel ini selaras dengan konsep atau ajaran tri hita karana. Membudayakan tri hita karanadapat menghindari terjadinya suatu konflik dan gejolak manusia. Menurut Wardana & Sudira (dalam Lilik & Mertayasa, 2019) tri hita karana diamalkan agar manusia dapat mencapai kebahagiaan.
Edgar Allan Poe menggugat konsep bahwa puisi bersifat didaktis. Namun, konsep sastra yang umum pada zaman itu berbeda dengan istilah didactic heresy yang dilontarkan Poe: Sastra berfungsi menghibur dan sekaligus mengajarkan sesuatu (Wellek dan Warren, 1990). Karya sastra memiliki dua fungsi yang sesuai dengan wataknya. Kedua fungsi tersebut, yaitu kesenangan (dulce) dan manfaat (utile), saling mengisi. Ragam bahasa karya sastra penuh asosiasi, irasional, dan ekspresif untuk menunjukkan sikap penulisnya sehingga menimbulkan dampak tertentu bagi pembaca, seperti memengaruhi, membujuk, dan mengubah sikap pembacanya (Wellek dan Warren,1990).
Bagi Eldridge & Cohen (dalam Nugraha, 2020), penautan kredo fungsi atau utile karya sastra memang menjadi perdebatan hingga kini. Bagaimanapun juga, karya sastra bukanlah khotbah atau ceramah (Said dalam Nugraha, 2020). Namun, tak dapat dipungkiri bahwa karya sastra memiliki sifat mendidik bagi pembaca. Pengertian moral dalam karya sastra itu sendiri tidak berbeda dangan pengertian moral secara umum, yaitu menyangkut nilai baik-buruk yang diterima secara umum dan berpangkal pada nilai-nilai kemanusiaan. Moral dalam karya sastra biasanya dimaksudkan sebagai petunjuk dan saran yang bersifat praktis bagi pembaca dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini selaras dengan pendapat Nurgiyantoro (2019) bahwa sastra mampu memberi kesenangan sekaligus memberikan manfaat. Sastra mampu melibatkan berbagai aspek kehidupan yang menunjang atau memengaruhi cara berpikir, bersikap, berperasaan, dan bertindak secara verbal atau nonverbal.
Bagi Wiyatmi (dalam Mahardika & Permana, 2017) pendekatan moral adalah pendekatan yang bertolak dari dasar pemikiran bahwa karya sastra dapat menjadi media yang paling efektif untuk membina moral dan kepribadian suatukelompok masyarakat. Memang, awalnya, karena proses pembacaan karya sastra dilakukan secara sendiri-sendiri, pembinaan moral itu berlangsung pada individu-individu. Akan tetapi, haruslah disadari bahwa masyarakat terbangun dari individu-individu. Jadi, pembinaan moral itu tidak bisa dilakukan dalam bentuk komunal, berproses setahap demi setahap dari individu-individu ke masyarakat.
Parahyangan
Penerapan parahyangan dapat ditujukan dengan ritual kepada Dewa Yadnya. Karena parahyangan merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhan, penerapannya dapat dilaksanakan dengan ritual kepada Dewa Yadnya melalui pembersihan diri, rajin sembahyang, dan menjauhi larangan-larangan-Nya (Padet & Krishna, 2018). Nilai parahyangan diamalkan dengan sikap patuh dalam melaksanakan ajaran agama dan toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain. Wujud nilai parahyangan ini, yaitu rajin beribadah, ikhlas, dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam novel Tantri banyak sekali nilai teladan tentang hubungan manusia dengan Tuhan yang bisa dicontoh masyarakat Indonesia. Tantri sebagai tokoh utama dalam novel ini sangat taat dalam menjalankan ajaran agama. Setiap selesai membersihkan diri di pagi hari, Tantri selalu melakukan ritual Surya sevana (pemujaan kepada dewa matahari di pagi hari). Berikut adalah kutipannya. “Usai membersihkan diri, Ni Diah Tantri melakukan Surya sevana lalu menikmati santapan pagi dengan pikiran terus bekerja” (Sawitri, 2011:86).
Beginilah seharusnya manusia. Bangun di pagi hari sebelum bekerja. Bersyukur kepada Dewa Surya yang dipercaya sebagai Tuhan bagi penganut Hindu di Bali. Jika hal ini dilakukan dan dibiasakan dengan perasaan senang, manusia akan memiliki hubungan harmonis dengan Tuhannya seperti Tantri.
