dari tubuh ke tafsir
Esai Budaya

Dari Tubuh ke Tafsir

Sejujurnya, nama Ignas Kleden pertama kali saya dengar dari Ayu Utami. Dalam pergulatan saya dengan program Peta Sastra Kebangsaan, Ayu menyebut bahwa Ignas membuatnya melihat sejarah sastra sebagai sejarah intelektual, terutama dalam buku Fragmen Sejarah Intelektual: Beberapa Profil Indonesia Merdeka (Buku Obor, 2020) dan Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan (Pustaka Utama Grafiti).

Kala itu, Ayu tak sekadar menyanjung, tapi juga mengkritik tulisan-tulisan Ignas dengan berkata, “Sayangnya tulisan tersebut tidak ditulis untuk anak SMA.” Bocah SMA yang disebut Ayu merujuk pada murid-murid di kelas 11 dan 12 Bahasa Indonesia Lanjutan yang saya ajar di SMA Asisi Jakarta, tempat saya “menguji coba” metode Peta Sastra Kebangsaan tersebut dalam satu semester penuh.

Saya penasaran dan langsung memburu buku-buku Ignas Kleden. Lewat toko online, saya hanya menemukan dua buku Ignas (yang tak disebut Ayu di atas), yakni: Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan (LP3ES, 1987) dan Menulis Politik: Indonesia Sebagai Utopia (Kompas, 2001). Seperti biasa, alih-alih langsung membacanya, saya menunggu momen yang tepat.

Momentum itu datang ketika Komunitas Salihara mengajak khalayak untuk membaca kembali karya-karya Ignas dan menulis esai kajian sebagai bahan presentasi dalam Literature and Ideas Festival (LIFEs). Saya melihat agenda besar tersebut sebagai peluang untuk menyudahi kemalasan saya dan mulai membaca pemikiran-pemikiran Ignas. Dan, ternyata itu tidak mudah.

Tafsir Spiritualitas dan Tubuh yang Dibungkam

“… kesenian dan setiap ekspresi seni, pada dasarnya, adalah ekspresi pribadi seorang seniman, yang sangat personal sifatnya.”

Ignas menulis bahwa seni tumbuh dalam ruang pribadi. Namun, ruang privat tersebut bukan sekadar lokus soliter yang senyap, melainkan juga zona yang memungkinkan penghayatan mendalam atas makna—yang tak bisa dipaksakan dari luar, yang lahir dari pergulatan batin. “… tidak setiap orang bisa menyatakannya dengan artistik seperti yang dilakukan oleh Rendra ketika menghadapi … (tekanan politik dan ancaman penjara),” tutur Ignas mengomentari puisi “Sajak Rajawali” Rendra.

Sebagai seseorang yang besar dalam ruang religius, saya cukup akrab dengan struktur-struktur makna yang datang dari luar itu. Dari mimbar yang sakral, dari liturgi yang berulang, dari suara pendeta yang memberkati hidup orang lain, tapi tidak pada ekspresi, seksualitas, dan perkawinan transpuan. Tidak pula pada orientasi seksual remaja gay. Tak sekali pun nama mereka disebut dalam doa kecuali sebagai dosa.

Di titik tersebut saya merasa bahwa tafsir iman tak pernah netral. Ia selalu menjadikan tubuh sebagai medan. Seperti kata Ignas, tafsir budaya—termasuk agama—adalah proses interaksi antara norma dan perilaku. Kadang norma membentuk perilaku. Namun kadang pula, justru perilaku yang mengubah tafsir atas norma.

Maka saya ingin bertanya: bagaimana jika tubuh queer, dengan segala kesakitannya, bukanlah penyimpangan dari iman, melainkan sumber tafsir atas iman itu sendiri? Bagaimana kalau doa yang diucap mulut seorang transpuan di kamar kos yang pengap, atau air mata remaja laki-laki yang diam-diam menonton boy’s love di balik selimut, merupakan bentuk spiritualitas yang tak kalah otentik dibanding liturgi resmi?

Dalam esainya yang berjudul “Moral, Esai, dan Negara”, Ignas menyatakan dengan lugas bahwa agama adalah bagian kehidupan budaya. Saya melihat bahwa Ignas hendak menggeser agama dari ranah teologis yang kaku ke ranah sosial yang dinamis dan manusiawi. Bahwa sebagai bagian dari kebudayaan agama bukanlah alat pelestarian dogma, melainkan arena artikulasi makna; arena di mana hidup dimaknai melalui bahasa, simbol, dan praktik sosial. Sebab itu pula, lanjut Ignas, “mengatur urusan negara dengan pendekatan privat bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan … sebab wilayah privat diatur oleh kebudayaan sedangkan wilayah publik diatur oleh hukum.”

