Tak ada demokrasi di dapur; yang ada hanyalah kediktatoran. Aoy barangkali tak pernah sungguh-sungguh memikirkan kalimat itu. Bagi si gadis muda, memasak tak lebih dari rutinitas harian di warung sederhana milik keluarganya. Dengan wajah kuyu, dia ogah-ogahan menggoreng nasi dan kwetiau.
Namun, perubahan kerap bekerja sekonyong-konyong. Aoy tak lagi berdiri di balik kompornya yang kuno. Kini dia memasak di dapur elite, menyajikan hidangan mewah untuk orang-orang kaya. Di sana, ia bertemu Chef Paul, patron yang tak cuma mengubah hidupnya, tapi juga caranya memandang makanan.
Dalam film Hunger (2023) besutan Sitisiri Mongkolsiri, selain nasi goreng dan kwetiau, nyaris tak ada makanan yang terasa akrab—setidaknya bagi orang awam macam saya. Chef Paul dan timnya tak pernah memasak hidangan yang lazim. Masakan yang disajikan acap di luar nalar: sekerat daging dengan cipratan saus semerah darah atau lobster yang disusun di bebatuan—saya berani sumpah, sepiring pecel lele jauh lebih mengenyangkan. Akan tetapi, makanan mahal itu tampaknya memang tidak pernah diciptakan untuk membuat perut kenyang—ia punya fungsi yang lain.
We are what we eat, kata orang Barat. Adagium tersebut kini kerap diartikan sebagai korelasi antara kesehatan tubuh dan apa yang kita lahap. Namun, ia sesungguhnya punya makna yang lebih luas ketimbang perkara biologis semata-mata; sebuah ungkapan yang berakar pada pemikiran mendalam soal bagaimana makanan membentuk identitas individu, tentang siapa yang berhak menyantap kaviar dan siapa yang tidak—tentang mereka yang makan demi bertahan hidup dan mereka yang makan demi gaya hidup.
Pada perempat awal abad ke-19, Jean Anthelme Brillat-Savarin merumuskan refleksinya perihal makanan: “Beritahu aku apa yang kaumakan dan akan kuberitahu kau siapa dirimu.” Orang Prancis tersebut benar. Kelas seseorang dalam masyarakat acap kali terbaca dari hidangan di meja makannya. Oleh karena itu, makanan tak sekadar bahan bakar metabolisme tubuh. Ia juga bisa dibaca sebagai cermin sosial.
Refleksi sang gastronom menggema dalam Hunger. Menu rancangan Chef Paul tak pernah tampil sebagai seporsi nutrisi. Lebih jauh, ia menjadi ukuran seberapa berkelas seseorang. “Masakanku hanya untuk orang kaya,” kata Paul mantap—dogma yang ia genggam kuat sebagai juru masak profesional.
Oleh karena itu, sang koki tak kenal kompromi perihal masakan. Sebab, sajian yang lahir dari buah pikirnya merupakan simbol kejayaan. Di dapur, Paul bak seorang imam yang mesti ditaati. Alhasil, atmosfer ruang masak yang sudah panas kian membara hanya dengan kehadiran sosoknya. Tekstur, tingkat kematangan, komposisi, aroma, dan cita rasa kudu terukur demi memuaskan hasrat orang-orang yang lapar status sosial.
Hunger, judul film itu sendiri, jelas tak dipilih asal-asalan. Lapar merupakan insting alami yang bersemayam dalam tiap organisme. Bagi binatang, rasa lapar cuma berlangsung dalam ranah biologis—ia bisa gampang dipuaskan dengan makan sampai kenyang. Bahkan serigala yang rakus akan berhenti mencabik-cabik mangsa begitu lambungnya penuh. Namun, situasinya berbeda dengan manusia. Naluri tersebut, bagi spesies kita, jauh melampaui urusan ragawi.
Manusia punya sesuatu yang lain untuk diberi makan: ego—yang narsis dan menuntut pengakuan. Lebih-lebih pada zaman sekarang tatkala unggahan media sosial dan penampilan jadi tolok ukur kebahagiaan. Manusia kian butuh validasi satu sama lain. Sayangnya, sekalipun keinginan sudah tercapai, ego sering kali menuntut lebih—rasa lapar itu tak hilang jua.
Sebagaimana dorongan biologis lainnya, lapar sebenarnya punya fungsi evolusioner. Naluri internal itu memungkinkan suatu makhluk untuk, bagaimanapun caranya, bertahan hidup. Kawanan zebra, misalnya, rela menempuh ribuan mil, menyeberangi sungai penuh buaya, demi padang rumput hijau nun jauh di sana. Lapar memungkinkan satu individu untuk mengerahkan segenap kemampuan diri.