Di novel itu, Tantri berkisah tentang pertemuan seekor lembu bernama Nandaka dengan Prabu Singha Candapinggala, penguasa Hutan Malawa. Pertemuan keduanya terjadi secara tidak disengaja karena Candapinggala sedang melakukan perburuan. Perburuan itu gagal akibat perlawanan Nandaka yang begitu kuat menghadapi pasukan anjing yang dipimpin Prabu Singha Candapinggala. Pertemuan itu berujung pada permintaan Candapinggala yang ingin bersahabat dengan Nandaka setelah menyadari kekuatan luar biasa lembu itu. selain itu, prabu sadar bahwa Nandaka merupakan cucu seorang begawan dan kendaraan Batara Guru.
Pada kisah ini Nandaka dikenal sebagai sosok yang taat menjalankan tapa brata dengan ketat. Hal itu pula yang membuatnya begitu memahami dharma dengan baik. Hal itu dapat kita lihat ketika Nandaka menceritakan jalan moksa. “Nandaka menceritakan moksa sebagai jalan penyatuan manusia dengan semesta, Tuhan yang maha suci” (Sawitri, 2011:75—76). Nandaka menceritakan moksa sebenarnya untuk menyadarkan Raja Hutan Malawa itu untuk berhenti berburu. Mestinya, seorang raja harus meneladani ajaran Wisnu yang berperilaku melindungi, menyayangi, bukan malah ingin menguasai dan bebas berburu sesuai nafsunya. Kisah ini sebenarnya bentuk sindiran Tantri terhadap Eswaryadala yang semena-mena meminta prajuritnya berburu seorang gadis untuk digagahi.
Berlanjut pada kisah I Baka, seekor bangau yang menyamar menjadi pandita. Di sebuah telaga, ia melakukan dwi jati (ritual penasbihan pendeta). Dalam melakukan dwi jati, I Baka berhenti memangsa fauna di telaga itu sehingga dipercaya sebagai pandita yang baik oleh penghuni di sana. Suatu hari seekor ikan meminta diajarkan dharma oleh I Baka dan diikuti semua jenis fauna yang hidup di telaga itu karena sudah merasa aman dengan sikap pendeta tersebut. Dengan senang hati, ia menjelaskan bahwa kelahiran tidak lepas dari kebaikan dan keburukan. “Kelahiran itu selalu tidak lepas dari keburukan dan kebaikan. Itu sifatnya sepasang. Karena itu, semua yang hidup harus bersyukur kepada Tuhan, dan mensyukuri anugerah hidup” (Sawitri, 2011:116).
Pesan moral I Baka mengarah pada ajaran tentang Tuhan yang telah memberikan anugerah hidup pada manusia. Manusia juga harus mengingat siapa penciptanya dan siapa yang memberinya anugerah kehidupan. Dengan begitu, keharmonisan manusia dengan Tuhan akan tetap terjaga.
Kisah selanjutnya, yakni “Burung Tinil yang Mengalahkan Samudera”. Yudapane (burung tinil) menyelesaikan kisah manusia, I Papaka, yang tidak tahu rasa terima kasih setelah dibantu seekor kera hitam bernama Wanari. Seusai Yudapane bercerita, datanglah seekor garuda yang merupakan sahabatnya. Tanpa ragu, Yudapane meminta bantuan garuda. Dengan iba garuda mengantarkan Yudapane untuk menghadap Batara Wisnu. Garuda merupakan murid Batara Wisnu, sang penguasa hidup, penguasa tirta amerta. Sikap garuda dan burung tinil menunjukkan bahwa mereka memiliki sikap parahyangan.
“Duhai, dewa pelindung semua makhluk, hamba burung Tinil datang menghadap. Hamba datang dengan kesedihan, sungguh tak berdaya disebabkan telur-telur istri hamba dihanyutkan oleh ombak. Mereka suruhan Dewa Baruna, yang sikapnya ganas tak bermata, tak melihat telur-telur hamba adalah bibit kehidupan, yang sesungguhnya ada dalam perlindungan Anda. Hamba ini lemah tak berdaya, ombak yang takt ahu diri itu sungguh tak mungkin hamba ajak berunding. Karena itu hamba menghadap kepadamu, hai, Dewa Wisnu. Hamba memohon agar telur-telur istri hamba kembali ke dalam gua karang, hamba mohon keadilan bagi calon anak-anak hamba” (Sawitri, 2011:155).
Dalam filsafat Hindu Waisnawa, Dewa Wisnu dikenal sebagai pemelihara dan pelindung alam semesta. Oleh karena itu, sikap Yudapane terhadap Dewa Wisnu merupakan salah satu wujud dirinya yang selalu mengingat Tuhan dan meminta bantuan-Nya. Begitupun sebaliknya, Dewa Wisnu dengan senang hati membantu Yudapane untuk mendapatkan kembali telur-telur istrinya yang hanyut ombak utusan Dewa Baruna, sang penguasa Samudra.
Pawongan
Ajaran pawongan diamalkan untuk menjaga hubungan baik antarmanusia. Hal ini dapat diwujudkan dengan sikap tenggang rasa, perasaan saling memiliki antarumat beragama, saling menghargai dan tolong-menolong. Jika toleransi tersebut telah dilaksanakan, terciptalah hubungan selaras dalam masyarakat, baik yang seagama maupun yang berbeda agama (Padet & Krishna, 2018).
Pada bab pertama yang bertajuk “Sang Setia”, prajurit yang mendapat gelar sang setia mengabdi sepenuhnya kepada raja dan pekerjaannya. Mendapatkan gelar tersebut tidak mudah bagi prajurit yang memiliki mental semenjana. Bukan keterampilan senjata, bukan ketangkasan, dan bukan pula kecerdikan, melainkaan kesetiannyalah yang diuji. Prajurit sang setia harus mengutamakan perintah rajanya melebihi apa pun.
“Sekalipun ibu, kekasih, istri, anak … bahkan dewa sekali pun, jika bertanya kepada kalian tentang apa saja mengenai tugas yang diperintahkan, lebih baik mati dibandingkan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu” (Sawitri, 2011:2). Hal tersebut dilakukan untuk menjaga keamanan Kerajaan Patali Nagatum dari ancaman berbagai musuh. Demi menjaga lingkungan sekitar, kesetiaan seperti ini perlu ditekankan kepada sang setia. Tugas-tugas sang setia tertutup dari masyarakat biasa. Di zaman sekarang, sang setia bisa diandaikan seperti pasukan khusus TNI yang menjaga kedaulatan negeri ini dari ancaman musuh yang ingin merebut kekayaan alam Indonesia.
Tantri adalah tokoh yang cerdas. Kecerdasannya mampu memengaruhi dan mengubah sikap Eswaryadala. Ia tahu cara menghilangkan kebiasaan buruk sang raja. Bukan dengan cara kekerasan atau cara yang memaksa. Ia menggunakan cerita yang mengandung pesan moral untuk meluruskan kekeliruan yang dilakukan raja. Kisah-kisah yang menarik dan elegan merupakan senjata ampuh untuk memperbaiki perilaku raja yang salah jalan.
“Baginda, hamba punya cerita, namun cerita ini tak akan selesai diceritakan dalam semalam, sebab cerita ini diwahyukan ketika Sang Garuda menjadi kendaraan Batara Wisnu, di saat bumi masih kosong. Cerita hamba ini akan mengisahkan kekayaan seluruh ciptaan Batara Brahma, semua kehidupan makhluk hidup di masa lalu ketika semua berupaya membangun tata kramanya” (Sawitri, 2011:28).
Tokoh utama novel ini melakukan interaksi dengan sang raja (hubungan manusia dengan manusia lain), dengan tujuan meluruskan perilakunya yang membelok. Ini menjadi contoh bagi manusia zaman sekarang yang kerap melibatkan kekerasan setiap ada permasalahan dengan orang lain.
Sementara itu, “I Papaka” adalah kisah tentang seorang penduduk desa. I Papaka digambarkan sebagai orang yang gemar berburu di hutan. Suatu hari ia berburu seekor gajah, dan gajah itu lari terbirit-birit memasuki hutan. Kaki gajah yang besar membangunkan sang macan yang sedang tertidur. Macan itu marah dan menanyakan hal apa yang membuat gajah itu lari terbirit-birit. Gajah itu menyatakan bahwa dirinya sedang diburu manusia, yaitu I Papaka. Macan itu marah dan diam-diam mencari I Papaka yang sedang mencari ingin.
Dengan kaget I Papaka mendapati dirinya sedang diikuti macan yang bernama Mong. Karena tahu dirinya akan diterkam, ia berbalik melarikan diri dari kejaran sang macan. Tiba di sebatang pohon, I Papaka berjumpa dengan seekor kera hitam bernama Wanari Siati yang membantunya meloloskan diri dari kejaran macan. Dengan geram macan itu mengaum marah kepada kera. Hingga akhirnya, cerita lain mulai dihaturkan lagi dari sosok macan. Mong menceritakan kisah “Sri Adnya Dharmaswami”.
Dalam kisahnya, Sri Adnya Dharmaswami merupakan pandita yang sedang melakukan tirtayatra (perjalanan suci) ke tengah hutan. Suatu hari ia kehausan dan menemukan sebuah sumur. Kemudian terdengar buncah air bergema ditimpa timbah kayu. Ia pun menarik tali itu dan keheranan karena beratnya tidak sesuai perkiraan. Sampai di atas, ia tertegun karena di dalam timba itu terdapat tiga ekor binatang: kera, ular, dan macan yang terkena bencana karena terseret angin puting beliung sehingga menyebabkan mereka tercebur ke dalam sumur itu.
Selain ketiga binatang, juga terdapat manusia yang terkenal jahat. I Swarnangkara namanya. Ketiga hewan menyarankan agar Dharmaswami tidak menolong orang itu. Namun, ia tidak mengindahkan perkataan tiga binatang itu dan dengan lapang tetap membantu I Swarnangkara. Kisah ini menyisipkan pesan pawongan yang menjaga keharmonisan antara manusia dengan manusia lain.
“Bagaimanakah diriku ini, binatang-binatang kuselamatkan, manusianya tidak? Binatang saja membuktikan mereka punya rasa terima kasih, apalagi manusia? Sebagai pandita, aku harus meniru perilaku Sang Surya, yang tak pernah ingkar menyinari jagat raya. Harum ataukah busuk isi dunia ini, sama sajalah di mata Sang Surya, semuanya mendapatkan sinarnya secara adil. Sebagai pandita aku tidak boleh membeda-bedakan” (Sawitri, 2011:170).
Bhagawan Dharmaswami menunjukkan sikapnya yang ingin menjaga hubungan harmonis manusia dengan manusia lain. Selain itu, menjaga keharmonisan dengan makhluk hidup lainnya juga perlu dilakukan karena mereka juga bagian dari jagat raya. Dalam tri hita karana, menjaga keharmonisan manusia dengan manusia lain merupakan ajaran Hindu di Bali.
Bhagawan Dharmaswami menghargai sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, mengakuinya, serta menghormati keberhasilan orang lain. Dalam Tantri, nilai menghargai prestasi dilakukan oleh Mpu Danghyang Wedi. Mpu Danghyang Wedi mengakui bahwa ia tidak mampu mengobati putra Raja Madurawati. Ia mengakui bahwa yang mampu menghilangkan bisa di kaki putra Raja Madurawati adalah Bhagawan Dharmaswami.
“Baginda, bukti itu siapa yang membawa? Baginda tidak hati-hati memutuskan perkara, walau itu putra sendiri, seharusnya Baginda memanggil Bhagawan Dharmaswami, mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu, tidak dengan amarah memutuskan perkara! Kini bila Baginda ingin putra Baginda sembuh, hidup sebagai sediakala, Baginda harus meminta maaf kepada Bhagawan Dharmaswami sebab racun yang digunakan oleh Wiala Sandi adalah racun yang diberkati oleh Bhagawan Dharmaswami. Tak akan ada yang bisa mengobati kecuali mantra dari beliau …” (Sawitri, 2011:185—186).
Kita bisa melihat bagaimana hubungan baik antara Mpu Danghyang dengan Raja Madurawati. Mengakui kesalahan tidak akan membuat masalah semakin runyam. Hal ini pula yang menimbulkan ikatan harmonis antara manusia dengan manusia lain.
Beralih pada kisah “Sri Maharaja Singha” yang hampir mati karena luka akibat kekalahan dalam pertarungan melawan seekor gajah yang hendak diburunya. Luka yang didapati Sri Maharaja Singha begitu parah sehingga dalam perjalanan kembali ke istananya, darah tak henti mengucur walau sudah dijilat berkali-kali. Berita itu segera tersebar ke seluruh penjuru hutan, membuat berbagai binatang datang silih berganti untuk menunjukkan sikap keprihatinan mereka terhadap Sri Maharaja Singha.
Setelah semua binatang pergi, datanglah seekor gagak, anjing, dan kijang yang dikenal dekat dengan Sang Singha. Dengan penuh iba, burung gagak mengajak kijang dan anjing berburu untuk mempersembahkan makanan kepada junjungan mereka. Namun, nyali keduanya tidak setangguh gagak. Dengan gagahnya gagak berkata:
“Inilah tata krama jika punya sahabat yang terkena musibah, pertama, jika sahabatmu mendapat serangan musuh, sebagai sahabat, patut dibela dengan sikap perwira. Kedua, jika sahabatmu ada kesulitan, sebagai sahabat bantulah mencarikan jalan keluar. Kedua hal itu akan tampak jika dalam duka, di situ, dalam duka teruji persahabatan itu, di situlah kita saling tolong menolong” (Sawitri, 2011:151—152).
Dari khotbah gagak dapat dipetik pesan moral tentang pentingnya sikap saling menjaga. Hal ini selaras dengan ajaran tri hita karana yang memberi ajaran tentang menjaga keharmonisan antarmanusia. Meskipun digambarkan sebagai sosok hewan, cerita Tantri sebenarnya ditujukan untuk menyadarkan Raja Negeri Patali Nagartum. Ketika berkisah, Tantri berusaha setenang mungkin dalam menyampaikannya.
“Duhai, junjungan hamba, alangkah kasihannya burung gagak. Ia mati tak akan berguna jika paduka mencabiknya. Tubuhnya lebih banyak bulu, dagingnya habis dipergunakan untuk bicara. Sebaiknya, hamba sajalah yang baginda santap, badan hamba lebih gemuk. Hamba rela demi kesembuhan baginda, agar si gagak mengerti bahwa hamba memahami apa yang dirisaukannya!” (Sawitri, 2011:259)
Perhatian sang kijang terhadap raja menujukkan bahwa ia lebih mementingkan harmoni dirinya dengan hewan lainnya. Hal ini sesuai ajaran tri hita karana tentang pawongan yang mengajarkan tolong-menolong antarsesama. Begitulah cerita Sambada kepada Candapinggala tentang apa yang dikeluhkan sang Nandaka. Candapinggala tampak tercenung, memejam matanya.
Palemahan
Palemahan merupakan hubungan manusia dengan lingkungannya. Bencana alam yang terjadi sebenarnya disebabkan ulah manusia itu sendiri. Kita hendaknya tetap menjaga kelestarian alam agar tidak terjadi bencana. Kita harus menjaga kebersihan alam dan tidak boleh menguras isi alam. Kita sebagai manusia hendaknya dapat membedakan mana yang mesti dilakukan dan mana yang tidak patut untuk dilakukan. Agar Tuhan tidak murka, kita harus menjaga ciptaan-Nya dengan baik (Padet & Krishna, 2018).
Peduli alam sekitar adalah tindakan untuk mencegah kerusakan lingkungan dengan berupaya untuk memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi. Sebagai raja di Negeri Patali Nagatum, Eswaryadala selalu berpikir untuk kesejahteraan rakyat dan peduli pada lingkungannya.
“Hm … memang seharusnya ada jalan-jalan aman untuk menuju ibu kota. Tahukah kamu, banyak desa-desa terpencil di Patali ini yang masih sulit dijangkau,” Eswaryadala tampak mengerutkan dahinya, pikirannya menerawang. “Kamu tahu beberapa punggawa kita, tidak becus mengurus pekerjaannya! Tak banyak kemajuan yang mereka perbuat!” (Sawitri, 2011:36)
Kisah seorang begawan yang melakukan perjalanan ini mampu mebuat Eswaryadala sadar akan pentingnya merawat harmoni dengan alam sekitar. Setiap orang harus memiliki kepedulian pada lingkungan di manapun ia berada seperti Bhagawan Dharmaswami yang dikisahkan Tantri. Ini menjadi satire untuk sang raja.
Adapun bab “Macan yang Dihidupkan Sang Pandita” dikisahkan seekor kera hitam bernama Wanari Siati yang membantu I Papaka melarikan diri dari kejaran Mong sang macan. Alkisah, seorang pandita bernama Dang Hyang Manawa suatu hari berjalan-jalan di hutan dan dikagetkan oleh apa yang ia lihat. Ada bangkai seekor macan yang tergeletak di atas rerumputan. Dengan penuh perhatian Dang Hyang Manawa berkata, “Aih, sungguh kasihan kamu macan, dari bentuk dan kulit tubuhmu, kau masih demikian muda. Kenapa engkau mati? Mungkinkan engkau tergigit pagutan ular beracun? Atau diserang penyakit yang tak jelas obatnya?” (Sawitri, 2011:203).
Rasa iba Dang Hyang Manawa terhadap sesama makhluk hidup lainnya dapat dijadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana ia memperhatikan sesama makhluk ciptaan Tuhan. Tidak mendapatkan balasan yang setimpal atas kebaikannya, sang pandita malah diterkam oleh sang macan yang telah ditolong dari kematiannya. Moral utama kisah ini terletak pada sang pandita yang memiliki niat tulus untuk membantu sesama makhluk hidup. Palemahan mengajarkan manusia untuk saling menjaga ciptaan-Nya.
Cerita di atas sebenarnya menyindir Mong agar tahu berterima kasih. Namun, Mong tidak mau menerima saran Wanari. Maka, Wanari kembali menceritakan tentang seekor kepiting bernama Yuyu yang setia kawan, tahu utang budi, dan tahu cara berterima kasih.
Dengan senang Wanari membuka kisah tentang seekor kepiting yang hampir mati karena kemarau berkepanjangan. Kepiting itu bernama Yuyu yang kemudian ditolong seorang pandita baik hati. Kebaikan sang pandita menunjukkan watak perhatian terhadap sesama makhluk hidup.
Di suatu hari, pandita ingin mendirikan pondok. Ada seekor ular dan gagak yang memiliki niat buruk. Rencana keduanya diketahui Yuyu. Oleh karena itu, Yuyu mengelabui ular dan gagak dengan berlagak ingin membantu mereka membunuh sang pandita. Namun,
“I Yuyu dengan tenang merayap mendekati ular, mencapit dengan capit kirinya lalu mencapit leher gagak di sebelah kanannya. Dengan perlahan kedua binatang itu berjalan, agar si Yuyu tidak terjatuh. Saat kedua binatang itu hanya memperhatikan Sang Pandita, capit I Yuyu mencengkeram keras kedua leher binatang itu” (Sawitri, 2011:209—210).
Leher ular dan gagak putus. Perbuatan itu merupakan salah satu bentuk balas budi I Yuyu kepada Sang Pandita yang pernah menolongnya. Artinya, perbuatan baik kepada sesama makhluk ciptaan-Nya merupakan salah satu bentuk pelestarian alam.
Setelah puas menceritakan kisah “Yuyu yang Baik”, Wanari merasa lelah dan melihat situasi mulai aman karena Mong menjauh dari pohon. Tak lama setelah membaringkan tubuh, ia pun terlelap. Saat itulah Mong membujuk I Papaka untuk manjatuhkan Wanari yang tertidur lelap agar dimangsanya.
Mong mengelabui I Papaka bahwa sebenarnya Wanari adalah kera yang jahat. Ia membual bahwa Wanari adalah sosok kurang bersyukur. Mong memulai kisahnya dengan “Kisah Burung Sangsiah”. Sangsiah digambarkan sebagai burung yang rajin membangun sarang. Hingga suatu saat ada seekor kera yang menumpang berteduh karena terkena hujan lebat ketika mencari makanan. Dengan simpati, sangsiah menasihati kera tersebut. Namun, kera itu malah menentang dan dengan sombongnya mencela burung sangasiah.
“Heh! Burung bawel, sombong benar kamu menasihati aku. Kamu tahu, sejak dahulu tempatku memang selalu di atas, di pohon-pohon! Sejak dahulu, semua leluhurku telah menjadi abdi Batara Rama. Agar kamu tahu, kera-kera memiliki kekuatan yang sebanding dengan dewa-dewa. Kaumku bisa membangun jembatan untuk penyerbuan ke Alengka, coba lihat, sarangmu yang kamu sebut rumah, sekali cabik sudah koyak tak berguna” (Sawitri, 2011:215).
Sangsiah peduli terhadap kera. Ia dengan tulus menasihati kera agar membangun rumah untuknya sendiri. Namun, nasihat itu dianggap celaan oleh kera. Kesombongan kera merusak tatanan yang diajarkan tri hita karana, yakni palemahan. Tantri mengangkat kisah ini agar ada contoh yang bertentangan dengan ajaran tri hita karana dengan tujuan agar perilaku tersebut tidak dilakukan.
Karena cerita Mong, Papaka menjadi bingung. Kemudian, Mong ingin melanjutkan kisah kera berwatak buruk yang disayang manusia. Setelah mendengar cerita-cerita yang dijahit si Mong tentang kelakuan kera-kera yang suka jahil dan jahat, akhirnya ia benar-benar menjatuhkan Wanari, seekor kera hitam yang telah menyelamatkannya. Namun, dengan kesaktiannya, Wanari bisa menghindar dari terkaman sang macan. Dengan sabar ia tetap menoleransi kelakuan I Papaka. Dengan baik hati Wanari tidak marah kepada I Papaka. “Tenanglah, Papaka, kakak jatuh, bukan karena salahmu, itu disebabkan kakak tidur dengan gelisah. Ayolah, Si Macan sudah pergi, sebentar lagi malam akan menghalangi pandangan, lebih baik kuajak kau singgah ke rumahku” (Sawitri, 2011:250).
Betapa baiknya si Wanari yang ingin menjaga keharmonisan dengan I Papaka meski ingin mencelakainya. Sesampainya di rumah Wanari yang terletak di atas pohon beringin, I Papaka diperkenalkan kepada kedua anaknya yang masih kecil. Namun, I Papaka adalah manusia yang tidak tahu balas budi atas kebaikan dari kera hitam (Wanari).
Karena rasa lapar menghantuinya, I Papaka memiliki niat jahat, yaitu membakar anak-anak Wanari untuk dimakan. Lagi-lagi Wanari menunjukkan sifat sabar meskipun ia sedih karena anak-anaknya mati dan tersisa tulang-tulangnya saja. Demi menjaga harmoni dengan makhluk lain, Wanari berusaha tetap bersikap baik kepada I Papaka atau sesama makhluk hidup. Semua kisah I Papaka merupakan hasil jahitan Yudapane untuk menghibur istrinya yang kehilangan telur-telurnya. Kisah “Burung Tinil Mengalahkan Samudera” diakhiri oleh kembalinya telur-telur tinil yang sombong.
Sementara itu, “Kambing Menakuti Macan” merupakan kisah rekaan Patih Sambada kepada Sri Singha Adiprabu Candapinggala. Dengan wajah penuh tanda tanya, Tantri melanjutkan ceritanya melalui kisah rekaannya sendiri. Dengan tokoh rekaan, Patih Sambada mengawali kisah seekor induk kambing bernama Ni Maseba yang baru sembuh dari sakit. Ia teringat kaulnya saat masih sakit: Jika kelak sembuh, ia akan pergi jauh dari sarangnya. Ni Maseba memiliki putri bernama Ni Wiwingsali yang memiliki kehendak untuk turut dalam perjalanan ibunya untuk mewujudkan kaulnya.
Keduanya mulai memasuki hutan, tapi Ni Maseba tidak menurunkan tingkat kewaspadaannya. Benar saja, kedua kambing itu diintai seekor macan yang mengaku penguasa hutan itu. Namun, dengan cerdik Ni Maseba menggertak macan itu terlebih dahulu agar tidak memangsanya.
“Ah haiii! Kaukah ini Si Macan? Tentu saja kau tidak tahu aku dan anakku. Tidak akan tahu cerita mengenai aku. Sebab setiap macan yang kutemukan, langsung kumangsa. Hahaiiiii! Sudah empat macan kujadikan santapan selama perjalananku ke wilayahmu ini. Agar kamu tahu, bila aku menerkam macan sepertimu, badanku mengeluarkan api seperti letusan gunung melepas laharnya, semua bulumu akan hangus oleh apiku. Hahaiiiii! Kamu harus perhatikan baik-baik tandukku ini, yang bersemayang adalah Ida Sang Hyang Tiga, penguasa semesta, tidak pernah beliau meninggalkan tandukku ini. Tanduk ini dilapisi besi berani, tiada lain buatan Ida Sang Hyang Siwa. Karena itu, jika kamu ingin mencoba peruntungan, mari bertarung denganku! Hahaiii, siapa tahu kamu bisa menyentuh diriku sebelum akhirnya kumangsa. Hm. Apalagi kamu datang sendirian. Kamu boleh memilih, aku terkam atau kamu mematikan diri sendiri?” (Sawitri, 2011:267—269)
Berkat gertakaan Ni Maseba, si macan termakan apa yang disampaikan induk kambing itu. Ia lari terbirit-birit dan yang dipikirkannya hanyalah bagaimana menjauhi Ni Maseba dan Ni Wiwingsali. Secara logika seekor kambing adalah hewan yang hanya memakan rumput. Gertakan tersebut menyiratkan bahwa Ni Maseba ingin menjaga keseimbangan alam di sekitarnya. Hal ini selaras dengan palemahan yang merupakan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Adapun “I Gajah” merupakan kisah dari Sambada untuk memanas-manasi Nandaka. Dikisahkan seekor gajah yang memiliki watak sombong karena memiliki tubuh besar sehingga merusak pohon-pohon yang ada di Hutan Malawa. Ia bernama Durmuka Sandi. Dengan gadingnya ia menumbangkan apa saja.
“Sang Durmuka Sandi menjadi momok di Hutan Malawa, jeritannya selalu terdengar mengusik ketentraman, selalu ganas menerjang apa saja yang dirasa menghalanginya. Tak hanya pohon yang bersedih di Hutan Malawa. Kadal, kijang, rayap, katak, dan babi, hampir semua binatang pernah terkena amukan dan yang paling menderita adalah burung-burung, kehilangan sarangnya oleh ulah Durmuka Sandi” (Sawitri, 2011: 285).
Perilaku I Gajah tidak sesuai dengan ajaran tri hita karana mana pun. Namun, Tantri mengangkat kisah yang bertentangan dengan ajaran palemahan. Watak I Gajah malah menghadirkan sikap yang sebaliknya. Di akhir cerita ia mati karena dikeroyok beragam burung yang pernah ia ganggu. Semua fabel yang diceritakan Tantri mampu membuat sang raja berhenti berburu perawan.
Senarai Bacaan
Hermawan, I Made Surya dan Susilo, Herawati. (2018). Konsep Literasi Lingkungan Dalam Perspektif Budaya Tri Hita Karana Masyarakat Bali: Sebuah Kajian Literatur. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi, Malang: Juni 2018.
Lathifah, Restuti. (2015). Rekonstruksi Cok Sawitri dalam Novel Tantri Perempuan yang Bercerita terhadap Naskah Kidung Tantri Kediri Terjemahan Revo Arka Giri Soekatno: Kajian Intertekstualitas. (Skripsi Sarjana, Universitas Sebelas Maret). https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/51206
Lilik dan Mertasaya, I Komang. (2019). Esensi Tri Hita Karana Perspektif Pendidikan Agama Hindu. Jurnal Bawi Ayah, Volume 10, No. 2, Oktober 2019.
Mahardika, Reka Yuda dan Permana Indra. (2017). Pendekatan Moral dalam Hikayat Iskandar Dzulkarnain. Prosiding Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia SENABASA, Bandung: 2017. http://research-report.umm.ac.id/index.php/SENASBASA/index
Nugraha, Dipa. (2020). Moralitas, Keberterimaan, Pendidikan Karakter, HOTS, dan Kelayakan, Bahan dalam Pembelajaran Sastra. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Volume 5, No. 2, September 2020.
Nurgiyantoro, Burhan. (2019). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Padet, I Wayan dan Krishna, Ida Bagus Wika. (2018). Falsafah Hidup dalam Konsep Kosmologi Tri Hita Karana. Genta Hredaya, Volume 2, No. 2, September 2018.
Putra, I Nyoman Darma. (2012). Novel ‘Tantri’, Daur Ulang Untuk Pembentukan Karakter Bangsa. Jurnal Kajian Bali,Volume 2, No. 1, April 2012.
Sawitri, Cok. (2011). Tantri: Perempuan yang Bercerita. Jakarta: Kompas Media Nusantara
Wellek, Rene dan Warren, Austin. (2016). Teori Kesusastraan (Melani Budianta, penerjemah). Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. (Karya asli diterbitkan pada 1977).
Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Ikrar Izzul Haq