Dengan menjadikan agama sebagai bagian budaya, sejatinya Ignas hendak “membela kepentingan soal”, memihak kalangan yang dirugikan oleh posisi inequality, atau membuka kemungkinan bahwa iman bukanlah punya institusi agama saja, melainkan juga milik pengalaman personal. Sebuah pendekatan yang selaras dengan pemahaman dan hasil riset saya bahwa tubuh-tubuh queer yang menangis dalam doa diam-diam juga sedang menafsir ulang iman dengan bahasa yang mungkin tidak dipahami mimbar gereja tapi sebenarnya sangat dimengerti oleh kasih yang ilahiah.

Saya menyebut hal itu sebagai spiritualitas dari ruang yang retak. Retak, karena tak pernah utuh diakui. Namun, lewat retakan itu cahaya bisa masuk. Spiritualitas tersebut absen dalam kemegahan simbol, tapi terasa dalam kerentanan dan luka yang dialami sehari-hari. Dalam tubuh yang menahan diri agar tak bunuh diri, dalam mulut yang masih berani menyebut Tuhan meski sering kali ragu akan datang jawaban. Dari ruang-ruang seperti itulah, saya percaya, bahwa kritik harus dimulai.

Membaca Ignas Kleden dari ruang spiritual adalah cara untuk menggugat bahwa pengetahuan sejati lahir dari perenungan, dari kesanggupan melihat luka sebagai sumber makna. Dalam dunia di mana agama terlalu sering hadir sebagai suara yang menolak, mungkin sudah saatnya suara-suara yang ditolak itu berbicara. Bukan untuk membantah doktrin, melainkan untuk menunjukkan bahwa iman tidak melulu milik kelompok yang menganggap dirinya “normal”.

Cermin di Layar Ponsel

Siapa sejatinya yang disebut manusia? Apakah manusia adalah sebutan bagi yang laki-laki saja? Apakah ia adalah sebutan bagi mereka yang beriman saja? Apakah ia sebutan yang hanya berlaku bagi mereka yang telah berusia dewasa, tidak gila, dan tidak cacat? Atau, apa manusia hanyalah klaim bagi mereka yang heteroseksual?

Dalam tradisi Kristen, kembali mengacu pada tulisan Ignas, ada teologi yang mengakar kuat bahwa tiap orang diciptakan seturut citra Allah (homo imago Dei). Dalam pemahaman tersebut, Ignas menjelaskan bahwa citra ilahi dalam diri manusia bukan lantaran manusia memiliki keutamaan moral yang adiluhung, melainkan hakikat pemberian Tuhan yang melekat pada diri manusia sejak ia diciptakan atau dilahirkan. Bahkan, jika seseorang adalah pencuri, pembunuh, pekerja seks komersial, ateis, komunis, bahkan kelompok LGBTIQA+, citra kudus itu tetap melekat.

Namun, kembali ke penyampaian Ignas, seiring proses sekulerisasi panjang di Barat, konsep imago Dei pelan-pelan hilang gaungnya. Ia digantikan gagasan “martabat manusia”, yang kemudian menjadi fondasi moral dan yuridis bagi hak asasi manusia. Sebuah nilai yang tadinya privat, milik tradisi iman, kini jadi nilai publik dalam masyarakat.

Saya percaya bahwa tubuh queer juga adalah citraan Allah yang memiliki harkat dan martabat sebagai manusia. Sekalipun tidak mesti diakui di atas mimbar gereja dan tidak selalu disambut oleh bahasa-bahasa hukum negara, tubuh-tubuh tersebut tetap hadir dengan nilai yang tidak bisa dibatalkan. Di dunia yang mengasingkan tubuh-tubuh queer yang cair, layar ponsel pun kadang menjadi satu-satunya cermin yang mampu mengonfirmasi bahwa tubuh tersebut ada dan patut dicintai.

Budaya populer memang tidak pernah netral. Ia adalah ruang gado-gado antara representasi, pasar, kuasa negara, dan fantasi kolektif. Akan tetapi, justru karena sifatnya yang cair itulah ia mampu memfasilitasi negosiasi yang mustahil dilakukan di ruang resmi. Dalam film Love Sick, misalnya, cinta sesama jenis tidak dijustifikasi sebagai ideologi, tapi dirasakan sebagai laku hidup: gugup, rindu, takut, cemburu, tertawa, dan patah hati.