Begitu pula manusia. Rasa lapar sanggup mendorong orang terus berusaha. Bukan demi urusan perut semata-mata, melainkan juga demi kehendak lainnya. Akan tetapi, dorongan tak terkendali kerap membutakan dan bikin orang lupa diri—mengingatkan kita semua pada slogan iklan lawas: Elu bukan elu pas lagi laper. Benar, karena lapar mengubah orang. Tatkala kehilangan ukuran, ia bisa menuntun kita ke perangai paling menjijikkan: serakah.
Itulah mengapa kata hunger bersinggungan dengan desire, crave, dan longing—kata yang lekat dengan hasrat menggebu akan sesuatu. Dalam bahasa kita, ia juga dekat dengan nafsu dan syahwat. Mulut, dalam mitologi dan simbolisme, juga kerap diasosiasikan dengan liang menganga yang tak pernah benar-benar bisa ditutup—lubang yang terus menuntut persembahan.
Kendali terhadap rasa lapar pun menjelma isyarat kontrol diri. Sebab, sifat tamak kerap tercermin dari mulut yang tak kenal kata cukup. Agaknya, begitulah ritus asketis kerap menekankan pentingnya menahan lapar dan haus demi menjauhkan diri dari sifat-sifat yang kebablasan agar dapat menggapai kesejatian hidup.
Dan barangkali begitulah praktik puasa lahir di berbagai budaya dunia. Dalam tradisi Islam, contohnya, puasa tak cuma perkara menahan lapar dan haus seharian, tapi juga mengekang nafsu-nafsi lainnya. “Berapa banyak orang yang berpuasa, tapi tak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga?” sabda Nabi Muhammad—mengingatkan umat muslim akan esensi laku tersebut.
Sementara itu, kitab suci Nasrani mencatat bahwa Yesus berpuasa di padang gurun selama empat puluh hari. Tatkala lapar melanda dan dahaga kian mendera, Iblis menggodanya. “Engkau Anak Allah, bukan? Nah, suruhlah batu-batu ini menjadi roti,” bisik Iblis. Makhluk itu bahkan menawarkan kekuasaan asal Yesus sudi menyembahnya. Namun, sang Nabi menjawab degan tegas, ”Enyahlah!” Kisah tersebut mengajarkan kita bahwa bukan lapar yang berbahaya, melainkan apa yang kita ingin peroleh dari dorongan itu.
Kita tahu, baik Muhammad maupun Yesus tak lahir di istana. Keduanya kelak mencoba melawan ketimpangan di zamannya. Dalam kerangka pikir seperti itu, selain laku spiritual, puasa juga dapat dibaca sebagai wujud protes terhadap ketidakadilan—terhadap elite politik dan kaum kaya zalim yang bertindak kelewatan. Logika serupa, saya pikir, juga bersemayam dalam aksi yang lazim dilakukan demonstran masa kini: mogok makan.
Tatkala suara tak lagi didengar, tubuh pun menjadi satu-satunya medium yang tersisa untuk menyatakan penolakan atas sebuah sistem yang rakus. Dapur elite di film Hunger bisa dibaca sebagai alegori sistem seperti itu—yang dibangun di atas rasa lapar. Tatanan sosial-ekonomi yang dirancang demi memuaskan hasrat golongan yang terus-terusan merasa kurang adalah mimpi buruk bagi kelas pekerja—ia lekat dengan penindasan dan penyerahan diri yang nyaris total.
Situasi macam itulah yang dialami Aoy dan rekan-rekan timnya. Mereka memasak sajian mahal tanpa bisa—atau pantas—menyantapnya; menciptakan kemewahan yang mungkin tak bakal mereka rasakan sendiri seumur hidup. Barangkali, kru dapur elite tersebut adalah kita—orang-orang yang bekerja demi memuaskan hasrat kaum yang dalam kamus mereka tak ada kata kenyang. Tidak mustahil jika kelak rasa lapar yang sama menggerogoti dan menuntun kita ke liang keserakahan.
Seperti Aoy yang menyadari kalau lambat laun dirinya dilahap rasa laparnya sendiri, kita pun mesti tahu kapan waktunya berhenti, bahkan sebelum kenyang. Sebab, naluri itu mungkin tak akan pernah sungguh-sungguh bisa dipuaskan—karena itulah ia dipuasakan. Barangkali dunia tak pernah kekurangan hidangan, kitalah yang tak kunjung merasa cukup.
Asief Abdi adalah seorang naturalis yang menulis buku Hikayat Mitobotani (2025).
Editor: Royyan Julian
Foto: Sasti Gotama