Queer menjadi estetika di jagat budaya pop. Tapi ia tak selalu steril dari politik. Ia menciptakan peluang untuk mengalami bentuk keberbedaan, bahkan ketika belum ada kata untuk menyebutnya. Inilah yang saya sebut “politik emosi queer“, perlawanan yang tidak melulu melalui slogan, tapi melalui empati.

Dalam terang pemikiran Ignas Kleden, budaya populer ialah teks yang layak dibaca serius. Ia tidak selalu hadir sebagai karya agung, tapi kadang merepresentasikan kegelisahan zaman. Jika kritik sastra merupakan cara menimbang bobot suatu teks terhadap kehidupan, maka kritik budaya populer queer adalah upaya menimbang bobot rasa terhadap narasi mayoritas.

Budaya populer, sebagaimana ruang spiritual, bukan tempat suci. Di sanalah tubuh-tubuh queer mulai belajar mengenali dirinya. Walau bukan ruang bebas,  ia masih bisa jadi ruang bernapas. Dan dari sanalah, advokasi queer hari ini acap bermula.

Membaca Ulang Ignas dari Tubuh Pinggiran

Dari dua ruang yang saya telusuri (mimbar dan layar), tampak bahwa tubuh queer tidak sekadar mengalami, tapi juga turut menafsir. Di sinilah saya kembali kepada Ignas Kleden, yakni untuk membawa persoalan tersebut ke meja tafsir yang lebih terbuka. Maka, izinkan saya membaca Ignas dengan cara yang barangkali belum jamak: sebagai kawan diskusi bagi tubuh-tubuh yang lama disangkal validitasnya dalam produksi pengetahuan.

Satu pelajaran penting dari Ignas, yaitu kritik bukanlah hak istimewa, melainkan beban tanggung jawab moral. Ini berarti, siapa pun yang bersuara harus sadar konteks, risiko, dan dampaknya. Namun, bagaimana dengan mereka (atau kami) yang sejak awal tidak diberi hak bersuara? Apakah mereka (atau kami) tetap dianggap tidak pantas mengkritik hanya karena posisi yang marjinal? Di sini saya merasa perlu membalik pertanyaan itu: bukan apakah queer berhak menafsir Ignas, melainkan justru apa yang bisa Ignas pelajari dari tubuh queer?

Tubuh queer dalam konteks Indonesia bergerak dalam lanskap sosial yang rumit: spiritualitas yang mengekang sekaligus meneduhkan, budaya pop yang memamerkan sekaligus menutupi, dan negara yang mengatur sambil membungkam. Di tengah itu semua, tubuh queer tidak bisa hanya menjadi objek wacana. Ia harus menjadi pelaku epistemik. Saya percaya pemikiran Ignas tentang kritik, tentang keseriusan membaca, dan tentang tanggung jawab sosial dapat dikembangkan lebih jauh.

Misalnya, dalam konteks tafsir spiritual. Ignas menekankan pentingnya menyelami makna teks, bukan sekadar melafalkannya. Akan tetapi, bagaimana kalau yang hendak menafsir bukan hanya pembaca teks, melainkan tubuh yang menjadi teks itu sendiri? Seperti transpuan yang tetap berdoa meski ditolak. Mereka bukan sekadar memahami Alkitab, mereka hidup di dalamnya. Dalam penderitaan, dalam harapan, dan dalam hening yang tak terdengar dalam tafsir institusional.

Dengan demikian, saya percaya bahwa membaca ulang Ignas dari tubuh pinggiran tak sekadar memperluas medan tafsir, tetapi juga menyempurnakan semangat kritik. Kritik yang baik tak cuma menuntut kerangka metodologis, tapi juga keberanian untuk menggeser pusat agar yang selama ini bisu bisa bicara, agar yang selama ini dianggap objek bisa berdiri sebagai subjek pengetahuan.

Ignas membuka jalan. Namun jalan itu harus diperluas supaya bisa dilewati tubuh-tubuh yang selama ini dilarang masuk ruang baca. Di titik inilah saya merasa bahwa tubuh queer dan pemikiran Ignas bisa saling menafsir. Bukan untuk menyetujui, melainkan untuk saling “mengganggu” dengan kasih yang senantiasa Yesus ajarkan dalam doanya.


Stebby Julionatan adalah penulis, pengajar, dan bergiat di Alinea.

Editor: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *